Teladan Partisipasi, Bukan Pencitraan

artikel, pencitraan, teladan partisipasi

William Lecky, seorang sejarawan non-Kristen terkemuka abad XIX, menuliskan dalam bukunya yang berjudul “History of European Morals from Augustus to Charlemagne”, demikian:

“[The character of Jesus] has not only been the highest pattern of virtue, but the strongest incentive to its practice, and has exerted so deep an influence, that it may be truly said, that the simple record of three short years of active life has done more to regenerate and to soften mankind, than all the disquisitions of philosophers and than all the exhortations of moralists.”

Tak seorangpun bisa membantah integritas dan ketakberdosaan Yesus. Semasa pelayanan-Nya di dunia, kehidupan Yesus sendiri merupakan teladan partisipasi. Dia bukanlah seorang guru agung yang “berpraktik” di sebuah pertapaan, menanti orang-orang datang untuk menjadi murid, melainkan Guru yang mendatangi dan memanggil murid-murid-Nya. Dia bergaul dengan berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama seperti Nikodemus, hingga pemungut cukai seperti Zakheus. Puncak partisipasi-Nya adalah di Golgota, ketika merelakan Diri-Nya bagi pendamaian kita.

salah satu teladan Kristus: melayani

Keteladanan Kristen bukanlah “pencitraan” demi Tuhan (ada pandangan bahwa umat/hamba Tuhan harus berlimpah materi agar Allah dipermuliakan), melainkan buah dari hidup yang melekat pada Sang Pokok Anggur. “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa,” demikian sabda-Nya (lih. Yohanes 15:5). Hidup yang dihidupi di dalam Kristus itulah satu-satunya cara untuk mengerjakan Mandat Budaya maupun Amanat Agung. Seseorang yang tidak tinggal di dalam Tuhan mustahil memuliakan Dia.

Teladan partisipasi apakah yang bisa diberikan oleh seorang alumni Kristen di kantornya, seorang mahasiswa Kristen di kampusnya, atau orang tua Kristen di rumah mereka? Tentunya dalam hal-hal praktis sehari-hari. Apakah kita mematikan lampu atau keran air yang tak terpakai dan membuang sampah pada tempatnya (partisipasi terhadap lingkungan)? Apakah kita mengerjakan tugas dan ujian sendiri (partisipasi terhadap dunia pendidikan)? Apakah kita menaati peraturan lalu lintas (partisipasi terhadap penegakan hukum)? Bagaimana kita memperlakukan office boy di kantor atau pembantu rumah tangga di rumah (partisipasi terhadap kemanusiaan)? Tentu masih banyak contoh mengenai teladan partisipasi, namun kuncinya adalah, asalkan kita hidup dengan otentik dan berintegritas sesuai firman Tuhan, kita pasti bisa menjadi teladan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s