Tuhan yang “Blusukan”

artikel, blusukan, jokowi

Meskipun tak ada di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “blusukan” sepertinya sudah dipahami oleh semua orang di negeri ini. Saya tidak tahu, media mana yang pertama kali mempopulerkan kata “pinjaman” dari bahasa Jawa tersebut, namun sepertinya tidak akan ada yang menyanggah, kalau saya katakan bahwa blusukan menjadi populer gara-gara Ir. Joko Widodo, alias Jokowi.

Ya, sejak menjadi Walikota di Solo, Jokowi sudah dikenal oleh warganya sebagai sosok pemimpin yang suka blusukan, alias menyambangi rakyatnya di manapun mereka berada, termasuk yang ada di pelosok kampung atau di bantaran sungai sekalipun. Sebagai seorang pejabat nomor satu di Kota Solo, Jokowi tak pernah risih berbaur dengan rakyatnya. Ia tak hanya memerintah dari “istana,” seperti kebanyakan pemimpin lainnya.

Memang, bisa jadi tak ada satupun pemimpin di negeri ini yang tak pernah menyambangi rakyat. Semua pernah melakukannya. Bedanya, kebanyakan dari para pemimpin itu melakukannya bukan dengan sukarela, melainkan dengan pamrih ingin mendulang suara. Blusukan yang mereka lakukan, kebanyakan terjadi hanya pada masa-masa kampanye untuk memperebutkan kursi pimpinan. Rakyat tak dipandang sebagai sesama manusia yang patut diperhatikan, namun dianggap sekadar sebagai tangga untuk menggapai puncak kekuasaan. Betapa kejam!

Itulah yang terjadi, ketika seorang pemimpin tak memiliki hati ilahi.

Hati ilahi itulah yang membuat Tuhan blusukan ke taman Eden dan mencari manusia, bahkan setelah mereka (Adam dan Hawa—pen) berbuat dosa. “Di manakah engkau?” demikian Dia menyapa kedua pendosa, yang malah bersembunyi dariNya itu. Dosa tidak pernah membuat manusia mencari Tuhan, namun sebaliknya, menyembunyikan diri dari Dia. Itulah sebabnya dikatakan, “… tidak ada seorangpun yang mencari Allah” (Roma 3:11b). Tak hanya bersembunyi dari Tuhan, dosa membuat manusia menjaga jarak dengan sesamanya, bahkan saling melemparkan kesalahan, sebagaimana terjadi kepada Adam dan Hawa.

Hati yang penuh kasih, itulah hati ilahi. Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8b), demikianlah pernyataan yang sangat indah mengenai Dia, yang dituliskan oleh “Rasul Kasih”, yakni Yohanes, yang penuh amarah di masa mudanya. Ya, di masa mudanya, Yohanes bersama saudaranya, Yakobus, bahkan pernah—dengan amarah yang menyala-nyala—meminta izin kepada Yesus untuk menyuruh api dari langit turun dan membinasakan seluruh penduduk desa “kafir” yang menolak kedatangan Guru mereka itu (lih. Lukas 9:54).

Karena kasih itu pulalah, Tuhan melalui Firman-Nya lalu blusukan ke dunia fana di dalam Yesus Kristus. Dialah Sang Firman yang menanggalkan Keilahian-Nya, merendahkan derajat begitu rupa dan menjadikan Diri-Nya sebagai manusia, berjalan keliling di antara umat-Nya yang berdosa, mengabarkan Berita Sukacita kepada mereka, menghibur, menyembuhkan, bahkan menghidupkan mereka. Yesus seolah-olah merekonstruksi peristiwa di Taman Eden. Hanya saja kali ini, Dia memberikan Dirinya untuk dicemooh, disiksa, dan disalibkan sampai mati, untuk menanggung dosa seluruh dunia. Itulah hati ilahi. Agar kita hidup, Dia rela mati.

Yesus Kristus, kawan, adalah Tuhan yang blusukan. Dan karena Dia telah merelakan Diri-Nya untuk blusukan demi kita, maka sudah seharusnyalah kita—seperti Dia—merelakan diri kita untuk blusukan pula demi mengabarkan Berita Sukacita-Nya. Tuhan memberkati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s