Di Antara Banyak Pilihan

artikel

Kita hidup di dalam jaman yang penuh kemudahan dan lebih banyak pilihan dibandingkan orang tua kita. Ketika ibu saya bersekolah, beliau harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer setiap hari untuk menuju sekolah atau berdesakan naik angkot yang masih sangat jarang. Sekarang, kita bisa naik angkutan umum yang banyak tersedia, atau bahkan sebagian dari kita mengendarai motor. Sebelum ada internet, orang harus mencari buku atau referensi ke perpustakaan. Tetapi sekarang, tinggal ketik kata yang mau kita cari di Google, maka kita akan mendapat apa yang kita cari (tentu tidak semua, tapi kebanyakan informasi tersedia di internet). Hidup kita jadi lebih mudah.

 

Pilihan-pilihan pun makin beragam. Jika dulu, TVRI adalah stasiun televisi “wajib” (karena memang tidak ada stasiun televisi yang lain), sekarang kita bisa memilih siaran manapun yang kita inginkan, mulai dari stasiun televisi lokal, nasional, hingga internasional. Kalau dulu harus ke bioskop untuk menonton film terbaru, sekarang kita bisa ke toko VCD/DVD dan membeli film apapun yang kita inginkan. Dalam pekerjaan pun, ada lebih banyak pilihan jika dibandingkan dengan jaman dahulu. Pada tahun sembilan puluhan, misalnya, profesi-profesi seperti “toko online” atau “programmer” belum banyak digeluti. Sangat berbeda dengan sekarang.

 

Tersedianya berbagai kemudahan dan pilihan dalam hidup tentu saja memiliki konsekuensi tersendiri. Semua itu bergantung pada bagaimana kita menyikapinya dengan benar. Jika kita salah menyikapi, berbagai pilihan dan kemudahan itu justru dapat menjerumuskan kita ke dalam masalah. Sebaliknya, jika kita bisa menyikapi dengan tepat, maka semua itu bisa menjadi berkat, bagi kita maupun orang lain. Di sinilah pentingnya firman Tuhan, yang akan menolong kita untuk menyikapi tiap pilihan yang ada dengan tepat dan berkenan di hadapan-Nya.

 

Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, rasul Paulus menuliskan kata-kata mutiara yang dapat kita jadikan pedoman dalam menyikapi berbagai pilihan yang ada di depan kita, “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun” (1 Kor. 10:23). Ketika dunia ini menawarkan banyak sekali pilihan kepada kita dan semua itu sepertinya bisa kita pilih, ada satu prinsip yang harus selalu kita pegang: 1. Apakah pilihan itu berguna? Dan 2. Apakah pilihan itu membangun?

 

Berguna untuk siapa? Membangun siapa? Apakah diri kita sendiri? Salah satunya demikian. Pilihan yang kita buat haruslah pilihan-pilihan yang berguna dan membangun kehidupan kita, pertama-tama secara rohani, dan juga secara jasmani. Bolehkah menonton film seharian ketika kita libur? Tidak ada larangan untuk itu. Tapi pertanyaannya bukan lagi boleh atau tidak, melainkan apakah berbagai pilihan itu berguna dan membangun kita atau tidak. Jika tidak, berarti pilihan itu adalah pilihan yang sia-sia, atau bisa jadi malah merusak hidup kita. Banyak remaja yang hidupnya berakhir tragis karena salah memilih. Berhati-hatilah!

 

Tapi bukan hanya untuk diri kita sendiri, pilihan yang kita buat hendaklah juga berguna dan membangun bagi orang-orang di sekitar kita. Di ayat berikutnya (ayat 24) tertulis, “Jangan seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.Apa yang membedakan kita dari hewan adalah dampak yang bisa kita hasilkan bagi sesama manusia. Jika kita hanya hidup untuk mengejar kenyamanan diri dan keluarga kita tanpa pernah memikirkan “keuntungan” orang lain, apa bedanya kita dengan serigala yang berburu untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya? Hewan-hewan itu memiliki insting, tetapi kita punya lebih dari sekedar itu. Kita punya akal budi dan hati nurani, yang dengannya kita dapat berkreasi dan mengasihi sesama. Bahkan lebih daripada itu, sebagai orang percaya, kita telah ditebus melalui pengorbanan Kristus, dengan darah yang sangat mahal! Jika Tuhan saja tidak memperhatikan keuntungan-Nya sendiri tetapi rela mati bagi keselamatan kita, maka sesungguhnya kita tidak punya alasan secuilpun untuk hidup bagi diri sendiri!

 

Terkait dengan pemilihan jurusan, kedua ayat tersebut dapat menolong kita untuk memilih jurusan yang terbaik. Kita harus mengetahui di mana tujuan kita terlebih dahulu sebelum menentukan bus atau angkot mana yang harus kita tumpangi. Demikian pula halnya dengan penjurusan. Kita harus menetapkan terlebih dahulu cita-cita kita, dan cita-cita itu tentu haruslah sesuai dengan kebenaran firman Tuhan: berguna dan membangun orang lain dan diri sendiri. Orang lain harus kita utamakan. Lagipula, bukankah kita adalah terang dan garam, yang notabene tidak pernah menerangi atau menggarami diri sendiri? Juga, bukankah kita harus berbuah banyak? Dan bukankah tidak ada buah yang menikmati dirinya sendiri? Oleh karena itu, dalam menentukan cita-cita, kita seharusnya bertanya, “Pekerjaan atau pelayanan apakah yang akan aku geluti kelak, yang sesuai dengan minat dan bakat yang telah Allah karuniakan, yang paling banyak membawa manfaat bagi orang lain?”

 

Kita harus belajar untuk mengenali apa minat dan bakat kita baik-baik. Sejak SMP, saya sudah mulai merasa tertarik dengan bahasa Inggris. Bahkan sejak kecil, saya suka membaca majalah atau cerita silat yang dibelikan ayah atau pinjaman dari tetangga. Setelah mengenal Tuhan secara pribadi di kelas 2 SMA, saya pun memiliki cita-cita untuk bisa menjadi seperti Filipus yang memberitakan Injil kepada sida-sida dari Etiopia. Karena suka menulis dan membaca kisah-kisah fiksi, maka cita-cita saya pada waktu itu jelas: ingin menjadi novelis yang menulis novel dalam bahasa Inggris, supaya dapat diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Ketika penjurusan, sayapun memilih jurusan IPS (karena tidak ada jurusan Bahasa), meski hasil tes minat bakat menganjurkan IPA.

 

Tentu saja, persetujuan orang tua juga penting, karena mereka lah yang mengerti bagaimana kita bertumbuh, apa ketertarikan kita sejak kecil, dan apa bakat-bakat alamiah kita. Jika kita sudah yakin memilih jurusan tertentu, tugas berikutnya adalah mengkomunikasikannya dengan orang tua kita. Saya bersyukur memiliki orang tua yang mendukung pilihan saya. Akhirnya, saya lulus dari kelas IPS dengan nilai Bahasa Inggris terbaik di sekolah dan melanjutkan berkuliah di Jurusan Sastra Inggris.

 

Meski demikian, seiring berjalannya waktu, cita-cita kita mungkin akan “dimurnikan” Tuhan. Saya juga mengalaminya. Sekarang, tujuan hidup saya adalah membawa nilai-nilai kerajaan Allah itu ke dalam tulisan. Cita-cita saya untuk menulis novel tentu masih ada, namun sementara ini, saya memang sedang dipanggil untuk melayani di bidang media. Itu keyakinan saya. Sama seperti Yusuf yang tidak serta-merta menjadi Perdana Menteri Mesir, melainkan harus melalui proses yang berliku, demikian pula halnya hidup kita kelak bisa jadi seperti itu. Namun satu hal yang pasti, rencana Allah atas hidup kita tidak pernah gagal. Tugas kita hanyalah berdoa sepanjang waktu untuk mengerti apa yang Dia kehendaki bagi hidup kita.

 

Berdoa dan bergumul untuk menetapkan langkah bagi masa depan kita memang tidak mudah. Apalagi, kita hanya satu kali menjalani hidup ini. Tapi itu bukanlah hal yang mustahil dilakukan, karena kita memiliki Roh Kudus, yakni Roh Allah sendiri, Sang Pemegang Sejarah. Ayat-ayat dari Amsal 23:17-18 menyatakan janji Allah akan masa depan bagi kita semua, “Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa. Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” Selalu ada masa depan dan harapan bagi mereka yang takut akan Tuhan. Tuhan memberkati kita semua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s