Kehilangan

artikel

kehilangan/dvdbeaver

Beberapa dari kita mungkin pernah merasakan apa yang disebut “kehilangan.” Kehilangan merupakan kata yang menyakitkan, mungkin, karena ia melawan “natur” kita sebagai mahluk ciptaan. Ia berlawanan dengan penciptaan. Jika dalam penciptaan yang tidak ada menjadi ada, maka di dalam kehilangan, apa yang tadinya ada menjadi tidak ada.

Objek yang hilang bisa bermacam-macam. Ada yang kehilangan sandal, ada pula yang kehilangan uang. Ada yang kehilangan jabatan, dan ada juga yang kehilangan orang yang disayang. Kehilangan yang terakhir mungkin merupakan kehilangan yang paling menyakitkan. Bisa jadi karena yang hilang itu takkan pernah bisa tergantikan.

Beberapa tindakan bisa mengikuti peristiwa kehilangan, misalnya membeli yang baru atau mencari pengganti, berdiam diri karena mungkin yang hilang itu tidak begitu signifikan atau signifikan namun dirasa tak tergantikan, atau mencari yang hilang itu hingga ditemukan, karena masih ada sedikit asa bahwa yang hilang itu bisa ditemukan.

Abraham mungkin termasuk tipe orang yang mencari pengganti ketika kehilangan istri yang disayanginya, karena ia kemudian mencari istri yang baru. Sementara itu Yakub, cucunya, mungkin tipe orang yang pasif, karena ia percaya saja ketika dikabarkan bahwa ada kemungkinan Yusuf (anak yang dikasihinya) telah diterkam binatang buas, dan tidak ada upaya untuk mencari sisa-sisa jasad si anak.

Tipe yang ketiga diceritakan oleh Sang Guru, yakni seorang gembala yang kehilangan salah satu dari seratus dombanya. Meski masih banyak domba yang lain, namun gembala itu rela membuang waktu, tenaga, dan (mungkin) uangnya untuk mencari satu dombanya yang hilang. Gembala itu masih melihat sepercik harapan yang tersisa bahwa dombanya itu akan bisa ditemukan kembali.

Sang Guru kemudian mengajak para pendengarnya waktu itu untuk merenungkan bahwa seperti gembala itu berkeras hati untuk mencari dombanya yang terhilang, demikianlah Tuhan juga akan melakukan apapun agar tak ada satupun umat-Nya yang terhilang.

Sebenarnya, Sang Guru juga sedang mengidentifikasikan dirinya dengan gembala itu. Masih ingat kisah ketika Sang Guru makan dan minum di rumah Matius si pemungut cukai? Sang Guru pernah mengatakan bahwa ia datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa, orang yang terhilang.

Sang Guru memiliki hati seperti si gembala. Ia punya kemauan yang keras untuk menemukan dombanya yang terhilang. Selama masih ada harapan, pencarian korban kecelakaan atau bencana alam, misalnya, tak boleh dihentikan. Hati seorang gembala, itulah yang Sang Guru berikan kepada para muridnya ketika mereka menerima curahan Roh Kudus.

Hati gembala itulah yang semestinya kita miliki jika kita berkata bahwa kita adalah murid Sang Guru. Seberapa sesakkah hati kita ketika melihat banyak orang yang terhilang, jauh dari persekutuan dengan Tuhan? Seberapa keraskah kemauan kita untuk pergi dan mencari mereka yang terhilang, selagi masih ada harapan? Kiranya kita benar-benar memiliki hati gembala yang pedih hatinya melihat manusia yang berdosa, dan benar-benar merasa kehilangan!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s