Yakub, Si Ambisius yang Salah Fokus

artikel, berkat, esau, ishak, israel, mestakung, rahel, sempurna, yakub, yusuf

Ada sebuah momen di dalam kehidupan Yakub bin Ishak, di mana segala sesuatu nampak sempurna bagi masa depannya. Ibunya yang sangat mengasihi si bungsu tersebut memanggilnya untuk sebuah tugas penting: menyamar sebagai Esau, kakaknya, dan membawakan makanan kesukaan ayahnya, kemudian menerima berkat dari Ishak yang telah rabun karena usia senja itu (Kej. 27:1-17). Sebuah peluang seumur hidup yang rasanya mubazir jika dilewatkan.

Pertama, ibunyalah yang berinisiatif, bukan dia. Ribka bahkan bersedia menanggung risiko seandainya penyamarannya terbongkar. Lalu, ayahnya sendiri tak bisa lagi melihat dengan jelas karena rabun matanya. Kakaknya, Esau, sedang pergi ke padang untuk berburu, jadi takkan ada yang dapat membongkar penyamarannya. Lagipula, bukankah Esau telah menjual hak kesulungannya dengan semangkuk sup kacang merah, beberapa waktu sebelumnya (Kej. 25:29-34)?

Dan, bukankah Tuhan telah pula berfirman semenjak kelahirannya dan Esau, bahwa ialah sebagai si bungsu, yang akan menjadi tuan atas kakaknya itu? Jika Ishak curiga dan penyamarannya terbongkar, ia bisa saja mengatakan bahwa ia “hanya” melakukan apa yang diperintahkan ibunya, dan bahkan lebih jauh lagi, iapun bisa mengelak dengan berkata bahwa ia “hanya” berusaha menggenapkan nubuat atau firman Tuhan!

Ketika semuanya nampak sempurna
Jika ada di masa kini, mungkin Yakub akan meminjam istilah profesor Yohanes Surya, “mestakung”, alias semesta mendukung, untuk kesempurnaan momen yang ia hadapi waktu itu. Namun, ada satu hal penting yang terlewatkan olehnya, sebuah pertanyaan yang semestinya ia pikirkan pertama kali: “Apakah Tuhan Allah mendukung tindakan ini?”

Dampak dari kelalaian Yakub untuk mempertanyakan perkenanan Tuhan atas perencanaan yang terlihat sempurna itu sangat menyedihkan. Ia harus melarikan diri ke negeri yang jauh, meninggalkan bapa yang hancur hati karena diperdaya putranya sendiri, ibu yang sangat ia kasihi dan mengasihinya begitu rupa, dan kakak yang dendamnya membara karena ia “curi” berkatnya, tanpa sedikitpun tersisa. Begitu banyak dukacita hanya karena ambisi yang salah fokus, ambisi yang berpusat pada kesuksesan pribadi, bukan restu Ilahi.

Kita mungkin pernah mengalami kondisi di mana segala sesuatu nampak begitu sempurna bagi masa depan kita, dan hanya membutuhkan satu langkah “nekat” untuk menggapainya. Dan, sama seperti Yakub, kita memiliki seribu satu alasan yang sangat kuat untuk melangkah, sehingga satu alasan “kecil” bahwa kita tahu betapa langkah nekat itu masuk dalam wilayah “abu-abu” dan kita ragu apakah Tuhan berkenan atasnya, rasanya tidak cukup kuat untuk membuat kita berhenti melangkah dan berbalik arah.

Bagaimana respon Anda, seandainya Anda adalah Bayu, seorang alumni Kristen yang bekerja sebagai Kepala Pengadaan Obat di sebuah Rumah Sakit ternama, yang hampir tiap kali melakukan pembelian atas nama kantornya ditanya oleh staf pemasaran perusahaan farmasi, ke rekening manakah uang diskon (karena pembelian dalam jumlah besar) harus ditransfer? Atau apa yang akan Anda lakukan jika berada di posisi Eko, seorang alumni Kristen yang dipercaya mengurus tender proyek perusahaan swasta tempatnya bekerja, dan rata-rata proposal yang masuk sudah dimarkup, disertai penawaran untuk “berbagi hasil”? Karena perusahaan swasta, Bayu dan Eko tentu takkan bermasalah dengan KPK atau tak perlu merasa bersalah karena “mencuri uang rakyat”, bukan? Namun, karena berfokus pada Tuhan, Sang Pemberi berkat, mereka memilih untuk tidak mengambil langkah “nekat” tersebut.

Ketika kebenaran dinomorduakan
Babak-babak kehidupan Yakub selanjutnya menunjukkan sikapnya yang menomorduakan kebenaran setelah kenyamanan pribadi. Meski ditipu oleh Laban yang memberikan Lea, bukan Rahel, sebagai istrinya, Yakub tetap bersikeras ingin mendapatkan gadis idamannya itu dan menambah masa kerjanya hingga tujuh tahun lagi. Hasilnya? Seorang suami dengan dua istri yang saling berebut perhatian, sampai-sampai memberikan pembantu-pembantu mereka menjadi gundik sang suami. Anak-anak yang dihasilkanpun bertumbuh dalam iklim kompetisi, di mana menjual adik mereka kepada pedagang budak merupakan puncaknya. Dan, sama seperti ia menipu ayahnya dengan jubah kakaknya, Yakubpun ditipu oleh anak-anaknya sendiri dengan jubah Yusuf (Kej. 29:15-30; 29:31-30:23; 37:31-34).

Yakub lebih memilih diam ketika mendapati dosa yang terjadi di depan matanya. Pada waktu Dina, putrinya, diperkosa oleh Sikhem, ia memilih diam. Sikap yang memancing kemarahan anak-anaknya yang lain, yang berujung pada pembunuhan dan penjarahan seluruh kota. Yakub malah memarahi anak-anaknya itu, bukan karena kejahatan mereka melawan kehendak Tuhan, melainkan karena tindakan mereka itu merisikokan seluruh kaum keluarganya (Kej. 34). Bahkan, pada waktu Ruben, anak sulungnya itu, berzinah dengan Bilha, gundiknya, Alkitab tidak mencatat respon apapun dari Yakub (Kej. 35:22).

Pemeliharaan Allah
Satu-satunya hal yang membuat Yakub dan kaum keluarganya survived adalah berkat Abraham yang ditumpangkan Ishak atasnya. Berbeda dengan ilah bangsa-bangsa lain, TUHAN yang memanggil Abraham, kakeknya, adalah Allah yang setia sekalipun umat-Nya tidak selalu bersetia kepadaNya. Kesetiaan Allah tidak bergantung pada kesetiaan manusia, melainkan pada karakter-Nya yang tidak berubah.

Oleh karena itulah, meskipun Yakub adalah seorang anak, adik, suami, dan bapak yang “payah”, Allah terus menopang hidupnya, hingga pada akhirnya melalui Yusuf, Yakub belajar untuk melihat rancangan Allah bagi bangsa-bangsa melalui dirinya dan anak-anaknya. Anak-anak Israel. Sama seperti Yusuf yang dipakai Allah untuk memelihara bukan hanya kaum keluarga Israel, melainkan juga seluruh penduduk negeri Mesir dan banyak bangsa lain, demikianlah Israel telah ditetapkan TUHAN untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

Hati yang berubah
Perubahan sikap hati Yakub tersebut nampak nyata ketika membisikkan wasiat terakhirnya sebelum meninggal. Meskipun Rahel adalah istri kesayangannya, ia tak ingin dikuburkan di samping pusara Rahel, melainkan berpesan agar jasadnya dikuburkan bersama-sama dengan Lea, berdampingan dengan kuburan Abraham dan Sara, serta Ishak dan Ribka (Kej. 49:29-32). Di makam Abraham, Ishak, dan Yakub, kita melihat TUHAN yang menyayangi bangsa-bangsa dan rindu memberkati mereka. Yakub bukan lagi pengejar berkat bagi diri sendiri, melainkan bagian dari rencana Ilahi untuk memberkati bangsa-bangsa di muka bumi.

Di dalam segala kuat-lemah dan jatuh-bangun kita, Dia adalah Allah yang senantiasa menyertai kita. Bukan karena kita layak disertai, namun karena Dia adalah Dia, Allah yang rencana penyelamatan-Nya tak bisa digoyahkan oleh siapapun juga. Steve Green menuliskannya dengan indah dalam lagu God and God Alone: “And all the best and worst of man won’t change the Master’s plan.” Pilihan ada di tangan masing-masing kita: apakah kita akan terus berkutat pada “my plans”, ataukah memfokuskan ambisi kita pada “Master’s plan”? Tuhan memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s