Di dalam kitab Kejadian, dituliskan tentang kisah Abraham yang “bernegosiasi” dengan Allah yang hendak menghukum Sodom dan Gomora, kota yang dipenuhi kejahatan. Mengapa Abraham begitu gigih melakukan tawar-menawar itu? Karena dia ingat, bahwa keponakannya, Lot, tinggal di situ, di tanah yang beberapa tahun sebelumnya dipilihnya sebagai tempat menetap karena kesuburannya.

Mulai dari angka lima puluh orang benar, Abraham memohon kepada Allah agar seandainya terdapat sejumlah itu di Sodom-Gomora, kiranya Dia membatalkan rencana penghukuman-Nya. Allahpun setuju. Namun kemudian, Abraham membuat “penawaran-penawaran” berikutnya, yang kesemuanya disetujui Allah, yakni 45 orang, 40 orang, 30 orang, 20 orang, dan penawaran terakhir Abraham, 10 orang benar. Kesemuanya itu disetujui Allah.

Jadi, Allah tidak akan menghukum seluruh kota Sodom dan Gomora itu jika ada sepuluh—ingat, sepuluh—saja penduduknya yang bersikap benar. Sungguh sebuah perbandingan yang menunjukkan betapa murah hati Allah kepada manusia!

Akan tetapi, tetap saja, dengan “kuota” yang serendah itu, ternyata tetap saja Sodom dan Gomora tidak “lulus.” Di akhir cerita, hanya Lot dan kedua anak perempuannya yang berhasil menyelamatkan diri (istri Lot berubah menjadi tiang garam karena menoleh ke belakang, padahal sudah dilarang). Sedangkan sisa penduduk Sodom dan Gomora dibinasakan oleh Allah.

Kita tidak memiliki informasi yang memadai tentang bagaimana cara hidup Lot selama bertahun-tahun di Sodom, namun yang jelas, kita membaca bahwa dia (dan keluarganya) tidak memiliki hidup yang berdampak bagi sekelilingnya. Untuk memenuhi kuota agar tidak binasa, keluarga ini sebenarnya cukup menobatkan enam saja dari seluruh penduduk Sodom dan Gomora. Ia tidak berhasil (atau tidak pernah berupaya?) untuk membuat orang-orang berhenti dari kejahatan-kejahatan mereka dan mulai melakukan perbuatan-perbuatan yang baik.

Tak hanya penduduk Sodom dan Gomora, bahkan kedua calon menantunyapun tidak benar-benar percaya kepadanya. Perilaku kedua anak perempuannya yang di kemudian hari membuatnya meniduri mereka (incest) tanpa sadar adalah bukti bahwa prinsip dan gaya hidup Sodom-Gomora yang berdosa lebih berpengaruh di dalam hidup kedua putrinya itu. Bahkan istrinyapun tidak memiliki ketaatan pada perintah Tuhan. Gemerlap harta benda telah membutakan mata hatinya akan apa yang sesungguhnya paling berharga di dalam kehidupan: hidup itu sendiri. Untuk apakah seseorang memiliki seluruh dunia namun kehilangan nyawanya?

[bersambung]

Iklan
artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s