Ironi dan Haru di Sinai

artikel, Insights

Salah satu pemandangan paling ironis namun mengharukan adalah ketika Musa naik ke atas gunung Sinai untuk menemui TUHAN dan menerima Sepuluh Hukum. Beberapa saat sebelumnya, TUHAN berbicara langsung kepada bangsa Israel, namun mereka tidak sanggup mendengarkan suara-Nya yang menggelegar seperti guntur disertai kilat yang menyambar-nyambar itu. Bangsa yang kecil dan lemah itu berhadapan langsung dengan TUHAN yang Mahabesar, yang menciptakan alam semesta.

Di gunung Sinai itulah, TUHAN yang telah menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir memberikan perintah-perintah-Nya. Menarik untuk dicatat, bahwa pada waktu itu, sepertinya kasih karunia Ilahi melingkupi seluruh penjuru gunung Sinai, sampai-sampai tujuh puluh tua-tua Israel yang mengikuti Musa dan Harun dan sempat melihat Allah, tidak dibunuh oleh tangan-Nya.

Seperti yang sering kita pelajari, perintah-perintah yang diberikan oleh TUHAN kepada bangsa Israel mengatur dua hal besar, yakni hubungan antara manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia. Di atas gunung Sinai, TUHAN memberikan detil-detil pelaksanaan dari Sepuluh Hukum yang DitulisNya sendiri dengan jari-Nya pada dua buah loh batu. TUHAN sedang mempersiapkan sebuah “bangsa percontohan” bagi bangsa-bangsa yang lain.

Namun ironisnya, kaum Israel yang tidak sabar menanti Musa yang sudah sebulan lebih berada di atas gunung untuk berbicara dengan TUHAN, justru memilih untuk berpaling kepada ilah yang lain. Mereka mendesak Harun, kakak Musa, untuk membuat patung lembu emas yang bisa mereka sembah. Padahal baru sebulan sebelumnya, TUHAN yang menyelamatkan mereka dari Mesir itu melarang dengan keras pembuatan patung dan penyembahan ilah lain selain Dia.

TUHAN yang marah karena kelakuan Israel tersebut ingin membinasakan seluruh bangsa itu dan mengikat perjanjian baru dengan Musa. Akan tetapi, Musa menolak “kesempatan emas” tersebut dan memohonkan belas kasihan bagi Israel. TUHAN pun membatalkan rencana-Nya tersebut dan memerintahkan Musa untuk kembali kepada bangsa durjana itu dan memimpin mereka ke Tanah Perjanjian, seperti yang telah dijanjikanNya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub.

Sungguh besar kasih setia TUHAN! Ia bisa saja memusnahkan bangsa yang tegar tengkuk itu dan memanggil bangsa yang lain, namun karena kasih setia-Nya, TUHAN menyayangkan keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub itu. Ia tetap memberikan Sepuluh Hukum itu kepada mereka. Itu adalah hukum yang bersifat perjanjian, bukan antara dua pihak yang setara, melainkan antara TUHAN yang Mahakuasa, adil, dan setia, dengan bangsa yang kecil, tegar tengkuk, dan tidak setia bernama Israel.

Pemberian Sepuluh Hukum itu adalah manifestasi dari sebuah kasih yang tak terukur, yang terulur kepada sebuah bangsa yang sangat tidak layak menerimanya. TUHAN tahu resikonya. Bangsa itu akan lebih banyak bertindak tidak setia dan mengingkari hukum-hukum-Nya (bahkan ketika mereka baru saja mengalami hadirat-Nya!), namun Ia tetap saja mengaruniakannya kepada mereka. Inilah ironi dan haru di Sinai, yang berlanjut di Golgota, tempat Mesias menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi semua orang, termasuk mereka yang memusuhiNya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s