Menyikapi Teori Konspirasi

artikel, ester, konspirasi, teori konspirasi

Kalau mendengar istilah “teori konspirasi,” pikiran kita mungkin akan langsung mengacu pada hal-hal yang sifatnya misterius, rahasia, namun menarik untuk disimak. Salah satu plot paling menarik dari film-film Hollywood biasanya juga mengusung teori konspirasi ini. Penonton akan sangat terkesima ketika sang tokoh utama berhasil membongkar kepalsuan dari sebuah organisasi besar atau persekongkolan para petinggi negara dalam hal-hal tertentu.

Satu aspek positif yang kita bisa ambil dari ketertarikan kebanyakan orang terhadap pengungkapan-pengungkapan fakta yang disembunyikan oleh perusahaan besar ataupun petinggi-petinggi negara adalah bahwa hal itu menandakan insting manusia terhadap kebenaran yang sejati itu sesungguhnya masih ada. Lagipula, tidak ada seorangpun yang mau ditipu, bukan? Nah, dalam sisi-sisi pengungkapan “kejahatan tersembunyi” korporasi atau negara inilah, teori konspirasi harus diakui memiliki manfaat yang positif bagi masyarakat maupun kemanusiaan.

Konspirasi di dalam kitab Ester
Di dalam sejarah bangsa Yahudi, kisah yang menggambarkan teori konspirasi ini mungkin adalah kisah Ester. Di dalam kitab Ester, diceritakan bagaimana paman sang Ratu, Mordekhai, telah berjasa dalam membongkar persekongkolan orang-orang yang hendak membunuh raja, dan juga persekongkolan Haman, untuk memusnahkan bangsa Yahudi dari muka bumi dengan menggunakan kelengahan raja.

Kisah Ester diakhiri dengan Haman yang ketahuan dan kemudian digantung pada sebuah tiang yang ia buat sendiri untuk menggantung Mordekhai, dan terbitnya maklumat baru dari raja sebagai “legalitas” bagi kaum Yahudi untuk mengadakan perlawanan terhadap musuh-musuh yang hendak membunuh mereka.

Teori konspirasi, seperti halnya teori-teori dan ilmu pengetahuan yang lainnya, semestinya didedikasikan untuk kebenaran dan untuk kesejahteraan manusia. Kisah Ester dan pamannya tersebut adalah salah satu contohnya.

Penalaran yang kurang tepat
Meski demikian, dalam perkembangannya, teori konspirasi pun ternyata bisa dipakai untuk menggugat kebenaran yang hakiki, merendahkannya, dan menawarkan alternatif kebenaran yang lain. Nah, teori konspirasi yang terakhir ini memiliki titik tolak penalaran yang kurang tepat, yakni memulai dengan kesimpulan atau “judgement.” Artinya, segala bahan informasi yang tersedia akan digunakan sepanjang mendukung kesimpulan atau hasil akhir yang diinginkan. Sebaliknya, segala informasi yang dirasa dapat melemahkan kesimpulan akan cenderung diabaikan alias tidak disinggung sama sekali.

Orang-orang yang “memproduksi” teori-teori konspirasi, biasanya adalah orang-orang dengan kecurigaan yang terlalu berlebihan terhadap penguasa atau pihak-pihak yang tidak ia sukai. Ketika sikap kritis yang semestinya netral bercampur dengan perasaan suka-tidak suka, maka muncullah teori-teori konspirasi yang “asal tabrak” tanpa menggunakan logika ataupun penalaran yang sehat/berimbang. Mereka akan cenderung meragukan semua informasi yang dikeluarkan oleh subjek yang mereka tidak sukai.

Sebaliknya, informasi-informasi “miring” yang dapat dipakai untuk melawan informasi versi “musuh” akan cenderung diyakini sebagai fakta yang hakiki, seberapa aneh pun kelihatannya.

Dampak negatif teori konspirasi
Sebagai sebuah teori, teori konspirasi haruslah dipahami secara akademis, dan sebaiknya dilontarkan dalam forum-forum diskusi ilmiah. Namun bagaimanapun juga, perkembangan media sosial yang begitu rupa di era digital ini membuat teori-teori konspirasi yang sebenarnya masih membutuhkan penelaahan lebih lanjut tersebut “meluber” ke hadapan publik tanpa bisa dibendung apalagi disaring.

Alhasil, mereka yang tidak begitu mendalami peristiwa atau fakta tertentu, memperoleh akses pada “kebenaran yang lain” yang mendiskreditkan “kebenaran yang utama”. Publik yang tidak dewasa dalam menyikapi informasi dapat segera terpengaruh, apalagi jika teori konspirasi tersebut diembel-embeli dengan sentimen SARA.

Jika sudah demikian, maka teori konspirasi akan memenangkan hati pembacanya, terutama yang tidak begitu mempedulikan kaidah “cek silang” dengan sumber berita yang lain. Yang muncul adalah fanatisme sempit terhadap salah satu sumber berita tertentu, dan sama sekali mengabaikan sumber-sumber berita yang bahkan lebih bisa dipercaya secara profesional. Ini adalah salah satu ekses yang tak bisa dibendung dari perkembangan dan liberalisasi teknologi informasi.

Bagaimana sikap kita?
Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi derasnya arus informasi yang berlomba mempengaruhi kita setiap hari? Bersikap kritis adalah langkah awal yang baik. Dengan bersikap kritis, bukan berarti kita tidak mempercayai semua sumber informasi yang ada, melainkan sebagai upaya pribadi agar tidak jatuh ke dalam fanatisme sempit terhadap sumber-sumber berita tertentu, yang tentunya akan sangat mempengaruhi objektivitas kita.

Beragamnya sumber berita di internet sesungguhnya adalah keuntungan tersendiri. Kita tak lagi berada di era “TVRI,” di mana setiap informasi yang akan disampaikan kepada publik harus disaring terlebih dahulu. Dengan demikian, kita memiliki banyak sumber untuk melakukan cek silang. Jika Kompas memberitakan X, apakah Detik, Tempo, Antara, CNN, ataupun kantor berita lainnya memberitakan hal yang sama? Jika ya, samakah kronologi dan detil informasi dari peristiwa yang dipaparkan?

Tentu saja, tidak semua informasi patut untuk kita sikapi secara kritis. Kita perlu bersikap kritis terhadap informasi-informasi yang menyudutkan pihak-pihak tertentu tanpa adanya klarifikasi dari pihak yang disudutkan, atau setidaknya, bukti-bukti yang memadai.

Sebuah portal berita pernah menyiarkan adanya kegiatan provokasi dari kelompok X terhadap kelompok Y namun tidak disertai dengan bukti yang jelas, narasumber yang tidak jelas dan kredibel karena hanya menyampaikan asumsi, dan ketiadaan berita serupa dari portal-portal berita yang lain. Berita yang dilansir pun cenderung provokatif dan menyudutkan kelompok X. Informasi-informasi seperti inilah yang patut disikapi secara kritis.

Baru-baru ini, sebuah video dari kantor berita A tentang penembakan terhadap seorang anak kecil dan ayahnya dalam sebuah konflik bersenjata sempat menjadi berita utama dan ditayangkan di televisi-televisi nasional, ketika penyelidikan lebih lanjut menguak “tabir konspirasi” yang sangat ironis, karena ternyata sekitar dua meter di belakang mereka berdua, ada dua tim kantor berita lainnya yang juga sedang meliput kejadian tersebut. Rekaman video kantor berita A hanya mengambil gambar ayah dan anak tersebut yang sedang bersembunyi di balik sebuah drum dan ditembaki hingga mati oleh pihak X. Namun, dua rekaman video “alternatif” yang diambil oleh dua tim kantor berita yang lain mengatakan hal yang berbeda. Video kantor berita A itupun kemudian ditarik dari peredaran.

Penutup
Salah satu ungkapan terkenal dalam forum-forum diskusi internet adalah “no picture=hoax.” Dalam banyak kasus, hal itu bisa diterapkan. Akan tetapi, dalam kasus-kasus khusus seperti di atas kita melihat bahwa bukan hanya gambar, bahkan video pun bisa jadi hanya merupakan hoax, alias berita bohong yang dipakai untuk kepentingan pembuatnya dalam rangka mendiskreditkan pihak-pihak tertentu.

Oleh karena itu, alangkah bijaksananya jika kita sebagai pengguna dan pengakses informasi mulai belajar untuk bersikap kritis terhadap setiap informasi yang kita terima, terutama jika “aroma” permusuhan atau perpecah-belahan tercium dengan kuat di dalam pemberitaannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s