Mengerjakan Kehendak Allah

artikel, kehendak allah, mengenal kehendak tuhan, mengerjakan kehendak allah

“Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: ‘Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya.” (Rm. 15:20-21)

Penggalan surat Paulus kepada jemaat di Roma di atas menunjukkan kualitas yang seringkali terlewatkan oleh kita. Banyak di antara kita yang berdoa untuk mengerti kehendak Tuhan, namun berapakah yang benar-benar secara aktif mengerjakannya? Richard Lamb dalam bukunya yang berjudul Menjadi Murid Yesus di Kehidupan Nyata menuliskan, “Bagian tersulit bukanlah mengetahui kehendak Allah. Tetapi melakukan apa yang telah kita ketahui sebagai kehendak Allah.”

Rasul Paulus bisa menjadi teladan yang baik bagi orang percaya tentang bagaimana seharusnya menjalani hidup yang bersesuaian dengan kehendak Allah. Di dalam perenungannya akan firman Tuhan, dia mendapati sebuah nubuatan dari kitab nabi Yesaya tentang bagaimana di kemudian hari bangsa-bangsa yang belum mendengar tentang Allah akan mengerti tentang Dia. Kebanyakan kita setelah mendapati nubuatan seperti itu mungkin “hanya” akan berdoa agar Tuhan bekerja di antara bangsa-bangsa dan menyatakan kemuliaan-Nya kepada mereka.

Akan tetapi, rasul Paulus bertindak lebih jauh lagi. Ia menyediakan dirinya sebagai bagian dari nubuatan itu sendiri. Ia secara aktif mengupayakan agar nubuatan itu digenapi. Ia telah mendaftarkan diri sebagai rekan sekerja Tuhan! Rasul Paulus menyadari bahwa hidupnya yang baru sekarang ini pun merupakan bagian dari rancangan Allah; dan apakah lagi kegunaan hidupnya selain untuk menggenapkan rancangan Allah yang lainnya?

Seumur hidup sebagai orang percaya, pastilah kita telah banyak mendengar khotbah atau membaca di kitab suci tentang kehendak Allah. Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, itulah “ringkasan” semua kehendak Allah dalam kitab suci, sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yesus. Itulah tolok ukur yang wajib kita pakai dalam menjalani hidup keseharian kita. Apakah tiap tindakan kita mencerminkan kasih kita kepada Allah dan sesama, ataukah hanya buah dari keegoisan kita sendiri? Hanya kita masing-masing dan Tuhan yang mengetahuinya.

Sebenarnya, kehendak Allah dalam kehidupan kita, termasuk hal-hal yang Ia ingin agar kita lakukan, bukanlah sesuatu yang berat untuk dikerjakan. Seringkali, keengganan dan kemalasan kitalah yang menjadikannya terlihat berat. Kita melihat dalam sejarah kekristenan, bagaimana orang-orang biasa seperti para rasul, para murid, dan bapa-bapa gereja mengerjakan pekerjaan Tuhan yang luar biasa. Mereka bukanlah orang-orang sakti yang bisa terbang ke manapun mereka kehendaki, atau bisa mengubah batu manapun menjadi roti. Mereka bahkan seringkali harus bergumul dengan kelemahan fisik mereka sendiri.will-of-god

Saya percaya bahwa setiap umat Tuhan mempunyai bagian sendiri dalam penggenapan nubuatan-nubuatan-Nya. Tidak ada satu orang pun yang dipanggilNya untuk sekedar menjadi penonton yang setia, untuk menjadi jemaat yang biasa-biasa saja. Dalam banyak kesempatan, saya selalu menyampaikan bahwa jika ada orang kristen yang hanya puas menjadi jemaat saja, lebih baik ia keluar saja dari imannya! Adakah Allah menciptakan tubuh manusia yang salah satu bagiannya tak punya andil apa-apa? Demikianlah tidak mungkin Ia memanggil kita tanpa mengharapkan kita untuk mengambil bagian dalam Tubuh-Nya.

Memang untuk hal-hal tertentu seperti studi lanjut, pekerjaan, atau pasangan hidup, kita perlu bergumul sungguh-sungguh untuk mengetahui yang manakah yang Allah kehendaki. Meski demikian, janganlah pergumulan-pergumulan itu menghalangi kita untuk mengerjakan kehendak Allah yang sudah kita ketahui. Raja Salomo menuliskan, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” Jangan ada keengganan, jangan ada penundaan, jangan ada keberatan dalam mengerjakan kehendak-Nya, karena itulah bagian kita, orang-orang yang hidup. Selamat mengerjakan kehendak Allah.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s