Cinta Itu Sehidup, Bukan Semati

abraham, artikel, cinta sehidup semati, iman, ishak, lea, rahel, yakub

 

Salah satu kebiasaan di keluargaku pada akhir tahun adalah pergi ke “sareyan,” alias pemakaman leluhur keluarga kami. Jangan salah sangka, kami bukannya mau meminta berkah atau pesugihan, melainkan sekedar membersihkan makam. Biasanya sambil bersih-bersih makam, ayah atau ibu akan menjelaskan perihal nama-nama yang tercantum di makam. “Itu kakek buyutmu, kakeknya bapak,” lalu, “yang di sebelahnya itu nenek buyutmu,” dan seterusnya.

Biasanya mereka dimakamkan berdampingan dengan suami/istri mereka semasa hidupnya. Dan kalau tidak salah, itu hal yang sudah lazim di seluruh dunia. Bahkan ada tradisi di India, bahwa kalau sang suami mati, istrinya yang masih hidup juga harus menemani, alias ikut dikremasi (dibakar) bersama jenazah suaminya. Ngeri sekali!

Banyak orang suka dengan istilah “cinta sehidup-semati,” sampai-sampai ketika mati pun inginnya dimakamkan bersebelahan dengan makam orang yang disayanginya. Tapi ada sebuah fakta yang mengejutkan dari kisah kematian Yakub. Sebagaimana dikisahkan oleh Alkitab, “cinta mati”-nya Yakub adalah Rahel, anak Laban, sampai-sampai bekerja tujuh tahun demi mendapat Rahel pun dirasanya seperti beberapa hari saja. Itupun kena tipu pamannya sendiri, sampai-sampai ia mau untuk bekerja tujuh tahun lagi. Benar-benar cinta mati!

Namun yang mengherankan adalah, kitab Kejadian 49:29-33 menceritakan dengan gamblang, bagaimana Yakub berpesan agar jenazahnya dikuburkan di tanah makam yang dibeli Abraham di Kanaan (waktu itu, Yakub ada di Mesir). Di tanah itu telah dikuburkan jenazah Abraham dan Sara, Ishak dan Ribka, serta Lea, kakak Rahel sekaligus istri pertama Yakub yang tidak dicintainya sebesar cintanya kepada Rahel (ay.31-32). Rahel sendiri dikuburkan di Betlehem (Kej. 35:19-20), sedangkan semua orang tadi dikuburkan di Mamre.

Pertanyaannya, mengapa Yakub tidak meminta untuk dikuburkan bersebelahan dengan Rahel, kekasih hatinya itu? Tidak cintakah Yakub kepada Rahel? Tentu saja cinta! Sampai-sampai ia membuat tugu di atas makam Rahel. Tapi sepertinya, bagi Yakub, cinta itu “cuma” untuk orang yang hidup. Kira-kira sama seperti janji pernikahan, “…sampai maut memisahkan kita.”

Apa yang dilakukan Yakub itu sangat beralasan. Yesus sendiri, ketika ditanyakan tentang siapakah yang akan menjadi suami dari seorang perempuan yang menikah dengan tujuh bersaudara berturut-turut di akhirat, mengatakan bahwa “pada waktu kebangkitan orang tidak kawin ataupun dikawinkan, melainkan hidup seperti malaikat di sorga” (Mat. 22:30). Jadi, dengan kata lain, cinta itu “sehidup,” bukan “semati.”

Lagipula, sepertinya ada “pesan” atau “visi” yang ingin disampaikan Yakub lewat permintaannya untuk dikuburkan satu lokasi dengan kakek (Abraham) dan bapaknya (Ishak). Itu merupakan penegasan kepada keturunannya, bahwa Allahnya Abraham, Ishak, dan Yakub adalah Allah yang memegang janji-Nya, dan bahwa Yakub beserta kedua belas anaknya adalah juga bagian dari janji itu. Kelak, jika anak-anak Israel berziarah ke makam tersebut, mereka akan mengingat dan menghayati kasih setia Tuhan atas mereka.

Para “peziarah” itu (baca: Abraham-Ishak-Yakub) telah mendapatkan perhentian sebagaimana yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Beberapa ratus tahun kemudian, kita tahu bagaimana Allah memperkenalkan diri kepada Musa sebagai “Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.” Frasa “Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub” inilah yang dipakai oleh Yesus untuk menunjukkan bahwa Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.

Cinta. Kita sepertinya harus berhati-hati dengan kata ini. Tak jarang, rasa cinta yang “berlebihan” kepada seseorang membuat kita mengabaikan kepentingan orang banyak, bahkan mengabaikan kehendak Allah. Saya tidak tahu apa jadinya jika Yakub meminta untuk dikuburkan di samping makam wanita yang sangat dicintainya, mungkin Israel akan menjadi bangsa yang tidak solid, tercerai-berai. Yakub mungkin menyadari, bahwa keturunannya kelak lebih perlu melihat tanda iman dan janji Tuhan lewat makam tiga leluhur mereka (Abraham-Ishak-Yakub) daripada tanda cintanya kepada Rahel.

Ya, Abraham, Ishak, ataupun Yakub mungkin bukan teladan yang sempurna, namun pergumulan hidup bahkan kematian mereka menunjukkan kesempurnaan Allah yang tidak pernah salah memilih umat-Nya dan tidak pernah lalai terhadap janji-janji-Nya. Pemeliharaan-Nya berlangsung dari awal sampai akhir hidup mereka, dan itulah yang akan terus menjadi penguatan bagi generasi berikutnya untuk tetap beriman dan berharap kepada Allah yang sama: Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, Allahnya orang-orang yang hidup!

Bagaimana dengan kita? Sudahkah hidup kita mencerminkan Allah yang hidup itu, Allah yang bukan sekedar “dongeng nenek-nenek tua” itu? Pasti ada masa-masa kita jatuh, pergi menjauh, namun kesetiaan Allah itu tak pernah melepaskan kita begitu saja kan? Mereka bukan tokoh fiksi yang hebat tanpa cela, melainkan orang-orang biasa saja yang berjuang untuk taat kepada pimpinan Allah. Sesekali mereka juga jatuh, namun di akhir hidup mereka, mereka membuktikan kasih setia Tuhan yang menggenapi janji-janji-Nya.

Kiranya kita memiliki hidup yang seperti itu. Kiranya hidup (dan mati) kita merupakan cermin kuasa dan kasih Allah yang dahsyat itu. Dan kiranya generasi-generasi setelah kita kelak menziarahi makam kita dan mengingat betapa Allah itu nyata dalam hidup kita. Biarlah mereka melihat betapa kasih kita kepada Allah jauh melebihi rasa cinta kita kepada siapapun. Amin.

Iklan