Maaf dan Rekonsiliasi

artikel, maaf, memaafkan, rekonsiliasi

Tidak ada satupun manusia yang tidak pernah memiliki masalah dengan kata “maaf”. Entah bergumul untuk meminta maaf ataupun berjuang untuk memaafkan, sebagian dari kita masih bermasalah dengan “maaf” ini hingga sekarang.

Tak bisa dipungkiri, setiap orang memiliki sisi rapuhnya masing-masing, yang jika disinggung akan dapat merusak seluruh keberadaan dirinya. Kita ini rapuh, tak peduli seberapa kuat, kaya, ataupun berkuasanya kita. Masing-masing kita sensitif dengan hal-hal tertentu.

Sebagian orang sensitif pada penampilan fisiknya, sehingga jika teman-temannya yang bermaksud bercanda menyinggung masalah fisik, dia akan langsung terluka. Ada lagi orang yang rapuh dalam hal materi, sehingga jika ada orang yang coba-coba mengganggu harta miliknya, dia akan langsung kehilangan kendali. Ada juga yang rapuh dalam ideologi dan atau keyakinannya. Jika apa yang dia yakini diserang, maka amarahnya akan langsung menuju ke ubun-ubun. Dan masih banyak lagi.

Namun, sebagian dari kita mencoba mengabaikannya. Kita tidak mau memikirkan hal-hal yang buruk. Kita mencoba menyangkal keberadaan diri kita, bahwa kita ini sebenarnya rapuh. Kita kerap menyangka, bahwa kedewasaan itu ditunjukkan dengan kestabilan emosi, bahkan jika sedang disakiti. Padahal, itu adalah tindakan yang salah. Sangat salah.

Bagi saya, sikap yang paling tepat justru mengakui kerapuhan kita tersebut. Saya, misalnya, akan menjadi terluka jika dikatakan sedang berbohong, padahal faktanya tidak demikian. Itulah “sisi lemah” saya. Pernah pada suatu ketika, saya dikatakan berpura-pura tidak mengetahui keberadaan rambu larangan ketika hendak ditilang. Peristiwa tersebut menimbulkan luka tersendiri, sehingga saya jadi benci sekali dengan oknum polisi. Akan tetapi syukurlah saya memiliki “teman curhat” paling setia: Tuhan. Saya berdoa dan mencurahkan kejengkelan saya, hingga akhirnya muncul komitmen untuk mengampuni si oknum polisi. Memaafkan. Saya berdoa, mohon kekuatan. Dan Tuhan menolong saya melaluinya.

Tapi, itu baru kisah kecil yang membawa saya ke berbagai peristiwa yang lebih besar, yang menuntut keikhlasan lebih besar untuk memaafkan. Salah satu peristiwa yang masih akan terus juga saya ingat adalah ketika orang yang berusaha saya tolong justru melukai saya secara fisik dan membuat bibir saya berdarah. Bekas lukanya masih ada, meski tak besar. Dia pikir saya membohonginya. Butuh usaha ekstra untuk memaafkan orang tersebut. Butuh waktu juga. Tapi, Tuhan lah yang sesungguhnya mengaruniakan perdamaian, ketika kami pada akhirnya saling bersalaman beberapa bulan kemudian.

Meminta Maaf
Tak jauh beda dengan memaafkan, meminta maaf pun bukanlah perkara gampang, meski kita tahu bahwa kitalah yang bersalah. Meminta maaf itu membutuhkan langkah merendahkan diri–sebuah konsep citra diri yang sangat tidak populer di dunia kita yang narsis ini.

Saya juga termasuk orang yang susah meminta maaf. Bagi saya, kata “maaf” itu mahal harganya. Saya susah mengalah. Sebagian kita mungkin sama. Kita ingin memiliki citra yang baik di hadapan orang-orang, dan meminta maaf itu seperti menggoreskan tinta hitam pada kain putih yang sedang kita jahit menjadi baju. Kita mempertaruhkan seluruh keberadaan diri kita ketika melakukannya. Gengsi adalah hambatan besar dalam meminta maaf.

Hambatan besar berikutnya, takut. Kita takut dengan bayangan kita sendiri. Kita membayangkan bahwa orang yang kita mintai maaf akan meminta pertanggungjawaban atau menuntut balas. Kita takut, kalau-kalau permintaan maaf tersebut berujung pada kerugian di pihak kita, meski mungkin kita memang pantas menerimanya. Seperti seorang anak kecil, kita tidak siap menerima konsekuensi dari perbuatan salah yang kita lakukan terhadap orang lain.

Akan tetapi, sesungguhnya ketakutan itu tidak selalu terbukti. Yang pasti terbukti adalah keberanian kita, ketika kita meminta maaf. Berani untuk menerima konsekuensi. Berani untuk menghadapi ketakutan-ketakutan yang menghantui. Sesungguhnya, meminta maaf adalah wujud pendewasaan diri.

Rekonsiliasi
Rekonsiliasi bersahabat erat dengan maaf. Ia adalah hasil dari sebuah aktivitas saling memaafkan. Dan dibutuhkan gerak aktif untuk meminta dan memberi maaf untuk menghasilkan sebuah rekonsiliasi. Untuk melakukan itu, kita memerlukan perspektif yang tepat tentang sebuah konflik atau permasalahan antar-pribadi.

Dalam bukunya yang menginspirasi berjudul “Integritas,” Henry Cloud memaparkan tentang cara pandang yang tepat dalam menghadapi sebuah konflik. Jika biasanya kita memandang konflik sebagai permasalahan “aku vs kamu,” maka Cloud memberikan sebuah perspektif baru: “aku+kamu vs masalah”. Karena kedua belah pihak sedang bermasalah (baca: memiliki masalah), maka seharusnya keduanya bekerjasama untuk menyelesaikan permasalah tersebut.

Daripada membuang waktu, tenaga, dan materi untuk memelihara konflik yang sesungguhnya merugikan kedua belah pihak, bukankah lebih baik jika itu semua digunakan untuk bekerjasama mengatasi permasalahan bersama, saling membangun dan saling mengokohkan? Marilah kita mengejar rekonsiliasi itu, demi masa depan bersama yang lebih baik. Demi restu Tuhan Yang Mahadamai itu.

Salam rekonsiliasi!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s