Cantik: Penanda Harkat Wanita?

artikel, cantik, harkat, wanita

 

You don’t have a soul. You are a soul. You have a body. ~ C.S. Lewis

 

Cantik, Penanda Harkat Wanita?

 

Seandainya saat ini diadakan survey tentang ciri-ciri fisik perempuan Indonesia yang cantik, maka hampir bisa dipastikan bahwa rambut hitam-lurus-panjang, tubuh langsing (bukan ‘langsung’), kulit tubuh dan wajah putih (atau setidaknya, kuning langsat) mulus, hidung mancung (bukan ‘mancung ke dalam’ tentunya), dan sebagainya. Wanita dengan ciri-ciri fisik seperti itu dianggap mendapatkan ‘anugerah’ dari Tuhan. Merekalah yang berpotensi besar memenangkan lomba-lomba foto model atau ratu kecantikan. Inilah presentasi budaya populer kita mengenai kecantikan.

Sebenarnya, masing-masing kebudayaan memiliki idealisme tersendiri mengenai wanita yang dianggap cantik. Dalam budaya Jawa, misalnya, beberapa penanda kecantikan seorang wanita antara lain: memiliki mata yang berkedip bak nyala api lampu yang terkena angin (ndhamar kanginan), alis yang tipis dan indah seperti bentuk bulan sabit (nanggal sepisan), gigi yang rata dan indah bak deretan biji ketimun (miji timun), dahi yang lebar dan halus bagaikan pualam (nyela cendhani), cara berjalan yang pelan seperti harimau yang sedang lapar (macan luwe), dan sebagainya.

Pada budaya lain, kita mungkin pernah membaca atau melihat mengenai putri Cina jaman dahulu yang harus memakai sepatu yang begitu kecil, atau wanita-wanita tradisional Myanmar yang menggunakan cincin-cincin logam untuk memanjangkan leher mereka, atau wanita-wanita suku Dayak yang memanjangkan telinga mereka dengan mengenakan anting-anting yang banyak jumlahnya. Di Afrika, wanita yang gemuk justru disukai karena melambangkan kemakmuran. Peribahasa “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” sedikit banyak berlaku dalam hal ini.

Kecantikan adalah sebuah nilai, dan nilai-nilai itu bisa sangat berbeda di tiap budaya. Akan tetapi, nampaknya ada keragaman dalam cara masyarakat untuk menyikapi nilai-nilai tersebut. Karena sarat nilai, kecantikan terkait erat dengan martabat. Di dalam diri wanita melekatlah harga dirinya, orang tuanya, suaminya, bahkan sukunya. Hal ini terjadi terutama di dalam masyarakat patriarkis. Karena kemampuan atau keterampilan personal wanita tidak diperhitungkan, otomatis apa yang ada padanya lah yang dijadikan tolok ukur penilaian: parasnya.

Di bawah cengkeraman tradisi, para wanita diharuskan untuk mengikuti ritual-ritual tertentu agar penampilan fisiknya sejalan dengan ide kecantikan yang telah digariskan. Hidup mereka diatur oleh orang-orang yang lebih tua. Anak-anak wanita (bangsawan) Cina di masa lalu dipakaikan sepatu yang ukurannya tak berubah hingga mereka dewasa. Bukan sepatu yang mengikuti bentuk kaki, melainkan kaki mereka yang harus menyesuaikan bentuk sepatu. Hal serupa terjadi juga di Myanmar. Kalung bukanlah sekedar aksesoris, melainkan alat untuk membuat leher jenjang “sejenjang-jenjangnya.” Tubuh yang semestinya disyukuri sebagai karunia ilahi justru diperalat dan dirusak untuk mengikuti panggilan tradisi. Sungguh menyedihkan!

Di masa kini, terutama dengan adanya gerakan emansipasi, tradisi mungkin sudah tak mengikat kaum hawa. Namun bagaikan keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya, wanita hanya berganti belenggu saja. Setelah mesin cetak ditemukan, belenggu tradisi pun lambat laun digantikan oleh media. Setelah itu, muncullah bioskop, lalu televisi, dan yang paling dahsyat: internet. Mitos-mitos kecantikan “tradisional” kemudian digantikan dengan (mitos) kecantikan yang lebih maju, lebih modern, lebih canggih. Di dalam era informasi, penguasa media memiliki kemampuan untuk mendikte masyarakat tentang nilai-nilai apa saja yang dianggap baik, termasuk mengenai kecantikan.

Wanita masa kini mungkin saja menikmati kebebasan yang jauh lebih besar dibandingkan pendahulu mereka di masa lalu. Dalam bukunya yang berjudul “Bung Karno dan Kemeja Arrow,” sejarawan Asvi Warman Adam menuliskan sedikit kisah tentang Kartini. Karena desakan tradisi (hendak dinikahkan oleh orang tuanya), Kartini terpaksa melewatkan peluang beasiswa studi dan menjadi guru di Batavia. Suatu hal yang takkan dialami oleh generasi wanita di masa kini. Akan tetapi, Naomi Wolf, dalam bukunya yang berjudul “The Beauty Myth,” menuliskan, “Semakin banyak wanita yang memiliki lebih banyak uang dan kuasa dan jangkauan dan pengertian tentang hukum di masa kini dibandingkan di masa lalu; tapi dalam hal bagaimana perasaan kita terhadap keberadaan fisik kita, kita mungkin jauh lebih buruk dibandingkan dengan nenek moyang kita yang belum dibebaskan.”

“Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia,” demikian tulis seorang raja dalam sebuah amsal. Dan saat ini, kita melihat bagaimana “kebohongan dan kesia-siaan” itu disuntikkan begitu rupa ke dalam pemikiran kita lewat pesan-pesan audio-visual yang pendek namun berulang. Industri kosmetik tentu saja sangat berkepentingan di dalamnya. Di dalam dunia yang tamak ini, manusia memang memangsa sesamanya. Produsen kosmetik cenderung menganggap para wanita sebagai mesin-mesin ATM berjalan. Agar “ATM-ATM” tersebut mengeluarkan (banyak) uang, mereka harus diperangkap dalam sebuah stereotip mengenai apa itu kecantikan. Para ahli meneliti apa saja yang akan membuat wanita merasa berharga. Meski berbalut modernitas, semua pariwara kosmetika mengusung semangat yang sama: wanita dihargai karena parasnya. Padahal, ribuan tahun yang lalu, sebuah penanda sejati akan harkat seorang wanita telah diperkenalkan: “tetapi isteri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s