Kepasifan Adalah Dosa

artikel, kepasifan, perbuatan dosa, samaria

“Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.”
(Yakobus, saudara sekaligus murid Yesus)
————————————————————-

Istilah dosa pastilah tidak asing di telinga kita semua. Sejak kecil kita sudah mendengar kata itu, entah dari orang tua, entah dari teman sepermainan, atau dari guru-guru yang mengajar kita di tingkat dasar. Beberapa perbuatan yang dikategorikan sebagai dosa sewaktu kecil, antara lain: berbohong, mencuri, mencontek, dan menjahili teman. Lambat laun, seiring berkembangnya pemikiran dan pergaulan, kita mengenal perbuatan-perbuatan dosa lainnya, seperti membunuh, memfitnah, korupsi, zinah, berhubungan dengan ilmu hitam (santet, pelet, pesugihan), dan sebagainya.

Sebagai orang yang beragama, kita diajarkan–dan kemudian bertekad–untuk menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa. Secara umum kita akan setuju jika dosa itu adalah setiap pelanggaran terhadap larangan Tuhan sebagaimana yang diatur di dalam kitab suci. Dosa biasanya dimengerti sebagai pelanggaran terhadap hukum-hukum Ilahi, yang pada akhirnya menghalangi hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta dengan konsekuensi yang sangat mengerikan: masuk neraka jahanam! Dan, secara umum kita menganggap bahwa dosa itu adalah sebuah perbuatan aktif. Akan tetapi, benarkah selalu demikian? Ternyata tidak!

Salah seorang saudara sekaligus murid Yesus yang bernama Yakobus menyatakan sebuah standar yang sangat revolusioner tentang apa yang menyebabkan seseorang berdosa. “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa,” demikian tulisnya. Jadi, dosa bukanlah sekedar melakukan perbuatan jahat, melainkan menolak untuk melakukan perbuatan baik juga.

Good_Samaritan_Sicard_Tuileries

Patung orang Samaria yang baik hati/Tuileries

Kepasifan, dengan demikian, termasuk sebuah perbuatan dosa.

Dalam kisah Orang Samaria yang Baik Hati yang diceritakan oleh Yesus, baik sang imam maupun orang lewi tidak menolong korban perampokan yang terbaring di pinggir jalan yang mereka lewati–apapun alasannya. Sesuatu yang tak terduga terjadi, yakni ketika seorang “kafir” dari Samarialah yang justru menolong orang tersebut. Yesus sepertinya sedang menyindir kaum agamawan yang lebih memilih untuk menjaga kesucian diri daripada menjadi “sesama manusia” bagi orang lain. Sebagai Pribadi yang memiliki sudut pandang Ilahi, Yesus lebih menghargai kepedulian orang Samaria itu daripada kesucian sang imam dan orang Lewi.

Menolak melakukan perbuatan baik yang sebenarnya dapat kita lakukan sama dengan menolak untuk melakukan perintah Tuhan, dan itu berarti dosa. Dengan “standar” dosa yang seperti itu, sudah dapat dipastikan bahwa tiada seorangpun yang dapat hidup “suci” dan memasuki surga tanpa anugerah Tuhan. Beberapa orang mungkin tak setuju dengan alur pemikiran ini, karena hal ini berarti meniadakan “netralitas.” Akan tetapi, memang demikianlah pandangan kitab suci tentang netralitas, yakni bahwa itu adalah konsep yang semu. Jika ada orang yang tidak berbuat jahat dan juga tidak berbuat baik, maka pastilah ia tidak akan masuk neraka dan tidak masuk surga! Ketika murid-murid melaporkan adanya orang-orang yang melakukan mujizat dan mengusir setan dalam nama Yesus, Yesus berkata, “Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” Di mata Yesus, tidak ada yang namanya pihak netral.

Standar Sang Raja
Ada satu lagi kisah Yesus yang sangat revolusioner. Ia menceritakan tentang Sang Raja yang “menyeleksi” siapa saja yang akan masuk dalam Kerajaan-Nya. Yang mengejutkan adalah bahwa ternyata standar yang dipakai bukanlah perbuatan baik dan perbuatan jahat, melainkan keaktifan dan kepasifan dalam berbuat baik! “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang TIDAK KAMU LAKUKAN untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku,” demikian kata Sang Raja pada orang-orang yang ditolak-Nya. Mereka mungkin merasa pasti mendapatkan surga karena kesalehan mereka, namun sayangnya, ketidakpedulian mereka telah mengganjal langkah mereka bertemu Sang Bapa.

Ketika kita menolak untuk menyeberangkan orang tua, memberi tempat duduk untuk wanita hamil, membuang sampah pada tempatnya, atau mematikan keran air yang tak sengaja terbuka adalah dosa. Bahkan, menolak untuk tersenyum ramah pada tiap orang yang kita temui (kecuali jika sedang sakit gigi ^_^) pun bisa jadi membuat kita berdosa!

Tuhan tak ingin umat-Nya bersikap pasif terhadap sekelilingnya. Dalam sebuah kisah klasik tentang percakapan seorang yang saleh dengan Tuhan, ia mempertanyakan berbagai kejahatan, kemiskinan, dan bencana yang ada di muka bumi ini. “Tidakkah Engkau tergerak untuk melakukan sesuatu, ya Tuhan?” Demikian rajuk sang saleh, yang kemudian dengan telak dijawab oleh Tuhan, “Aku sudah melakukan sesuatu, anak-Ku. Aku telah menciptakan dirimu.”

Marilah kita senantiasa menjadi orang-orang yang aktif dalam memperjuangkan kebaikan bagi sesama, terutama bagi mereka yang sedang menderita. Salam Aktif! ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s