Jalur Tuna Netra

artikel, jalur tuna netra, trotoar

Beberapa waktu lalu, saya bersepeda dari kantor ke Gedung Pos Ibukota Jakarta di daerah Lapangan Banteng. Karena jalur khusus sepeda belum tersedia (semoga segera dibuat) dan trotoar cukup lebar serta sepi pejalan kaki, sayapun memutuskan untuk bersepeda melintasi trotoar yang ada. Setelah beberapa saat melintasi trotoar dengan sepeda (dan beberapa kali sebelumnya sambil berjalan kaki), mata saya tertuju pada ubin-ubin berwarna kuning selebar lebih kurang 20 cm yang terpasang memanjang di tengah trotoar semen berwarna merah.

Dulu, saya pikir ubin-ubin kuning itu hanyalah pemanis saja, tidak lebih. Tetapi, salah satu babak siaran Kick Andy mengenai kendala kaum difabel di jalan raya terlintas di benak saya pada waktu itu. Saya baru ingat, bahwa ubin-ubin berwarna kuning itu sebenarnya berfungsi sebagai jalur tuna netra, yang membantu tuna netra yang berjalan menggunakan tongkat. Ubin-ubin kuning itu menolong para tuna netra untuk memastikan, bahwa mereka tetap berada di “jalan yang benar.” Ubin-ubin kuning itu membantu mereka terhindar dari risiko menabrak pagar, atau yang lebih parah, tertabrak kendaraan bermotor yang cukup sering melintasi jalan itu.

Dalam hidup kita, firman Tuhan bisa diibaratkan seperti jalur tuna netra tersebut. Layaknya seorang tuna netra, tak ada satupun di antara kita yang mampu melihat jalan kehidupan di depan (baca: masa depan). Dengan tongkat iman, kita mengikuti jalur yang telah disediakan Tuhan sepanjang perjalanan kehidupan, yakni firman-Nya yang kekal dan tak tergoyahkan. Selama langkah demi langkah yang kita jalani tetap berada di “ubin-ubin kuning” yang disediakan Sang Insinyur Kehidupan, kita dapat meyakini, bahwa selain tak tersesat, kita juga terhindar dari marabahaya.

Seorang penulis Kristen pernah mengungkapkan, bahwa seringkali kita meminta Tuhan untuk memberitahukan kehendak-Nya terhadap hidup kita di masa depan, tetapi lalai untuk menaati kehendak-kehendak-Nya bagi kita yang sudah diberitahukanNya dengan jelas melalui firman-Nya di dalam Alkitab. Ibaratnya, kita memintaNya untuk menunjukkan tujuan akhir perjalanan kita sebelum dijemputNya, namun lalai mengikuti jalur aman yang telah disediakanNya dan (seringkali memaksa) mengambil jalan sendiri. Lalu, ketika kita menabrak pagar atau tertabrak kendaraan, kita menyalahkan Dia karena kesalahan kita sendiri.

Sudahkah kita, sebagai “tuna netra” di jalan kehidupan ini, setia dan tekun mengikuti firman-Nya, langkah demi langkah? Masihkah kita setia menyelidiki kehendak-kehendak-Nya yang telah tertulis di dalam kitab suci, pagi demi pagi?

Atau jangan-jangan, kita menganggap kehendak Tuhan di dalam kitab suci itu sebagai “penghambat dalam menjelajahi kehidupan”?

Sebagaimana insinyur tak merancang jalur tuna netra itu untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kebaikan tuna netra yang akan menjalaninya, demikian pula Tuhan tak memberikan perintah dan larangan untuk keuntungan-Nya, melainkan untuk kebaikan kita, kaum tuna netra yang menjalani kehidupan ini. Karena kasih-Nya itulah, maka sejak memasuki Tanah Perjanjian, bangsa Israel diperintahkan Tuhan dengan sungguh-sungguh,

“… lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri. Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki” (Ulangan 5:32-33).

Selamat bertekun menapaki jalan kehidupan di dalam jalur yang telah disediakanNya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s