Yesus Mengamuk!

artikel, bait allah, yesus mengamuk

 

Beberapa hari sebelum hari raya di kota Yerusalem, sekitar tiga puluh tahun setelah permulaan penanggalan kita, Yesus, Guru Muda itu, membuat ulah, di tempat tak terduga pula!

Ya, mungkin ada sebagian yang sudah bisa menebak di mana, tapi bagi yang belum tahu, ontran-ontran itu terjadi di halaman Bait Suci, tempat di mana orang-orang seharusnya menjunjung tinggi ketenangan. Sungguh kurang ajar! Begitulah kira-kira yang terlintas di benak para pemuka agama yang melihat hal itu.

Wajar saja jika mereka merasa Yesus telah bertindak kurang ajar. Pertama, dalam usia tiga puluhan, Yesus tergolong “newbie” di bidang pengajaran kitab suci, alias orang baru. Nama Yesuspun baru mencuat tiga tahun belakangan setelah peristiwa perkawinan di sebuah kota kecil, di mana Ia—entah dengan kuasa dari mana—mengubah air menjadi anggur pilihan.

Tak cuma itu, Yesus juga bukanlah warga asli kota Yerusalem yang besar itu. Setahu mereka, Ia cuma pemuda dari kota kecil yang mengadu untung, mencari kesuksesan lewat ceramah agama. Ya, tentu saja mereka menutup mata soal begitu banyaknya mujizat yang telah dilakukan oleh Yesus di depan umum. Ya, namanya juga sirik tanda tak mampu, mau diberi seribu buktipun, mereka tetap akan menganggapnya rekayasa.

Dan, yang seringkali membuat mereka kesal, adalah sikap maupun perkataan Yesus yang mereka nilai tak mengormati agama dan tak tahu tata krama. Seandainya waktu itu diperbolehkan, mereka pasti sudah berdemonstrasi meminta Yesus meminta maaf atas pernyataan-pernyataan “super keras” yang sering diujarkanNya.  Apalagi, para pemuka agama yang terhormat itu justru paling sering disindir oleh Yesus sebagai orang-orang munafik. Sungguh menjengkelkan!

Dan hari itu, ketika semua orang melakukan aktivitas seperti biasa, tiba-tiba Yesus membuat geger dengan menjungkirbalikkan lapak-lapak pedagang dan penukar uang yang telah bertahun-tahun ada di halaman Bait Suci tanpa gangguan. Tak hanya itu, Ia juga mengusir semua pedagang itu sambil marah-marah, memperlakukan dan menyebut mereka bak penyamun. Dasar pembuat onar! Bisik para pemuka agama itu satu sama lain.

Meski begitu, tak ada seorangpun yang berani maju menghadapi ataupun memprotes tindakan Pemuda dari kampung itu. Walaupun agak merugi karena lapak-lapak yang dijungkirbalikkan, para pedagang itu memilih untuk diam atau menghindar dari sorot mata Yesus yang sedang marah itu. Sorot mata Pribadi yang muntab karena melihat ketidakadilan yang dibiarkan bertahun-tahun lamanya.

Ya, para pedagang itu sadar betul di dalam hati mereka, bahwa praktik kecurangan yang mereka lakukan di depan Bait Suci itu tak berkenan di hadapan Tuhan, meski mereka bekerjasama dengan para imam Bait Suci dan pemuka agama. Yang mereka pedulikan selama ini hanyalah laba dan laba. Mereka mengeruk untung dengan menguras kantung para peziarah yang datang beribadah di Bait Allah. Payahnya, karena bertahun-tahun dijalankan, praktik curang itu seolah-olah menjadi suatu kewajaran. Duh!

Para pemuka agama yang gondok banget dengan “kelakuan” Yesus hari itu juga tak bisa berkutik. Mereka tahu, rakyat dan para peziarah pasti sangat mendukung apa yang dilakukan oleh Pemuda dari kampung itu. Selama ini mereka tahu telah diperdaya, namun tak bisa berbuat apa-apa. Dan hari itu, ada Yesus yang memperjuangkan keadilan bagi mereka. Apalagi, tak ada yang pernah mendapati Yesus berbuat sesuatu yang tidak adil, licik, dan sebagainya, sehingga amarah-Nya pada waktu itu bisa dipastikan tak ditunggangi oleh kepentingan apapun, seperti pencitraan dan sebagainya.

Amarah Yesus bukanlah sembarang amarah, melainkan amarah yang berkeadilan. Artinya, Ia marah karena melihat ketidakadilan, bukan karena kepentingan-Nya dihambat atau dicegat di tengah jalan. Dan, marah yang seperti ini adalah marah yang legal, alias selaras dengan hukum dan konstitusi. Dan, bukankah tak ada seorangpun yang dapat melawan jika kita berada di pihak kebenaran dan keadilan?

 

 

Untuk direnungkan:

  1. “Lapak-lapak dosa” apa sajakah yang hingga saat ini masih menghuni lingkungan hidup ataupun tubuh kita yang adalah Bait Roh Kudus ini?  Segeralah “membongkar” lapak-lapak dosa itu sebelum Yesus datang dan menjungkirbalikkannya. Berdoalah, mohon pimpinan-Nya agar hari demi hari Ia “menginspeksi” hidup kita, sebagaimana doa pemazmur, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku y  serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mazmur 139:23-24).
  2. Adakah “lapak-lapak dosa” di sekelilingmu yang perlu untuk “dibongkar” karena tidak berkeadilan? Banyak cara untuk melakukannya, seperti mengingatkan, menulis surat pembaca, dan lain sebagainya. Berdoalah agar Roh Kudus menolongmu mengambil cara yang paling tepat untuk melakukannya.
Iklan