Pengakuan Dosa: Awal “Revolusi Spiritual”

artikel, bertumbuh, dosa, evaluasi, hidup baru, kekristenan, maaf, perbuatan dosa

Apa yang terjadi seandainya Adam dan Hawa, begitu mereka sadar telah melanggar perintah Tuhan, buru-buru mencari Tuhan untuk mengaku dosa dan memohon pengampunan? Tentu saja kita hanya bisa berandai-andai, karena pada kenyataannya, pengaruh dosa itu begitu nyata dan kuat di dalam hidup kita. Begitu kuatnya kuasa dosa itu, sampai-sampai ia menjadi ironi: menumpulkan kepekaan hati kita akan perbuatan dosa itu sendiri.

Dosa membuat kita tidak menyadari keberadaannya, dan kalaupun ada tindakan-tindakan dosa yang kita sadari, dosa membuat kita meremehkannya. Dosa memberikan ilusi, bahwa kita pada dasarnya adalah orang-orang yang baik dan suci. Dosa secara konsisten mengirimkan sinyal-sinyal palsu kepada hati kita, bahwa kita baik-baik saja. All is well.

Dosa menguatkan sinyal kedagingan kita, dan sebaliknya, melemahkan sinyal kerohanian kita. Dosa mendorong hati kita untuk menolak Tuhan dan firman-Nya sebagai rujukan sikap yang utama. Raja yang paling dihormati di Israel, Daud bin Isai, pasti sangat menginsyafi hal ini.

Kejatuhan Daud dan Teguran Natan
Ketika ia berjalan-jalan di sotoh istana dan melihat kemolekan tubuh Batsyeba, dosa mendesak kuat dari dalam hatinya, membakar nafsu birahinya, dan memadamkan hasrat rohaninya. Kehendak Tuhan tiba-tiba tersamarkan oleh kehendak hatinya. Daud menginginkan tubuh Batsyeba, saat itu juga! Ya, Daud tidak pernah menginginkan Batsyeba. Sang raja nan perkasa hanya ingin menikmati kemolekan tubuhnya. Dosa menyimpangkan penilaian kita atas sesama menjadi sekadar objek, bukan subjek, sama seperti cara Daud memandang Batsyeba.

Dosa membuat kita ingin, sama seperti tawaran iblis kepada Hawa, menjadi seperti Tuhan. I did it my way, dendang Frank Sinatra. Jika beberapa waktu sebelumnya, Daud mengambil Abigail sebagai istri setelah Nabal mati dipukul Tuhan, maka dalam perkara Batsyeba yang ternyata mengandung janin hasil perselingkuhan mereka, Daud lah yang menyusun siasat, agar suami Batsyeba tewas di medan pertempuran. Merebut istri orang tentu akan membuat citranya hancur di mata rakyat, namun tidak jika ia memperistri janda dari almarhum Uria, bukan? Dosa “merangsang kreativitas” kita dalam merekayasa situasi atau kondisi agar nafsu kita terpenuhi. Dosa menjerumuskan kita ke dalam permainan “menjadi Tuhan.”

Namun terpujilah Tuhan yang takkan membiarkan umat-Nya jatuh tergeletak. Dia mengutus hamba-Nya, Natan, kepada sang raja yang menyangka dosa-dosanya tak diketahui liyan. Lewat sebuah kisah sederhana tentang seorang kaya yang mengambil domba tetangganya yang miskin untuk menjamu para tamu, sang nabi menggugah rasa keadilan Daud yang merasa baik-baik saja dengan dosa-dosanya itu. Amarah si pengambil istri dan perampas nyawa orang itu pun membuncah demi mendengar kisah ketidakadilan yang diberikan oleh nabi Natan.

Akan tetapi, betapa terkejutnya Daud pada waktu diberitahu, bahwa manusia tak tahu adab dan belas kasihan dan ingin ia hukum mati di dalam kisah itu adalah dirinya sendiri! Ia pastilah terduduk lemas ketika mengaku kepada sang nabi, “Aku telah berbuat dosa kepada Tuhan.” Sandiwaranya yang terjalin cukup rapi selama beberapa waktu itu kini terbongkar sudah oleh Natan. Syukurlah, di persimpangan jalan antara mengusir atau membunuh sang nabi agar tak lagi mendengar suara Tuhan dengan mengaku dosa, Daud mengambil jalan yang kedua. Jalan yang dikenan Tuhan. Jalan pertobatan.

Setelah mendapat peringatan yang sangat keras dari Tuhan dan menyadari keberdosaannya yang memprihatinkan itu, Daud menggubah sebuah mazmur pengakuan dosa, yang bisa kita baca di dalam Mazmur 51. Mazmur ini adalah sebuah puisi-lagu yang boleh dibilang istimewa, karena menggambarkan dengan jelas, bagaimana suasana hati sang raja ketika bergumul dengan dosa-dosanya. Erang dan tangis Daud di dalam Mazmur 51 ini sedikit banyak mewakili suara hati kita juga pada waktu menyadari dosa-dosa kita.

Kata Pemazmur Tentang Dosa
Bagi Daud yang telah bertobat, dosa itu seperti kotoran yang menempel di badan dan membuat tidak nyaman. Berkali-kali ia meminta Tuhan untuk membersihkan dosa dan pelanggarannya itu secara total dari hidupnya (ay. 3, 4, 11, 12). Tidak ada satu orang pun yang bisa membersihkan dirinya dari dosa, sekalipun hukum Taurat memerintahkan persembahan korban bakaran maupun korban sembelihan sebagai korban penebus salah. Daud memahami esensi dari perintah Taurat itu, yakni bahwa pertobatan haruslah mendahului pengorbanan (ay. 18-19). Itu sebabnya, ia memohon pentahiran dari Tuhan, satu-satunya pihak yang bisa membersihkan noda kesalahan manusia.

Di dalam Mazmur ini, kita juga bisa melihat dan mempelajari, bahwa dosa atau kesalahan yang kita lakukan terhadap sesama manusia, sesungguhnya kita melakukannya kepada Tuhan. “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat,” demikian tulisnya di ayat 6. Kita seringkali gagal melihat, bahwa kejahatan apapun yang kita perbuat terhadap sesama manusia, sesungguhnya kita sedang menjahati Tuhan juga. Tidak ada tindakan dosa yang sama sekali tidak berhubungan atau berurusan dengan Tuhan.

Ada lagi sesuatu tentang dosa yang bisa kita pelajari dari Mazmur ini. Sekalipun perbuatan dosa itu nampak “colorful”, alias penuh warna, pada kenyataannya justru sebaliknya. Daud begitu merindukan suasana kegirangan dan sukacita yang pernah ia rasakan pada waktu hubungannya masih “mesra” dengan Tuhan. Dosa itu meremukkan tulang-tulangnya. Membuat hidupnya senyap dan tak berwarna. “Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kau remukkan bersorak-sorak kembali!” (ay. 10).

Tidak ada satu jiwa pun yang benar-benar merasakan sukacita ketika sedang jauh dari Tuhan. Jauh dari Tuhan, Sang Pemberi warna kehidupan? Tentu bukan situasi yang menyenangkan, bukan? Bahkan Daud, sang pemazmur handal itupun lama tak berkarya dan memuji Tuhan sebagai akibat dari “jaga jarak” yang dilakukannya kepada Tuhan. Di ayat 17, ia meminta supaya Tuhan membuka bibirnya, supaya (kembali) memberitakan puji-pujian kepada Tuhan.

Tetapi bukan hanya “tidak menyenangkan,” hidup di dalam dosa itu mengerikan, karena Tuhan bisa murka dan membuang kita dari hadapan-Nya untuk selama-lamanya (ay. 13). Dan, siapakah yang sanggup terputus hubungan dari Allah yang Hidup? Tidak seorangpun.

Revolusi Spiritual
Itu sebabnya, Daud begitu “memaksa” Tuhan untuk mengampuninya dan mentahirkan hatinya, serta memperbarui batinnya dengan roh yang teguh. Bukan hanya “revolusi mental,” Daud meminta “revolusi spiritual” dari Allah.

Hanya melalui “revolusi spiritual” itulah, roh kita dibangkitkan kembali, sama seperti pertama kali kita menyadari keselamatan dari Tuhan dan bersukacita karenanya (ay. 14). Roh yang dibangkitkan kembali itu akan memampukan kita untuk senantiasa hidup bergirang karena Tuhan, rela memberitakan Injil keselamatan dan mengajak orang-orang berdosa untuk berbalik kepada Tuhan, dan mempersembahkan korban yang sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan (ay. 14, 15, 21).

Kejahatan manusia juga sesungguhnya berurusan dengan kerohanian, bukan sekadar persoalan mental. Seseorang bisa memiliki mental yang baik seperti raja Daud yang sangat geram mendengarkan kisah nabi Natan, akan tetapi pada masa-masa genting, ia bisa berkompromi dan bahkan merancangkan kejahatan. Kita harus direvolusi secara spiritual, yakni mempersilakan Tuhan bekerja untuk memperbarui roh kita, sehingga kita menjadi orang-orang yang taat terhadap firman-Nya. Ya, orang-orang yang telah mengalami revolusi spiritual dari Tuhan akan menjadikan firman Tuhan sebagai pijakan dalam melangkah, bukan kedagingannya sendiri.

Kiranya kita bisa meneladani kekasih Tuhan ini dalam menghadapi pergumulan dosa. Biarlah kita menjadi kekasih-kekasih Tuhan yang sanggup mengakui dengan jujur akan dosa dan pelanggaran kita, serta berbalik kepadaNya. Kiranya Tuhan sendiri yang merevolusi roh kita menjadi roh yang taat dan setia. Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s