Komentar Sang Guru Tentang Perceraian

artikel

cerai/blogspot


Perceraian mungkin menjadi sebuah kata yang akrab di telinga kita. Kita biasa mendengar tokoh-tokoh publik, tetanggga, atau bahkan keluarga kita sendiri, bercerai. Kita seringkali dikejutkan dengan berita perceraian dari pasangan yang selalu tampak mesra di hadapan publik. Karena maraknya kasus pernikahan yang berakhir dengan perceraian, sebagian orang pun malah menjadi paranoid dengan pernikahan. Pendapat di masyarakat pun terbagi dua, antara yang tidak setuju dan yang mencoba memakluminya.

Tak hanya di masa kini, pada masa Sang Guru pun perceraian menjadi sebuah isu yang hangat dan menimbulkan pro dan kontra. Dan seperti biasa, para pembenci Sang Guru pun menggunakan isu yang kontroversial tersebut untuk mencari-cari kesalahan Sang Guru.

Setahu mereka, Sang Guru cenderung berpandangan “liberal” dalam menyikapi berbagai isu religius-kemasyarakatan. Dia sering (bahkan selalu sepertinya) menyembuhkan orang sakit di hari ke-tujuh, padahal dalam pengajaran agama mereka, tidak boleh ada seorangpun yang melakukan pekerjaan di hari ke-tujuh. bahkan hewan-hewan pun tak boleh dipekerjakan pada hari itu.

Tak hanya itu, Sang Guru juga seringkali membaurkan diri dengan “sampah masyarakat,” yakni orang-orang yang menjadi antek penjajah, pelacur, dan sebagainya. Mereka juga mendapat kabar bahwa Sang Guru bahkan sempat beberapa kali berinteraksi dengan orang-orang kafir dan malahan menginap di kampung mereka!

Itulah sebabnya mereka mendatangi Sang Guru dengan sebuah isu yang belum terjawab atau masih menjadi perdebatan: perceraian. Nampaknya kawin-cerai telah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang di komunitas tersebut. Yang menjadikannya kontroversial adalah, meski di kitab suci jelas-jelas tertulis bahwa Tuhan tidak mengijinkan perceraian, salah satu pemimpin besar bangsa itu di masa lalu sepertinya membuat pengecualian dan membolehkan terjadinya perceraian dengan memerintahkan setiap orang yang menceraikan isterinya harus memberikan surat cerai kepada mantan isterinya.

Nah, ketika Sang Guru mengutip kitab suci yang menyatakan “apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia,” mereka pun menyanggah dengan tradisi yang diturunkan oleh pemimpin besar mereka di masa lalu itu.

“Karena kamu keras kepala itulah, maka dia mengijinkanmu menceraikan isterimu, tetapi seharusnya itu tidak boleh,” demikian kira-kira jawaban Sang Guru. Sang Guru kemudian memberikan komentarnya tentang perceraian. Perceraian itu dikaitkannya dengan perzinahan, sebuah dosa besar yang hukuman bagi pelakunya adalah dilempari dengan batu sampai mati. Menurut Sang Guru, setiap orang yang menceraikan isterinya berarti berbuat zinah, kecuali karena isterinya itu telah berbuat zinah dengan lelaki lain.

Di mata Sang Guru, perceraian bukanlah perkara yang remeh. Perceraian itu bukan sekedar katebelece, urusan surat-menyurat belaka. Dan pendapat Sang Guru itu selaras dengan apa yang dikatakan oleh kitab suci. Setiap pernikahan adalah kudus bagi Allah, dan upaya untuk membatalkannya adalah dosa besar, setara dengan perbuatan zinah. Mungkin “tren” yang terjadi pada waktu itu adalah menceraikan isteri untuk kemudian mengawini wanita lain lagi. Itu sama saja dengan melegalkan perselingkuhan, mensahkan perzinahan!

Lagipula, jika seorang laki-laki bisa menceraikan isterinya untuk kemudian mengawini wanita lain, bukankah kelak jika ia bosan dengan isteri kedua tersebut atau bertemu dengan wanita yang lebih cantik dan menarik, ia akan dengan mudah menceraikannya juga dan menikah untuk ketiga kalinya–dan begitu seterusnya? Oleh karena itu, wahai para wanita, jangan sekali-kali menjalin hubungan dengan pria beristeri, sekalipun ia berjanji akan menceraikan isterinya, karena ia bisa melakukan hal yang sama terhadapmu!

Dan wahai para pria, khususnya yang sudah beristeri, janganlah sekali-sekali berpandangan bahwa perceraian itu hanya sekedar masalah surat-menyurat, bagi harta, dan bagi anak. Jangan sekali-sekali melakukan perzinahan dengan menceraikan isterimu karena ingin menikahi wanita lain, karena bagi Allah, itu adalah sebuah perbuatan yang sangat keji dan patut mendapat hukuman mati, seperti halnya berzinah. Seperti kata Sang Guru, seorang pria baru boleh menceraikan isterinya jika isterinya itu kedapatan berzinah dengan pria lain; itupun “boleh,” bukan “harus” menceraikan isterinya.

Demikianlah pendapat Sang Guru tentang perceraian (dan pernikahan), dan jika kita mengaku sebagai murid-muridnya, kita tahu apa yang seharusnya dilakukan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s