Sejarah Partisipasi Kristen di Indonesia

artikel, pahlawan kristen, partisipasi kristen

Partisipasi umat Kristen di negeri ini sudah muncul jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Sejarah perjuangan bangsa kita mencatat nama-nama orang Kristen yang turut berjuang memerangi penjajahan, mulai dari Mangihut Mangaradja Hezekiel Manullang (Tuan Manullang) dari Tarutung yang berjuang melalui pers, Marsekal Pertama TNI Tjilik Riwut, putra Dayak yang turut berjuang melawan penjajah dan menjembatani bergabungnya pulau Kalimantan ke dalam wilayah Indonesia,  Mr. Alexander Andries Maramis yang berjuang melalui diplomasi dan menjadi salah satu anggota BPUPKI serta memerjuangkan pluralitas bangsa dengan mengusulkan penghapusan tujuh kata dari Piagam Jakarta,  Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (mantan Rektor UGM) yang merancang dan merakit persenjataan di masa perang kemerdekaan, hingga Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura) yang memimpin rakyat Saparua merebut benteng Belanda.

Tentu saja nama-nama tersebut barulah sebagian dari ribuan orang Kristen yang turut berjuang melawan penjajahan dan merebut serta mempertahankan kemerdekaan, sebagaimana dinyatakan oleh Presiden pertama Indonesia, Sukarno, ketika berpidato di Universitas Indonesia, 7 Mei 1953:

 

“Kalau kita mendirikan negara berdasarkan Islam, banyak daerah yang penduduknya bukan muslim, seperti Maluku, Bali, Flores, Timor, Kepulauan Kei, dan Sulawesi, akan memisahkan diri. Dan Irian Barat, yang belum menjadi bagian wilayah Indonesia, tidak ingin menjadi bagian Republik. Bukan satu, bukan tiga, bukan ratusan, tapi ribuan orang Kristen gugur dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Apa yang diinginkan dari harapan umat Kristen? Haruskah kita tidak menghargai pengorbanan mereka? Harapan mereka bersama-sama menjadi anggota dari rakyat Indonesia yang merdeka dan bersatu. Jangan pakai kata-kata “minoritas,” jangan sekalipun! Umat Kristen tak ingin disebut minoritas. Kita tidak berjuang untuk menyebutnya minoritas. Orang Kristen berkata: ‘Kami tidak berjuang untuk anak kami disebut minoritas.’ Apakah itu yang kalian inginkan? Apa yang diinginkan setiap orang adalah menjadi warganegara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu sama dengan saya, dengan ulama, dengan anak-anak muda, dengan para pejabat, setiap orang tanpa kecuali: setiap orang ingin menjadi warga negara Republik Indonesia, setiap orang, tanpa memandang minoritas atau mayoritas.”

 

Meskipun kekristenan di negeri ini sering diolok oleh pihak-pihak tertentu sebagai “agama penjajah,” jejak kepahlawanan yang ditinggalkan umat Kristen di dalam lembaran sejarah negeri ini nyata dan takkan bisa diingkari. Memang benar, bahwa secara kebetulan para penjajah itu memeluk agama Kristen, namun bukan berarti kekristenan menganjurkan penjajahan, sebagaimana dikatakan oleh St. Agustinus, “Never judge a philosophy by its abuse.” Jangan sekalipun menilai sebuah pandangan ataupun pengajaran lewat penyalahgunaannya.

Seorang Kristen yang bersungguh-sungguh takkan tahan melihat praktik-praktik yang menyimpang dari kebenaran firman Tuhan. Jiwa partisipatifnya akan bergelora dan menggerakkannya untuk berdiri menentang, meskipun yang dihadapinya adalah “saudara seiman.” Itulah yang telah terjadi pada kekristenan kita di masa lalu, dan itu jugalah yang seharusnya tetap terjadi pada kekristenan kita di masa kini dan seterusnya.

Salam partisipasi!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s