It’s My Life

air kehidupan, artikel, cinta, kehendak bebas, kehendak mandiri


IT’S MY LIFE. Siapa yang tidak pernah mendengar ungkapan tersebut? Ini adalah hidupku, begitu artinya. Ungkapan ini bukan perkataan kosong. Yang tersirat di dalamnya adalah ketidaksediaan untuk diatur oleh siapapun kecuali diri sendiri. Ini hidupku, kamu jangan ikut campur, begitu kira-kira. Dan, seburuk apapun kelihatannya, semangat yang sama pasti (pernah) kita miliki juga. Kita tidak ingin orang lain datang lalu mendikte hidup kita. Karena kita ini manusia dengan kehendak mandiri, bukan robot yang bisa diperintah seenaknya oleh penciptanya.

Kehendak mandiri ini merupakan keunikan sekaligus kelebihan utama kita sebagai manusia. Dalam film berjudul “Bruce Almighty” dikisahkan tentang seseorang yang diberikan Tuhan kuasa untuk membuat mujizat seperti layaknya Tuhan sendiri. Ia kemudian memakai “kesaktian”nya itu untuk membuat berbagai mujizat demi merayu gadis yang disukainya, namun upaya-upayanya selalu gagal. Ketika ia mengeluh kepada Tuhan bahwa segala mujizat yang telah dikerjakannya ternyata tak berhasil membuat sang gadis menyukainya. Bruce mengeluhkan sulitnya “membuat seseorang mencintai tanpa melanggar kehendak mandiri,” dan Tuhan hanya menjawab, “Selamat datang di duniaku.”

Itulah kenyataannya. Kita tak bisa memaksa orang lain mencintai kita, karena cinta yang didasari paksaan sesungguhnya bukanlah cinta itu sendiri. Tuhan juga takkan memaksa kita untuk taat, karena sesungguhnya ketaatan yang dipaksakan adalah perbudakan–sesuatu yang bertolak belakang dengan desain kehendak mandiri yang dikaruniakanNya kepada tiap manusia. Ya, kehendak mandiri sesungguhnya merupakan karunia, namun seringkali manusia justru memakainya untuk berdosa terhadap Sang Pencipta. Bahkan sebagian orang, di dalam ketidaktahuan mereka, menyangkal keberadaan-Nya.

Baik melanggar perintah Tuhan maupun menyangkal keberadaan-Nya, kesemuanya itu sesungguhnya dilakukan manusia karena semangat “it’s my life” ini. Karunia untuk berkehendak mandiri ini pulalah yang dipergunakan iblis untuk menggoda manusia di Taman Eden. Mereka diiming-imingi bisa menjadi seperti Tuhan sendiri, menentukan apa yang baik dan mana yang jahat. Dan, hingga kini, semangat untuk mandiri dari standar nilai Ilahi itu masih lestari. Kita, manusia, masih hidup sesuka hati. Seorang ateis kenamaan pernah secara jujur berkata, bahwa ia menyangkal keberadaan Tuhan agar dapat menikmati kehidupan seks bebas tanpa perlu dibayang-bayangi perasaan berdosa.

Akan tetapi, kehendak mandiri kita tak pernah sendiri. Nurani yang juga dikaruniakanNya selalu mengikuti. Hukum-hukum Tuhan tak hanya terpahat di dua loh batu pada zaman Musa, melainkan juga di dalam hati setiap manusia. Dan, hanya kehendak mandiri yang mengikuti nurani, alias hukum-hukum Tuhanlah yang membawa kepenuhan di dalam hidup manusia. Bukan sebaliknya. Tindakan dosa yang menentang hukum-hukum Tuhan mungkin nampak nikmat pada mulanya, akan tetapi seperti meminum air laut sebagai pemuas dahaga, demikian pula dosa takkan pernah bisa memuaskan pelakunya, malahan menambah dahaganya dan membunuhnya.

Air Kehidupan: Cuma-cuma

Sesungguhnya, Tuhanlah sumber air kehidupan yang sejati, dan air ini disediakanNya dengan cuma-cuma bagi mereka yang mau datang kepadaNya. “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepadaKu dan minum!” demikian sabda-Nya pada suatu ketika. Ia tak begitu jahat sampai-sampai menyembunyikan rahasia memiliki hidup sejati dari manusia ciptaan-Nya, dan ia tak begitu kejam sampai-sampai memaksa kita datang kepadaNya.

Sebaliknya, layaknya seorang kekasih yang menantikan cinta yang muncul dari kehendak mandiri kekasihnya, demikianlah Tuhan menantikan kita untuk datang kepadaNya tanpa perlu dipaksa. Jadi, tunggu apa lagi? Arahkanlah kehendak mandiri kepada Air Kehidupan itu. Dan minumlah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s