Pengemis Buta dan Responnya yang Tidak Wajar

artikel

Ketika Sang Guru berjalan melalui sebuah kota, ada seorang pengemis buta yang berteriak-teriak memohon belas kasihannya. Banyak orang menegurnya supaya diam, mungkin sambil melemparkan beberapa uang receh ke dalam mangkuknya. tapi orang itu bahkan berteriak lebih keras, memanggil Sang Guru yang memang sudah terkenal sebagai penyembuh paling andal di seluruh negeri.

Uniknya, pengemis yang buta itu memanggil Sang Guru dengan sebutan yang hanya dikhususkan bagi Mesias alias Juruselamat yang dijanjikan Tuhan melalui perantaraan nabi-nabi-Nya di kitab suci. Kepada bangsa yang sedang terjajah itu, Tuhan menyisakan sebuah harapan akan munculnya sosok penyelamat yang akan membebaskan mereka seperti Musa membebaskan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir dan memerintah mereka sehingga kerajaan mereka akan makmur, aman, dan sejahtera seperti pada jaman Daud dan Salomo. Ia memanggil Sang Guru dengan sebutan: Anak Daud.

“Anak Daud, kasihanilah aku!” demikian teriak pengemis buta itu. Berkali-kali. Si buta itu bahkan bisa mengenali siapakah sebenarnya Sang Guru, sementara banyak orang yang mengikutinya dan melihat semua mujizat yang diadakannya justru sebaliknya. Hingga saat ini, masih banyak orang yang mengidentifikasikan Sang Guru sebatas sebagai orang yang baik atau tokoh moral yang hebat atau nabi yang besar. Mereka perlu belajar dari si pengemis buta itu.

Namun mungkin itulah ironi yang hendak ditunjukkan Tuhan. Sepertinya Tuhan membuat si pengemis itu mengenal siapakah Sang Guru. Dan, seperti yang dialami nabi-nabi bangsa itu di masa lalu, orang-orang menyuruhnya diam ketika ia berteriak dan memanggil Sang Guru sebagai “Anak Daud,” yang implikasinya adalah kemesiasan. Pemikiran bahwa seorang tukang kayu dari kota kecil adalah Mesias atau Juruselamat merupakan ide yang absurd bagi mereka. Tak berdasar.

Sang Guru pun berhenti dan menyuruh orang memanggilnya. Ia kemudian bersegera mendekati Sang Guru dengan dituntun oleh salah seorang pengikut Sang Guru. Setelah ia mendekat, Sang Guru menanyakan apa yang dia inginkan dari Sang Guru. Pengemis buta itu tidak minta banyak hal. Satu hal saja yang dimintanya, yakni agar ia bisa melihat. Dan, seperti yang sudah bisa ditebak, Sang Guru yang murah hati itu pun mengabulkan permintaan si pengemis. Ia akhirnya bisa melihat! Ia kemudian menjadi salah satu pengikut setia Sang Guru.

Bagi pengemis buta itu, kesembuhannya bukanlah alat untuk menggapai cita-cita pribadi, melainkan sebagai “akselerator” untuk pelayanannya bagi Sang Guru dan sesama. Apa reaksi “normal” seorang buta yang kemudian bisa melihat? Pastilah ia memuaskan pandangan matanya dengan berbagai keindahan yang belum pernah dilihatnya.

Bukankah dia bisa saja berlari pulang ke rumah dan melihat seperti apa wajah keluarganya? Bukankah wajar jika ia kemudian berlari ke puncak bukit untuk melihat “dunia” yang belum pernah dilihatnya? Akan tetapi, respon si pengemis buta ini aneh, tidak wajar, bahkan tidak masuk akal. Ia langsung mengikuti Sang Guru. Itu saja.

Memang, jika seseorang tahu yang sebenarnya tentang Sang Guru, ia akan memberikan respon yang aneh, tidak wajar, bahkan bisa dikatakan “gila.” Ribuan–bahkan mungkin jutaan–orang telah memberikan respon serupa, persis seperti si pengemis buta. Banyak pengikut Sang Guru yang rela diusir dari rumahnya, diusir dari negerinya, dianiaya, bahkan dibantai karena keteguhannya dalam mengikut Sang Guru.

Mengapa Sang Guru membiarkan pengemis itu mengikutinya? Pastilah karena itu suatu hal yang sangat wajar bagi Sang Guru. Kewajaran versi Sang Guru memang berbeda dengan kewajaran versi orang banyak. Lagipula, bukankah kehidupan Sang Guru merupakan cerminan kehidupan yang “tidak wajar?” Belum lagi segala mujizat yang diadakannya itu; itu semua bukan hal yang lazim terjadi, bukan?

Bagaimana dengan kita saat ini? Adakah hidup kita masih tergolong “wajar-wajar saja” bagi kebanyakan orang? Ataukah kita sering dikatakan sebagai orang yang aneh, tidak masuk akal, atau bahkan gila karena ketekunan kita mengikut Sang Guru? Bagaimana kita meresponi segala “kesembuhan” yang telah dikerjakan Sang Guru dalam kehidupan kita masing-masing? Adakah kita meresponi menurut kewajaran orang banyak ataukah kewajaran Sang Guru? Yang jelas, tak ada satupun murid Sang Guru yang hidupnya “wajar-wajar saja.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s