Kawin atau Tidak Ya?

artikel

kawin atau tidak ya?/kerangrebus.com


Setelah Sang Guru memberikan komentar tentang perceraian, para murid sepertinya keberatan dengan standar baru yang ditetapkan oleh Sang Guru. “Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah,” demikian kata Sang Guru. Standar baru ini memang bertentangan dengan budaya yang ada pada masa itu. Di dalam masyarakat yang membebaskan seseorang untuk menikah dan bercerai kapanpun mereka mau, Sang Guru mengingatkan mereka tentang kesetiaan pada satu pasangan yang tercantum dalam kitab suci–yang mereka abaikan.

Di sebuah masyarakat yang paternalistik alias mengedepankan kaum lelaki itu, perceraian sepenuhnya menjadi hak lelaki, apapun alasannya. Dengan demikian, seseorang bisa saja menceraikan isterinya hanya karena sudah tidak menarik lagi, untuk kemudian menikahi perempuan lain yang lebih muda, lebih cantik, dan tentunya lebih menarik. Kewajiban suami hanyalah memberikan surat cerai kepada mantan isterinya itu. Para murid lahir dan dibesarkan dalam tradisi yang seperti itu. Mungkin juga mereka pernah melakukannya atau bahkan sedang berencana melakukannya.

Oleh karena itulah, standar baru Sang Guru terlihat begitu berat di mata mereka, sampai-sampai mereka berkata, “Kalau begitu, mendingan tidak usah kawin sekalian.”

Namun Sang Guru menjawab mereka dengan mengatakan bahwa tidak semua orang bisa dengan mudah memutuskan untuk tidak kawin. Kehendak Allah sejak semula adalah “beranak cucu dan bertambah banyak,” dan itu hanya bisa dilakukan melalui perkawinan. Meski demikian, menurut Sang Guru, memang ada orang-orang tertentu yang tidak kawin dengan alasan-alasan tertentu.

Ada yang memang tidak dapat kawin karena kelainan fisik sejak lahir, ada pula yang tidak dapat kawin karena dijadikan demikian oleh orang lain (mungkin seperti para kasim yang kemaluannya dipotong oleh raja/tuan mereka), dan ada pula yang memang berniat untuk tidak kawin agar dapat mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani Tuhan. Bagi Sang Guru, ketiga alasan untuk tidak kawin itulah yang “direstui” Tuhan. Kedua alasan pertama berasal dari luar (faktor eksternal), sedangkan alasan terakhir berasal dari dalam diri (internal).

Di masa kini, ada tren di sebagian kalangan untuk tidak kawin dengan berbagai alasan internal. Ada yang tak mau kawin karena mengejar karir, ada pula yang tidak menyukai hubungan yang bersifat mengikat, dan ada pula yang “terlalu teliti” dalam memilih pasangan (mencari pasangan yang sempurna). Sebagian bahkan tidak mau kawin karena melihat teladan buruk dari orang tuanya yang bertengkar atau bercerai (takut konflik). Meski mungkin bisa dimaklumi, semua alasan yang bersifat internal itu berpusat pada diri sendiri, bukan pada Allah, dan itu jelas tidak berkenan di hadapan-Nya.

Oleh karena itu, murid Sang Guru harus mempertimbangkan baik-baik, apakah ia akan kawin ataukah tidak. Jika ia kawin, haruslah melakukannya dalam rangka mengerjakan mandat Allah; dan jika tidak, ia pun harus melakukannya karena kerajaan Allah. Setelah membuat keputusan, barulah melanjutkan langkah berikutnya. Jika memutuskan untuk kawin, baiklah ia mulai mendoakan dan mencari teman hidup; jika tidak, baiklah ia mulai mendoakan bagian pelayanan mana saja yang akan ia geluti.

Iklan

7 pemikiran pada “Kawin atau Tidak Ya?

  1. ****Kehendak Allah sejak semula adalah “beranak cucu dan bertambah banyak,” dan itu hanya bisa dilakukan melalui perkawinan. *****

    TR :
    Hello mas Philip 🙂

    Saya nanggapin di sini aja ya, males di #K, banyak serum nggak perlu 😛

    Kehendak Allah adalah untuk berbuah dan bertambah banyak, be fruitfull and multiply dan ini, kalau kita link sampai ke perjanjian baru, yakni galatia 5:22-23 maka yang dimaksud bukanlah berbuah dan bertambah banyak dalam makna fisikal semata namun yang terutama justru secara rohaniah : berbuah Buah Roh (Gal 5:22-23) dan bertambah banyak adalah dengan pemuridan.

    Dengan melihatnya dalam konteks rohani maka kehendak Allah itu berlaku untuk semua orang, baik yang menikah maupun tidak menikah. Kepada Petrus (yang menikah) maupun kepada Paulus. Allah tidak menetapkan standar ganda pada anak-anakNya.

    Salam,
    Topan Ripan

    1. pada masa Sang Guru, ayat-ayat itu belum muncul mas, hehe…

      btw, saya juga memiliki pemikiran yang sama tentang beranak cucu dan bertambah banyak serta memenuhi bumi itu secara rohani karena saya juga menggeluti bidang pemuridan 🙂

      jika seorang murid memutuskan untuk kawin, ia pastinya menikahi sesama murid. jika mereka punya anak, tentu anak mereka juga akan jadi murid Sang Guru sesuai Amanat Agung kan? jika tidak punya anak pun, keduanya bisa bersinergi untuk “pergi dan menjadikan semua bangsa murid Sang Guru.” hal yang sama, secara rohani, tentu berlaku bagi yang melajang. 🙂

      yang terpenting, menikah atau tidak menikah, keduanya harus sama-sama bertujuan untuk melaksanakan kehendak Allah. 😀

      salam anti-serum

      1. Selamat pagi mas Philip,

        Kehendak Allah adalah satu, dan ini berlaku bagi semua anak-anakNya.

        Kalau kita katakan kehendak Allah adalah beranak cucu dan bertambah banyak dalam makna/konteks fisikal maka yang tidak menikah atau tidak beranak pinak tentunya melanggar ketetapan/kehendak Allah.

        Kalau kita lanjutnya ke bagian berikutnya ayat tersebut yakni

        “berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

        maka kita mendapatkan bahwa justru dengan beranak cucu dan bertambah banyak secara fisikal, manusia bukan lagi berkuasa atas ikan-ikan dstnya malah dikuasai oleh ciptaan-ciptaan itu.

        Manusia menangkap ikan bukan karena manusia berkuasa atas ikan namun justru karena manusia dikuasai oleh ikan dan materi2 lainnya (makanan, minuman bahkan harta2 dunia/emas dan perak dll). Manusia bersusah payah mencari hidup dari tanah adalah justru karena manusia dikuasai oleh materi, oleh kedagingannya, oleh egoismenya. Kejatuhan manusia (adam dan hawa) adalah ketika mereka dalam tubuh fisik mereka dan ketika mereka mendahulukan keinginan egoisme mereka.

        Sang Guru membenarkan apa yang disampaikan oleh si penanya, perihal lebih baik tidak menikah dan dia tambahkan bahwa tidak semua orang bisa menerima hikmat demikian.

        Mengapa demikian ?

        Saya melihatnya karena keterkungkungan oleh materi, oleh daging dan ini sinkron dengan perkataan Paulus perihal apabila tidak tahan akan nafsu seksual maka sebaiknya menikah daripada hangus terbakar.

        Beranak cucu dalam konteks fisikal adalah sebuah ilusi, mengapa ? karena anak dan cucu itu toh bukan milik ybs. Roh anak-anak dan cucu2nya bukan si ybs yang membuatnya, demikian pula dengan tubuh fisik anak2 dan cucu-cucu itu.

        Pernikahan terjadi akibat adanya nafsu daging, akibat keterpisahan yakni seks dan keinginan2 keterpisahan lainnya yang dimulai dari keterpisahan dengan Allah (analog anak yang hilang di perumpamaan anak yang hilang).

        Mengapa demikian ? karena sejatinya semua manusia itu adalah pengantin perempuan, pernikahan sejati adalah antara manusia dan Sang Guru, bukan diantara sesama manusia.

        Salam,
        Topan

      2. salam mas Topan, saya tidak tahu anda menganut mazhab mana dalam kekristenan, akan tetapi alkitab dengan jelas menyebutkan bahwa Allah melihat tidak baik jika manusia itu seorang diri saja, sehingga diciptakanlah perempuan. setelah itu, turunlah perintah untuk beranak cucu, bertambah banyak, memenuhi bumi, dan menguasai (mengelola) bumi beserta isinya itu. jika Allah tidak menghendaki perkawinan, tentu Dia takkan menciptakan perempuan bukan? Dia tentu bisa membuat manusia Adam menjadi mahluk hermaprodit yang bisa berkembang-biak tanpa perlu berhubungan seks kalau memang kehendak-Nya seperti yang anda sebutkan.

        Seks sejak mulanya adalah kudus; dosalah yang kemudian membuat manusia menyahgunakan seks sehingga tidak berkenan di hadapan-Nya (percabulan, homoseksualitas, dsb). jika Allah tak berkenan akan seks, tentulah Dia bahkan membuat semua mahluk hidup sebagai hermaprodit kan? lagipula bukankah di akhir penciptaan, Allah memandang semua yang telah diciptakanNya–termasuk seks–sebagai “amat sangat baik”? dan mengapa pula karya pertama Sang Guru justru di sebuah pesta perkawinan? jika Sang Guru tak setuju dengan perkawinan, maka jangankan membuat mujizat, hadir saja pun ia takkan mau.

        jangan lupakan juga bahwa dalam sepuluh perintah Allah juga ada perintah untuk menghormati ayah dan ibu supaya panjang umur. bagaimana bisa ada ayah dan ibu jika tak ada prokreasi? dan bagaimana ada prokreasi (yang berkenan) jika tak ada perkawinan? bagaimana mungkin seandainya Allah menolak perkawinan (secara fisik), memasukkan unsur keluarga dalam kesepuluh perintah-Nya?

        nah, ketika seluruh manusia menjadi jahat, maka Allahpun memusnahkannya dengan air bah, menyisakan sebuah keluarga yang masih berkenan (Nuh), dan kembali mengulangi instruksi yang pernah diberikanNya kepada manusia pertama (dan kedua): beranak-cucu dan bertambah banyak serta memenuhi bumi. juga, ketika seluruh penduduk bumi pernah bermufakat untuk berkumpul di satu titik (seputar menara Babel), Allah tidak berkenan dan membuat mereka semua terserak ke seluruh bumi; mengapa? karena mereka menentang perintah-Nya untuk “memenuhi bumi.”

        salam

    2. Selamat malam mas Philip,

      Sang Guru berkata di surga orang tidak kawin dan dikawinkan namun akan hidup seperti malaikat (as angels).

      Surga adalah tempat sejati manusia karena di sanalah Allah berada.

      Coba kita perhatikan Yoh 14:23, Allah dan Yesus berdiam di dalam orang yang mengasihi Allah, mengasihi Yesus.

      Lalu kita kontemplasikan hubungan seks. Kontradiktif ya ?

      Kudusnya hubungan seks adalah buatan, yakni ketika dikaitkan dengan interpretasi ayat tentang beranak cucu dan bertambah banyak (be fruitfull and multiply) yang diinterpretasikan/dimaknai dalam konteks fisikal.

      Apabila tidak dikaitkan kesana, seks atau hubungan seks tak lebih dari aktifitas fisikal untuk mencapi pemuasan. tak jauh beda dengan makan.

      Berbeda dengan mengasihi tanpa syarat (unconditional love). Tindakan ini kudus secara intrinsik, atau kekudusan itu ada di dalam tindakan itu secara inherent, bukan karena dibuat. Bahkan tanpa satupun ayat alkitab untuk ‘mendukung’ tindakan itu, mengasihi tanpa syarat adalah kudus.

      Bumi bukanlah tempat sejati manusia. Bumi hanyalah persinggahan sementara jiwa-jiwa.

      Mazhab mana ? 🙂 Mungkin mashab selibat, entahlah 🙂 saya nggak kepikiran mashab2 an ini. Walau saya sendiri menikah dan punya anak. Dan saya justru bersyukur menerima pemahaman ini ketika saya menikah dan punya anak karena itu artinya saya tidak ngomong karena belum menikah (implied merasakan seks). Istilahnya, saya pengkritisi dari “dalam”, dari “praktisi”.

      Saya memahami apa yang diminta Paulus untuk hidup selibat dan bisa memahami mengapa Sang Guru tidak menikah.

      Oh ya, pernikahan diberkati oleh Allah dan direstui oleh Yesus karena pernikahan adalah sarana untuk meluruhkan egoisme, kalau si manusia mau belajar.

      Pernikahan adalah karena egoisme, bukti ? kalau bukan karena egoisme, harusnya manusia bisa menikah dengan siapa saja, bahkan yang paling menyebalkan sekalipun, kasih tanpa syarat bukan ? namun tidak demikian bukan ? mencari yang cocok, yang baik, yang pengertian dstnya..

      Nah, berangkat dari egoisme itu, dengan Alkitab diharapkan egoisme itu luruh. Diajarkan bahwa pernikahan adalah sarana penyatuan, penyatuan antara manusia yang mana ini khan sebenarnya sudah terjadi di awal penciptaan (Kej 1:26) bahkan sebelum Adam kedatangan Hawa, Hawa khan dari dirinya adam sendiri bukan ? dan roh nya Adam dan rohnya hawa, khan dari Allah bukan ?

      Jadi pernikahan duniawi itu ilusi, wong tadinya satu kok 🙂 . Nah dari egoisme, pernikahan diharapkan bisa meluruhkan egoisme si manusia. Jalan peluruhan lainnya adalah melayani sesama seperti Ibu Teresa atau para pastur dan suster.

      Tidak ada yang lebih hebat antara menikah dan selibat, sama saja, sama2 sarana peluruhan egoisme, be fruitfull and multiply adalah berbuah buah Roh. Jadi standarnya/kehendaknya sama, baik kepada Petrus yang menikah maupun kepada Paulus yang selibat.

      Salam,
      Topan

  2. Selamat pagi mas Philip,

    PA :

    ***jika Allah tak berkenan akan seks, tentulah Dia bahkan membuat semua mahluk hidup sebagai hermaprodit kan? lagipula bukankah di akhir penciptaan, Allah memandang semua yang telah diciptakanNya–termasuk seks–sebagai “amat sangat baik”? ****

    TR :
    Sang Guru berkata bahwa di surga manusia tidak kawin dan dikawinkan. Dan sebelum ada di dunia, manusia di surga bukan ?

    Mengapa ada puasa, bahkan puasa seks ? jawab : karena manusia adalah roh dan seks adalah aktifitas roh yang membutuhkan tubuh fisik untuk implementasinya (termasuk seks pikiran).

    Yang diciptakan amat sangat baik (Kej 1:31) adalah roh, yakni manusia dalam gambar dan rupa Allah (Kej 1:26-27).

    PA :
    jangan lupakan juga bahwa dalam sepuluh perintah Allah juga ada perintah untuk menghormati ayah dan ibu supaya panjang umur. bagaimana bisa ada ayah dan ibu jika tak ada prokreasi?

    TR :

    Pesan dari perintah itu adalah belajarlah dari yang sudah lebih dahulu belajar/memahami/berpengalaman untuk kebaikan diri kita sendiri ketika hidup di dunia ini. Ada bahaya2 di dunia dan bisa berakibat fatal apabila mengandalkan pengalaman diri sendiri.

    Shalom,
    Topan

  3. saya setuju dengan poin bahwa menikah ataupun tidak menikah itu sama berharganya di mata Allah, selama dilakukan dalam rangka memenuhi kehendak-Nya, untuk melayani Dia tentu saja.

    Saya juga tentunya setuju dengan konsep bahwa di surga tak ada lagi namanya pernikahan, kawin-mawin, dsb. masalahnya adalah, adam & hawa waktu itu menurut beberapa penafsiran ada di taman eden yang konon letaknya di sekitar irak sekarang, bukan di firdaus. siapa lagi yang akan merawat dan mengupayakan pelestarian bumi yang sedemikian luas itu demi kemuliaan Allah kalau bukan manusia? saya pikir itulah konteks dari perkawinan: agar manusia multiply dan menjadi rekan2 kerja Allah dalam dunia. sayangnya memang, sebelum mereka sempat beranak-cucu, iblis sudah “mencuri start” dengan membujuk Hawa makan buah terlarang…

    tentang pernikahan, saya pikir kita justru belajar mengenai hubungan antara Allah dan manusia, seperti dalam surat Paulus. Suami mengasihi istri, dan istri tunduk pada suami (butuh dibuat klubnya nggak ya? hehehe…). saya & istri juga saling belajar di bagian ini, tanpa perlu ikut klub2 tertentu 🙂

    Dalam konteks pelayanan mungkin orang yang selibat lebih bermanfaat bagi jemaat karena 24 jam waktunya bisa digunakan untuk melayani. mungkin itu sebabnya Paulus agak menganjurkan selibasi. akan tetapi, lagi-lagi seperti kata Sang Guru, tidak semudah itu selibat/melajang. memang hanya orang2 yang ditentukan Allah untuk itu yang bisa. seorang teman yang waktu SMA nakalnya minta ampun, sekarang malah jadi bruder, sementara yang dulu sepertinya agak kecewek2an justru menikah. ada juga yang dengan menikah malah saling melengkapi dalam pelayanan, dan pelayanan mereka berkembang. itulah misteri panggilan Allah.

    Gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s