Hosea, Nabi yang Apes (1)

artikel, bebet, bibit, bobot, Hosea, iman, lorong kehidupan, pelacur

HoseaProphetAndGomerG

Pada masa lalu, Tuhan berbicara kepada umat-Nya melalui perantaraan para nabi. Nabi-nabi tersebut tentu saja adalah manusia biasa sama seperti kita, hanya saja, mereka diberikan tugas spesifik oleh Sang Pencipta untuk menyampaikan isi hati-Nya.

Kebanyakan kita di masa kini mungkin akan menilai bahwa menjadi seorang nabi adalah sebuah keberuntungan. Tentu penilaian tersebut bukan tanpa alasan. Siapakah yang lebih beruntung dari orang yang bisa berkomunikasi langsung dengan Tuhan? Yang sudah pasti masuk surga, dan yang namanya tetap diingat sepanjang sejarah manusia?

Akan tetapi, jika ada nabi yang bisa dikatakan “apes”, mungkin Hosea adalah orangnya.

Bagaimana tidak? Tugas pertama yang tercatat dalam “buku harian”nya adalah menikahi seorang perempuan sundal untuk memperanakkan anak-anak sundal. Seorang nabi yang seharusnya memiliki gaya hidup suci mendapat perintah untuk menikahi pelacur? Apa kata dunia? Apakah Tuhan sedang bercanda? Ternyata tidak. Tuhan bersungguh-sungguh dengan perintah-Nya itu.

Dan memang, “apa kata dunia” tak masuk dalam pertimbangan Tuhan.

Hosea tentu berasal dari “keluarga baik-baik”, bahkan mungkin cukup terpandang karena kenabiannya. Di dalam tradisi Jawa, orang tua harus mengecek “bibit”, “bobot”, dan “bebet” dari calon menantu mereka. Hal yang cukup beralasan, karena “salah pilih” menantu bisa mempengaruhi kelangsungan kehormatan dan nama baik keluarga di masa-masa mendatang.

Sang nabi “apes” itu tentu memiliki pergumulan yang luar biasa hebat sebelum mengerjakan perintah Ilahi tersebut. Ia bahkan mungkin berharap seandainya saja ia menjadi “orang biasa”, bukan nabi. Seandainya saja, Tuhan tak memilihnya.

Bagaimana ia akan menjelaskan kepada kedua orang tua atau keluarga besarnya, atau orang-orang di kampungnya, mengenai perkawinan tersebut? Bahkan lebih daripada itu, bagaimana ia akan menjelaskan kepada dirinya sendiri tentang hal itu? Bagaimana ia akan bisa mencintai wanita yang meremehkan makna cinta itu sendiri? Dan, bagaimana ia harus mengantisipasi kemungkinan terburuk dari perkawinan itu, yakni diselingkuhi istrinya, mengingat sang istri tak menganggap tubuh, seks, dan cinta sebagai kesatuan tak terpisahkan?

Ah, sungguh sebuah pergumulan yang tak mudah!

Tapi toh, segala ketakutan dan bayang kekhawatiran itu pada akhirnya tak dapat mencegah Hosea untuk menaati pimpinan Tuhan. Hidupnya telah ia dedikasikan untuk mengerjakan kehendak Tuhan, apapun itu. Sekelam apapun lorong kehidupan yang diperintahkan Tuhan kepadanya untuk dijalani, ia akan maju. Itulah langkah iman.

Tentu saja, iman yang dibicarakan di sini bukanlah “kepercayaan buta” yang mengesampingkan logika. Iman justru mengedepankan logika. Semisal kita sedang berjalan-jalan di taman dan ada kursi kosong, kita tentu “beriman” bahwa kursi itu tidak muncul dengan sendirinya, juga bahwa kursi itu cukup aman untuk diduduki. Itulah iman, paduan harmonis dari pertimbangan-pertimbangan logis yang memberikan kita rasa aman ketika mengerjakan sesuatu.

Itulah iman, paduan harmonis dari pertimbangan-pertimbangan logis yang memberikan kita rasa aman ketika mengerjakan sesuatu

Tuhan Sang Sumber Ilmu Pengetahuan tentu juga takkan membiarkan umat-Nya mengerjakan perintah-perintah-Nya di luar nalar. Ketika Dia memerintahkan sesuatu untuk dilakukan, Dia akan memberikan pula alasan dan tujuannya. Kita menyebutnya “visi Ilahi”. Itulah pula yang diberikanNya kepada Hosea pada waktu Dia memerintahkan nabi itu menikahi perempuan sundal, alias pelacur. “Karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN,” demikian firman-Nya kepada Hosea.

Dengan kata lain, Tuhan tak hanya memerintahkan nabi-Nya itu untuk sekedar menyerukan firman-Nya. Tuhan tak sekedar ingin memakai mulut Hosea untuk menyampaikan isi hati-Nya, melainkan “biografi”nya juga. Seluruh hidupnya.

Kita tidak tahu mengapa Tuhan sampai merasa perlu untuk menyampaikan firman-Nya melalui “drama kehidupan” nabi Hosea yang tentu tak berlangsung singkat itu. Mungkin saja, Israel sudah sedemikian bebal, sampai-sampai perkataan nabi saja tak cukup membuat mereka berbalik kepadaNya dan mereka harus menyaksikan sendiri “peragaan” kasih Allah melalui kehidupan Hosea. Atau mungkin, sama seperti yang dilakukanNya kepada Yunus, Tuhan juga ingin memberikan pelajaran mengenai kasih kepada Hosea.

(bersambung)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s