Bukan Kafir, Melainkan Sesama Manusia

artikel, iman, jusuf roni, kafir, kasihilah musuhmu, kekristenan, kristen, sesama manusia

helpful-handsSMALL

Kafir. Kita tentu pernah (atau sering?) mendapati kata ini. Pada umumnya, kata ini berarti orang yang berada “di luar iman.” Artinya, orang-orang kafir adalah orang-orang yang tidak memiliki “iman” yang sama dengan penyebutnya. Akan tetapi, bagaimana sesungguhnya pandangan iman Kristen terhadap orang-orang yang masih berada “di luar iman?”

Pernyataan iman yang paling mendasar dalam Kekristenan adalah keselamatan oleh iman dan iman oleh anugerah. Artinya, setiap orang akan diselamatkan oleh karena iman yang benar, dan iman yang benar itu hanya didapat oleh karena anugerah, bukan usaha manusia.

“Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu,” demikianlah pernyataan tegas Tuhan Yesus yang dicatat rasul Yohanes di dalam Yohanes 15:16. Rasul Paulus juga menulis hal yang senada, “Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu” (1 Tes. 1:4).

Sekaya dan sesaleh apapun seseorang, ia mustahil memiliki hidup yang kekal bersama Bapa di surga, kecuali dia dipilih Tuhan untuk diselamatkan. Inilah ajaran mendasar yang diajarkan oleh Alkitab tentang keselamatan. Rasul Paulus menulis kepada jemaat Efesus, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9).

Pada kenyataannya, ada orang-orang yang memang sejak mudanya sudah dianugerahi iman kepada Allah yang benar ini, namun ada juga yang menjelang ajalnya baru percaya, seperti yang tercatat dalam Injil tentang penjahat yang sama-sama disalibkan dengan Yesus. Alkitab mencatat, mereka semua diselamatkan. Orang Kristen tak boleh “menghakimi” orang lain yang belum percaya sebagai calon penghuni neraka, melainkan wajib mendoakan agar Tuhan juga berkenan memilihnya.

Ada banyak kisah tentang orang-orang yang pada mulanya sangat memusuhi Kekristenan, namun kemudian berbalik menjadi pengabar Injil yang militan. Rasul Paulus adalah salah satu contohnya. Di Indonesia, mungkin kisah Pdt. Jusuf Roni cukup dikenal. Oleh karena itulah, orang-orang yang berada di “luar iman” Kristen tidak disebut sebagai “kafir,” melainkan orang yang “belum percaya” atau “belum diselamatkan.”

Dengan paradigma ini, setiap orang Kristen tidak memandang orang-orang yang berada di “luar iman” sebagai musuh (meskipun sebagian di antaranya menunjukkan sikap bermusuhan), melainkan sebagai “sesama manusia.” Kasih adalah juga ajaran yang sangat menonjol di dalam Kekristenan. Tak hanya kepada Allah dan sesama manusia, kasih seorang Kristen bahkan diperintahkan agar “mengembang” sampai kepada pihak-pihak yang memusuhinya. Lagipula, bukankah “musuh” itupun adalah “sesama manusia?”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s