Adoniram Judson: Warisan yang Sangat Berharga

adoniram judson, alkitab, Biografi, biografi, misionaris, myanmar

 

adoniram-judson

Adoniram Judson merasakan panggilan Allah untuk pelayanan misi semenjak masih kuliah di Yale. Dia adalah salah satu pendiri Student Volunteer Movement yang merupakan benih dari International Fellowship of Evangelical Students, yang kemudian mengutus puluhan ribu pekerja misi.

Dia dan istrinya berlayar dari Massachusetts ke India pada tahun 1812, namun karena ada masalah dengan visa, mereka memutuskan untuk mengunjungi Burma (sekarang Myanmar) dan sampai di sana setahun kemudian. Penderitaan demi penderitaan yang dialami Judson nyaris tak dapat dibandingkan di dalam sejarah misi modern.

Oleh karena perbedaan pendapat tentang baptisan, para penyokong Judson menghentikan bantuan mereka, meski beberapa minggu kemudian bantuan diberikan kembali.

Dibutuhkan lebih dari dua tahun baginya untuk mengerti tata bahasa Burma di negara yang tak mengenal bahasa Inggris itu. Dia harus menanti hingga enam tahun untuk melihat petobat pertama, dan di sepanjang hidupnya dia hanya mendapati tak lebih dari 25 orang, dan mungkin hanya separuhnya saja yang benar-benar menghidupi iman.

Adoniram Judson dicurigai sebagai mata-mata selama masa perang melawan Inggris, dan dimasukkan ke dalam “Penjara Kematian” (1824-1825). Tiap malam ia digantung dengan posisi kepala di bawah dan kakinya diikat dengan rantai besi.

Ann, istrinya, meninggal pada tahun 1828, dan kejadian itu membawanya ke dalam tingkat depresi yang sangat parah. Selama empat bulan ia duduk di samping kuburan istrinya dan menulis, “Allah bagiku adalah Yang Tak Dapat Diketahui; Aku percaya kepadaNya tapi tak dapat menemukan Dia.” Kita dapat membayangkan betapa dalam dukacita orang kudus ini, jauh dari kampung halaman. Ditambah lagi, beberapa petobat meninggalkan imannya di bawah ancaman.

Judson kehilangan semua anggota keluarganya, dan setidaknya sebelas rekan sekerja. Dia meninggal dalam gelap. Namun, satu tugas telah terselesaikan. Orang Burma memiliki Alkitab dalam bahasa mereka sendiri.

Pada tahun 1993, Paul Borthwick mengunjungi Myanmar dalam rangka peringatan 150 tahun Alkitab bahasa Burma yang diterjemahkan oleh Judson. Dalam sebuah pertemuan dengan pemimpin pemuda, dia mengambil satu buah Alkitab. Paul tak dapat membaca satupun kata dalam bahasa Burma itu, namun dia melihat ada sebuah kalimat berbahasa Inggris di halaman sampul: “Diterjemahkan oleh Pdt. A. Judson”. Mereka masih menggunakan terjemahan yang sama hingga sekarang! Sebuah warisan yang luar biasa.

Paul yang terharu dengan hal itu kemudian bertanya kepada Matthew Hla Win, tuan rumah sekaligus penerjemahnya tentang apa yang dia ketahui mengenai Judson. Matthew menjawab, “Setiap kali seseorang menyebutkan nama Judson, saya menjadi sedih karena kami tahu apa yang dia dan keluarganya derita.” Dia melanjutkan dengan penuh emosi, “Hari ini ada enam juta orang Kristen di Myanmar, dan setiap orang dari kami mendapati warisan rohani dari satu orang–Pdt. Adoniram Judson.”

Apakah Judson sebuah kesalahan? Di masa kehidupannya mungkin terlihat seperti itu, tapi lewat halaman-halaman sejarah pekerjaannya diteguhkan oleh Allah. Seringkali kita menghakimi sebuah pelayanan hanya dalam pemikiran jangka pendek, tetapi “kita akan menuai apa yang kita tabur jika kita tidak menyerah.”

“Hari ini ada enam juta orang Kristen di Myanmar, dan setiap orang dari kami mendapati warisan rohani dari satu orang–Pdt. Adoniram Judson.”

(terjemahan bebas dari buku Shining Like Stars karangan Lindsay Brown)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s