Imunisasi

artikel, di manakah tuhan, imunisasi, jarum suntik, menderita, mengapa allah tidak peduli

Sebagai orang tua yang peduli dengan tumbuh-kembang anak, kami berinisiatif untuk mendaftarkan bayi kami ke dalam program imunisasi di Rumah Sakit tempat ia dilahirkan. Setelah tanggal yang ditentukan tiba, kamipun membawa putri kami tersebut ke Rumah Sakit untuk disuntik imunisasi. Suntikan yang pertama kali baginya.

Begitu jarum itu menembus ke dalam lengannya, Ayka–nama putri kami itu–langsung menangis kencang sekali. Bunyi tangisnya sangat berbeda dibandingkan pada waktu ia menangis karena lapar dan ingin menyusu. Dan, ya, hati saya terasa begitu sedih karena iba melihat darah daging saya itu menangis kesakitan akibat jarum suntik. Saya bahkan “mbrebes mili“, alias menitikkan air mata pada waktu itu.

Ayka menangis kesakitan saat diimunisasi

Akan tetapi di dalam momen itu pula, saya teringat mengenai hubungan Allah dan saya. Tak diragukan lagi, Dia sangat mengasihi saya, sampai-sampai mengutus Putra Tunggal-Nya untuk menebus saya dari utang dosa. Ya, saya baru menyadari mengenai luar biasanya kasih Allah ini setelah menjadi seorang ayah. Bagi saya, putri saya ini jauh lebih berharga daripada hidup saya sendiri. Nah, jika Allah tak segan mengutus Anak-Nya untuk mati bagi kita, maka itu hanya berarti satu hal: kasih-Nya kepada kita sungguh-amat-sangat-luar biasa-besar!

Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Roma 8:32)

Namun, kasih Allah itu bukanlah kasih yang “membius” kita. Kasih-Nya bukanlah kasih yang meniadakan penderitaan, sakit, atau bencana, dan memberikan apapun yang kita inginkan serta minta kepadaNya. Sebaliknya, kasih Allah adalah kasih yang peduli akan pertumbuhan dan perkembangan kita. Sama seperti kami mendaftarkan putri kami ke dalam program imunisasi sekalipun tahu bahwa ia akan “tersakiti,” demikian pulalah Allah, Bapa kita, “mendaftarkan” kita pada “program imunisasi ilahi.” Dengan demikian, kita terlatih untuk menghadapi berbagai “virus” yang membahayakan sepanjang perjalanan kita menuju kedewasaan penuh itu.

Mungkin saat ini kita mengalami masa-masa seperti putri kami ketika diimunisasi. Kita tidak memahami, mengapa hidup kita terasa begitu menderita. Kita tidak habis pikir, mengapa orang-orang di sekitar kita–dan mungkin yang kita sayangi–begitu tega menyakiti kita. Dan, kita bertanya-tanya, mengapa Allah sepertinya tidak mempedulikan kita. Kita merasa sakit, sedih, dan sendiri.

Akan tetapi yakinlah, bahwa sama seperti kami “dengan sengaja” membawa bayi kami ke Rumah Sakit untuk diimunisasi, demikian pulalah Tuhan sedang mengerjakan rancangan-Nya yang mulia dan kekal itu bagi hidup kita. Yakinlah pula, bahwa Dia tak pernah melepaskan pandangan-Nya atas kita. Karena di dalam kosakata Tuhan, tidak ada yang namanya kebetulan.

Dan saya percaya, akan ada waktunya kelak, kita melihat ke belakang dan bersyukur bahwa Allah pernah meletakkan kita dalam kondisi-kondisi yang saat ini tak kita mengerti ini. Entah besok, tahun depan, sepuluh tahun lagi, atau pada waktu kita berjumpa denganNya nanti.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s