Yehu dan Yonadab

ahab, artikel, izebel, nabot, paulus, pelayanan, yehu, yeremia, yonadab

Kemudian nabi Elisa memanggil salah seorang dari rombongan nabi dan berkata kepadanya: “Ikatlah pinggangmu, bawalah buli-buli berisi minyak ini dan pergilah ke Ramot-Gilead. Apabila engkau sampai ke sana, carilah Yehu bin Yosafat bin Nimsi; masuklah, ajak dia bangkit dari tengah-tengah temannya dan bawalah dia ke ruang dalam. Kemudian ambillah buli-buli berisi minyak itu, lalu tuangkan isinya ke atas kepalanya dan katakan: Beginilah firman TUHAN: Telah Kuurapi engkau menjadi raja atas Israel! Sesudah itu bukalah pintu, larilah dan jangan berlambat-lambat.” Lalu nabi muda itu pergi ke Ramot-Gilead. Setelah ia sampai, maka tampaklah panglima-panglima tentara sedang duduk berkumpul. Lalu ia berkata: “Ada pesan kubawa untukmu, ya panglima!” Yehu bertanya: “Untuk siapa dari kami sekalian?” Jawabnya: “Untukmu, ya panglima!” Lalu bangkitlah Yehu dan masuk ke dalam rumah. Nabi muda itu menuang minyak ke atas kepala Yehu serta berkata kepadanya: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Telah Kuurapi engkau menjadi raja atas umat TUHAN, yaitu orang Israel. Maka engkau akan membunuh keluarga tuanmu Ahab dan dengan demikian Aku membalaskan kepada Izebel darah hamba-hamba-Ku, nabi-nabi itu, bahkan darah semua hamba TUHAN.

… Setelah pergi dari sana, bertemulah ia dengan Yonadab bin Rekhab yang datang menyongsong dia. Ia memberi salam kepadanya serta berkata: “Apakah hatimu jujur kepadaku seperti hatiku terhadap engkau?” Jawab Yonadab: “Ya!” “Jika ya, berilah tanganmu!” Maka diberinyalah tangannya, lalu Yehu mengajak dia naik ke sampingnya ke dalam kereta. Berkatalah Yehu: “Marilah bersama-sama aku, supaya engkau melihat bagaimana giatku untuk TUHAN.” Demikianlah Yehu membawa dia dalam keretanya (2Raj 9:1-7; 10:15-16).

yehu dan yonadab

yehu dan yonadab

Yehu adalah seorang panglima Israel yang hatinya masih setia kepada Tuhan di bawah pemerintahan Yoram bin Ahab yang juga melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, sama seperti ayahnya. Sebagai tambahan informasi, keturunan Ahab telah dikutuk Tuhan oleh karena mendengarkan perkataan Izebel sang permaisuri yang jahat. Salah satu “kasus” kejahatan mereka yang terkenal adalah permufakatan untuk menguasai kebun anggur Nabot.

Beberapa tahun setelah Ahab mati dan kedudukannya digantikan oleh putranya, Yoram, agaknya telah tiba masanya bagi Tuhan untuk melaksanakan apa yang telah ditetapkanNya terhadap keluarga Ahab. Yehupun beroleh karunia untuk melaksanakan ketetapan Tuhan itu, dan ia sungguh-sungguh melakukan apa yang diperintahkan Tuhan: membasmi semua keturunan dan “kroni” Ahab.

Salah satu yang menarik dari kisah sepak terjang Yehu adalah pertemuannya dengan Yonadab bin Rekhab. Yonadab sepertinya adalah salah satu dari imam Tuhan yang masih tersisa di masa itu. Dari pernyataan yang dilontarkan Yehu kepada Yonadab, bisa pula diambil kesimpulan bahwa mereka telah saling kenal dan bahkan boleh dibilang bersahabat. Yehu sendiri mengatakan bahwa hatinya jujur kepada Yonadab, dan ia bertanya apakah Yonadab memiliki sikap hati yang sama.

Dengan tegas, Yonadab menjawab Yehu, “Ya!” Kemudian, Yehupun mengajak Yonadab untuk naik ke dalam keretanya supaya menjadi saksi bagaimana Yehu bergiat diri bagi Tuhan.

Peristiwa ini mungkin nampaknya sederhana, namun jikalau Alkitab mencatatnya, pastilah ada sesuatu yang istimewa. Yehu bukanlah seorang lone ranger yang berjuang sendirian. Dalam “kesibukannya” melayani Tuhan, ia melakukan hal yang patut kita teladani: mencari rekan kerja yang sehati dan dapat dipercaya. Yehu tak keberatan untuk “berbagi kereta” dengan sahabatnya itu. Padahal, pelayanannya pada waktu itu boleh dikatakan sedang sangat bersinar.

Apa dampak dari keputusan Yehu mengajak Yonadab? Kita bisa merunutnya hingga zaman nabi Yeremia. Dalam kitab Yeremia pasal 35, dikisahkan bahwa Tuhan menunjukkan kepada Yeremia bagaimana keturunan Yonadab bin Rekhab sangat teguh memegang perintah yang diberikan nenek moyang mereka itu, yakni untuk menjauhi anggur dan tinggal di dalam kemah-kemah.

Perintah untuk menjauhi anggur dan minuman keras tersebut bahkan bisa kita lacak sampai kepada pada waktu pertama kali Harun, kakak Musa, dan keturunannya diangkat menjadi imam Israel. Pada waktu itu, Tuhan sendiri yang berfirman kepada Harun,

Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun… (Imamat 10:9).

Yonadab bin Rekhab menjadi saksi mata, bagaimana akhir dari keluarga Ahab yang tidak setia kepada Tuhan dan meremehkan tradisi yang baik yang bersumber dari firman Tuhan sendiri (dalam kasus kebun anggur Nabot, Ahab dan Izebel merampas tanah warisan keluarga yang tidak boleh dipindahtangankan dengan cara apapun). Yonadab pastilah tak ingin keturunannya berakhir tragis seperti kaum keturunan Ahab, sehingga dengan sungguh-sungguh ia menekankan ketaatan dan kesetiaan terhadap Tuhan kepada keturunannya.

Dan, Tuhan sangat menghargai kesetiaan dan ketaatan keturunan Yonadab bin Rekhab itu, sehingga melalui nabi Yeremia, Tuhan mengaruniakan janji berkat, bahwa keturunan Yonadab bin Rekhab takkan terputus melayani Dia sepanjang masa (Yeremia 35:19).

Di masa kini, kitapun bisa meneladani kisah persahabatan Yehu dan Yonadab tersebut. Betapapun sibuknya kita dalam melayani Tuhan, ingatlah selalu untuk memiliki partner yang sehati dan dapat dipercaya dalam melayaniNya. Siap sedialah untuk “berbagi kereta” dengan orang-orang seperti itu, karena mereka dapat menjadi “penjaga api pelayanan” yang kita lakukan. Melalui rasul Paulus, Tuhan menegaskan prinsip pelayanan a la Yehu dan Yonadab ini, “Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain” (2 Timotius 2:2). Dengan begitu, dunia takkan kekurangan orang-orang benar di hadapan Tuhan yang akan menuntun mereka kepada Kebenaran. Amin.

Iklan