Orang Kaya Sangat Sulit Masuk Surga

artikel

Di dalam paradigma agama-agama di dunia, beramal atau bersedekah merupakan salah satu kegiatan yang dikatakan bisa mengantarkan pelakunya ke surga. Dengan beramal, diharapkan Sang Pemilik Surga disenangkan, sehingga kelak ketika meninggal, orang yang beramal itu diberikan “visa” untuk masuk surga-Nya. Pandangan ini mirip dengan “iman-iman purba” yang memberikan sesajen kepada “penunggu” tempat tertentu (laut, batu, pohon, dsb.) agar pemberi sesajen dibebaskan dari malapetaka.

Pandangan Sang Guru terhadap amal atau sedekah pun agak mirip, meski ada satu perbedaan yang signifikan. Suatu hari, ada seorang kaya yang datang kepada Sang Guru untuk menanyakan perbuatan baik apakah yang akan bisa membawanya ke surga. Sang Guru kemudian menjawabnya dengan menjabarkan Sepuluh Perintah Allah. Ternyata, orang kaya ini adalah pemeluk agama yang taat, sehingga semua perintah itu sudah diturutinya sejak masa muda. Ia sepertinya tidak puas dengan jawaban Sang Guru, dan juga merasa bahwa masih ada sesuatu yang kurang dengan berbagai ibadah yang dilakukannya.

Tak seperti orang kaya itu, banyak di antara kita yang baru melakukan sedikit dari perintah Tuhan tapi sudah merasa “menggenggam” kunci surga. Akibatnya, muncullah berbagai sifat sombong rohani, menganggap diri sudah suci dan memandang orang lain dengan sebelah mata. Ini adalah sikap yang harus dikoreksi. Seandainya tiap orang beragama mempunyai hati dan pemikiran yang sama seperti orang kaya tersebut, tentunya selalu ada rasa kurang puas di dalam diri. Semakin beragama, semakin merasa tidak layak masuk surga. Inilah yang dialami orang orang kaya tersebut.

Oleh karena itulah, dia bertanya lagi kepada Sang Guru tentang hal apa lagi yang perlu dia lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Jawaban Sang Guru sama sekali tak ia duga. Sang Guru mengatakan bahwa jika ingin sempurna, ia harus menjual semua hartanya dan memberikannya kepada orang miskin, supaya ia memiliki harta di surga. Tak hanya itu, ia diminta untuk mengikuti Sang Guru. Tentu kedua syarat itu merupakan sebuah pukulan yang telak bagi seseorang yang memiliki banyak harta seperti orang kaya itu. Sangat sulit untuk melepaskan segala harta yang merupakan hasil jerih lelah sepanjang hidup untuk kemudian mengikuti Sang Guru.

Satu hal yang perlu diteladani dari Sang Guru, terutama oleh para pemimpin agama, adalah ketidakpedulian akan harta. Seperti yang telah diceritakan, Sang Guru tidak meminta sepeserpun bagian dari orang kaya tersebut, melainkan memintanya untuk memberikan semua hasil penjualan hartanya kepada orang-orang miskin. Banyak pemimpin agama yang disilaukan oleh kekayaan dan kenyamanan hidup, sehingga nasehat ataupun khotbah yang disampaikan tak lagi “netral,” melainkan diselipi oleh kepentingan pribadi. Tentu saja, pelayanan Sang Guru membutuhkan dana operasional. Itulah sebabnya di antara para murid ada yang bertugas sebagai bendahara. Namun, dana atau kekayaan bukanlah fokus utama pelayanan Sang Guru.

Tentang amal atau sedekah, di mata Sang Guru itu semua “dikonversi” menjadi harta di surga, bukan jaminan untuk masuk ke surga. Jika ingin sempurna, orang kaya tersebut harus mengikuti Sang Guru. Sungguh suatu syarat yang berat bagi orang kaya tersebut. Iapun meninggalkan Sang Guru dengan hati yang sedih, mengingat hartanya banyak sekali.

Setelah kepergian orang kaya itu, Sang Guru memberikan sebuah pengajaran yang sangat mencengangkan kepada para murid. Ia mengatakan bahwa sesungguhnya orang kaya sangat sulit masuk surga. Bahkan, kata Sang Guru, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam surga. Tentu saja itu adalal pernyataan yang sangat kontroversial dan menimbulkan pertanyaan besar, lalu siapakah yang bisa masuk surga?

Reaksi para murid yang heboh itu dapat dimengerti. Di jaman itu, amal dan ibadah merupakan prasyarat masuk surga yang diyakini secara umum. Oleh karena itu, tentu saja orang-orang yang memiliki banyak uang memiliki lebih banyak kesempatan untuk beramal/bersedekah, dan oleh karenanya, punya kesempatan yang lebih besar untuk masuk surga. Nah, jika Sang Guru mengatakan bahwa orang kaya saja sangat sulit masuk surga, bagaimana halnya dengan orang-orang golongan “menengah ke bawah”?

Sang Guru kemudian menjawab kegalauan hati para murid dengan sebuah pernyataan yang menghiburkan: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah, segala sesuatu dimungkinkan.” Sang Guru ingin menyampaikan bahwa urusan masuk tidaknya seseorang ke dalam surga tidak ditentukan dari sisi manusia, melainkan dari sisi Allah. Tak peduli berapa keras seseorang berusaha untuk masuk surga, ia takkan mampu memenuhi standar surga itu. Hanya Allah yang dapat menentukan apakah seseorang bisa masuk ke dalam surga-Nya atau tidak. Titik.

Jika demikian, orang seperti apakah yang bisa masuk surga? Dari jawaban Sang Guru kepada orang kaya itu, bisa disimpulkan bahwa hanya orang-orang yang bisa melepaskan “hidupnya” dan mengikuti Sang Guru lah yang bisa masuk surga. Setiap orang memiliki hal-hal penting yang seolah-olah sama dengan hidupnya sendiri. Bagi orang yang kaya itu, hartanya adalah hidupnya. Bagi kita, mungkin hal-hal selain kekayaan (jabatan, harga diri, pasangan, dsb.). Dan, setiap orang yang mau masuk surga, harus berani melepaskan “hidupnya” itu, kemudian mengikuti Sang Guru. Mengikuti Sang Guru berarti mempercayakan hidup kepadanya. Mengikuti Sang Guru berarti siap mengikuti teladan dan mematuhi perintah yang ia berikan. Mengikuti Sang Guru berarti “mati” bagi diri sendiri. Ini bukan hal yang ringan. Ini adalah proses seumur hidup. Selamat mengikuti Sang Guru!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s