Hosea, Nabi yang Apes (2)

artikel, cinderella, hachiko, Hosea, jodoh di tangan tuhan, pernikahan kudus

HoseaProphetAndGomerGSebagian besar kita memiliki impian tentang pasangan yang ideal untuk bersanding di pelaminan. Impian-impian tersebut biasanya merupakan gabungan dari konsep pernikahan yang berbahagia menurut masyarakat dan menurut diri kita sendiri. Ya, mayoritas pernikahan memiliki tujuan agar kedua mempelai berbahagia. Lagipula, bukankah sudah sewajarnya kita mengidamkan hidup yang berbahagia, termasuk pernikahan kita?

Akan tetapi, kita perlu sungguh-sungguh memikirkan tentang “kebahagiaan” ini. Apabila yang kita definisikan sebagai kebahagiaan pada dasarnya adalah menggapai semua yang kita inginkan dan terhindar dari penderitaan, maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Di manakah keutamaanku sebagai manusia, yang membedakanku dari binatang?”

Jika demikian, kebahagiaan seperti apakah yang semestinya kita idamkan? Setidaknya ada dua aspek yang membedakan kita dari makhluk hidup lainnya, yakni aspek transendensi dan kekekalan. Kitalah satu-satunya makhluk hidup yang memiliki kapasitas untuk menyembah sesuatu di luar diri kita. Inilah aspek transendensi. Hati kita selalu merindukan hubungan dengan “sesuatu yang lebih agung daripada diri kita”.

Lalu yang berikutnya adalah aspek kekekalan. Hanya kitalah makhluk hidup yang memiliki kesadaran akan waktu. Seekor ayam jantan mungkin saja berkokok tiap pagi, namun itu bukan ia lakukan setelah melihat weker. Hachiko si anjing setia itu mungkin setiap sore datang ke stasiun untuk menjemput tuannya yang tanpa ia ketahui telah meninggal, namun ia takkan gelisah menanti sambil memperhatikan jam di dinding. Hanya manusia seperti kitalah yang “sadar waktu”, dan sebagaimana dituliskan oleh Pengkhotbah, “Allah memberikan kekekalan di hati mereka…” demikianlah kita semestinya memperhatikan dimensi kekekalan.

Kebahagiaan yang paling tepat bagi kita, oleh karenanya, adalah kebahagiaan yang transenden dan kekal. Kebahagiaan yang hanya ada di dalam Tuhan. Selama kita menancapkan sauh kebahagiaan idaman kita kepada hal-hal di luar Tuhan, kita rentan dikecewakan. Hanya Tuhan lah yang dapat memberikan kebahagiaan yang transenden dan kekal. Dan, sama seperti sumber-sumber kebahagiaan di dunia menuntut kita untuk berjuang mendapatkannya, demikian pula sumber kebahagiaan Ilahi yang transenden dan kekal itu menuntut ketaatan, ketundukan, dan kesetiaan kita dalam mengerjakan kehendak Tuhan. No pain, no gain, istilahnya.

Nah, jika kebahagiaan duniawi adalah terpenuhinya kehendak kita, maka kebahagiaan surgawi adalah terpenuhinya kehendak Tuhan atas hidup kita. Sama seperti kita mewujudkan “kehendak” rambu lalu-lintas demi keselamatan dan kenyamanan kita di jalan raya, begitu pulalah kita harus mewujudkan kehendak Allah agar kehidupan kita sungguh-sungguh berbahagia.

Oleh karena pernikahan merupakan salah satu bagian di dalam hidup kita, maka pernikahan kita haruslah mewujudkan kehendak Allah, bukan sekedar mewujudkan impian-impian romantis kita tentang pernikahan ala Cinderella yang “berbahagia sampai selama-lamanya.” Untuk hal ini, barangkali tak ada contoh yang lebih tepat daripada kisah rumah tangga Hosea.

Tak seperti kebanyakan orang, Hosea tak menikah demi mewujudkan impian-impian pribadinya akan kehidupan yang lebih berbahagia. Bagi sang nabi, dan semestinya juga bagi yang dipanggil untuk menikah, pernikahan adalah salah satu langkah besar dalam menyatakan kehendak, kasih, kekudusan, dan kemuliaan Tuhan. Di dalam pernikahan kudus, kita mengejar kebahagiaan yang transenden dan kekal itu. Itu sebabnya, tak ada yang mengucapkan janji pernikahan untuk mencintai pasangan hanya di waktu sehat, kaya, dan bahagia saja. Janji pernikahan berlaku di setiap kondisi, sebagaimana janji Allah juga berlaku dalam tiap situasi.

Menarik untuk dicermati, bahwa untuk pernikahan Hosea yang notabene adalah nabi sekalipun, Allah tak memberikan nama dan alamat perempuan yang harus ia nikahi. Allah hanya memberikan prasyarat tipe wanita seperti apa yang harus dinikahinya. Hoseapun kemudian memilih untuk menikahi Gomer bin Diblaim.

Di dalam masyarakat kita, terdapat istilah “jodoh itu di tangan Tuhan.” Istilah ini ada benarnya, namun dalam artian bahwa ketika kita mencari calon pendamping hidup, kita haruslah memakai prasyarat Tuhan, bukan prasyarat kita sendiri. Di dalam kasus Hosea, Allah memang hendak memberikan pelajaran kepada bangsa Israel mengenai keagungan kasih setia-Nya kepada bangsa yang tegar tengkuk itu, sehingga Dia memerintahkan Hosea untuk menikahi pelacur.

Nah, bagaimana dengan hidupmu? Sudahkah kamu mengutamakan prasyarat Ilahi dalam menentukan pasangan hidupmu? Dan, pertanyaan yang perlu ditanyakan sebelum itu adalah, sudahkah kamu tahu apa “pesan” yang diletakkan Tuhan di dalam hidupmu untuk disampaikan kepada sekelilingmu? Dengan mengetahui visi dan beban yang diletakkan Tuhan di dalam hidup kita, kita akan lebih mudah untuk menentukan, apakah kita perlu menikah, atau dengan pribadi seperti apa kita sebaiknya membina rumah tangga.

(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s