Satu Orang, Dua Makam

Biografi, biografi, damien, santo

Jika Lazarus dua kali dimakamkan dan Yesus meninggalkan makam yang kosong, Bapa Damien memiliki dua makam sekaligus. Siapakah Bapa Damien, dan bagaimana ia bisa dimakamkan di dua tempat berbeda, bahkan berjauhan?

Dilahirkan pada tanggal 3 Januari 1840 dengan nama Jozef De Veuster, Bapa Damien adalah pendeta Katolik Roma. Pada tanggal 19 Maret 1864, Bapa Damien tiba di Honolulu, Hawai, dari Belgia. Ia menjadi misionaris menggantikan kakaknya, Auguste, yang tak bisa berangkat karena sakit. Setelah sembilan tahun melayani di Honolulu, ia menjawab panggilan untuk diutus ke salah satu pulau di kepulauan Hawai, yakni pulau Molokai.

Pada waktu Bapa Damien menginjakkan kaki di Kalaupapa, Molokai, pada bulan Mei 1873, pulau tersebut merupakan lokasi pengasingan bagi para penderita kusta. Di sana, ia menggembalakan mereka dengan kasih Tuhan, tak menaruh peduli pada cemoohan rekan-rekannya yang menganggap keputusannya sebagai kekonyolan dan “bunuh diri.” Bapa Damien bertekad mengembalikan harkat dan martabat para penduduk pulau itu sebagai manusia yang berharga di mata Tuhan.

Di bawah penggembalaannya, hukum ditegakkan, gubug-gubug diperbaiki menjadi rumah layak huni, pertanian digalakkan, dan sekolah-sekolah didirikan. Yang terutama, gereja dibangun dan misa diadakan bagi para penduduk Molokai. Ia memutuskan untuk tinggal di Molokai.

Di bulan Desember 1884 pada waktu bersiap untuk mandi, Bapa Damien tak sengaja mencelupkan kakinya ke dalam baskom berisi air panas hingga mengelupas. Namun, hal yang tak biasa terjadi. Bapa Damien sama sekali tak merasa sakit pada kakinya itu. Sadarlah ia, bahwa sekarang ia telah menjadi sama seperti orang-orang yang ia layani.

Tak banyak orang menyadari bagaimana ia mengubah salamnya di dalam kebaktian, dari “Saudara-saudara seiman” menjadi “Saudara-saudara penderita kusta.”

Tahu bahwa hidupnya tak lama lagi, Bapa Damien “mengebut” pelayanannya. Selain melanjutkan pelayanan amal, Bapa Damien berupaya menyelesaikan sebanyak mungkin proyek-proyek pembangunan, memperbesar panti asuhan, dan sebagainya.

Pelayan berhati Kristus ini meninggal oleh kusta pada tanggal 15 April 1889 di usia 49 tahun. Iapun dikebumikan di bawah pohon pandan, pohon yang pertama kali menjadi tempatnya beristirahat setibanya di Molokai.

Tahun 1935, pemerintah Belgia meminta agar jasad Bapa Damien yang ditetapkan sebagai pahlawan dikembalikan ke Belgia dan dimakamkan di sana. Jasad pahlawan kaum kusta Molokai itupun “terpaksa” diterbangkan ke Belgia. Namun, rakyat Molokai mengajukan permohonan kepada pemerintah Belgia, agar setidaknya, tangan kanan Bapa Damien dikirimkan kembali ke makamnya di Molokai.

Pada tahun 1995, tangan kanan Bapa Damien diterbangkan kembali ke Molokai untuk dikuburkan kembali di makamnya. Mengapa tangan kanan? Karena tangan itulah yang telah melayani dan menyentuh rakyat Molokai dengan kasih yang tulus. Kasih Kristus.