Yang Paling Besar di Surga

artikel

Entah mengapa, masing-masing kita punya semacam “timbangan” di dalam hati, dan disadari atau tidak, dunia kita terkotak-kotak olehnya. Kita punya konsep tentang banyak-sedikit, cepat-lambat, besar-kecil, dan sebagainya. Untuk konsep ini, hampir semua orang di seluruh dunia punya konsep yang sama.

 

Kemudian, setelah membuat kotak-kotak tersebut, kita cenderung membuat tingkatan-tingkatan, membuat berbagai perbandingan. Nah, untuk yang ini, mulailah ada perbedaan pendapat yang tak jarang berujung pada konflik atau bentrok fisik.Adayang mengatakan bahwa besar itu lebih baik, tapi ada pula yang mengatakan bahwa kecillah yang justru lebih baik.

 

Paramurid sepertinya sepakat bahwa besar itu lebih baik. Itulah sebabnya, mereka bersaing untuk menjadi yang paling besar, bukan di dunia ini, karena mereka sama-sama murid yang mengikuti Guru yang miskin, melainkan di surga. Mereka yakin bahwa Sang Guru yang mereka ikuti adalah orang yang akan menyelamatkan bangsa mereka dan memerintah di surga.

 

Mereka sepertinya berebut posisi kedua setelah Sang Guru. Bagi mereka, surga saja tidak cukup. Mereka harus menjadi yang paling hebat di surga. Dalam kata lain, lingkaran emas di atas kepala mereka haruslah yang paling berkilau. “Siapa yang paling besar di surga” adalah “trending topics” dalam pembicaraan-pembicaraan mereka. Mungkin karena tidak terjadi kesepakatan, para murid itupun berkonsultasi kepada Guru mereka.

 

Sang Guru memberikan jawaban logis. Sambil menempatkan seorang anak kecil di tengah-tengah mereka, ia mengatakan bahwa barangsiapa mau masuk surga, ia haruslah bertobat dan menjadi seperti anak kecil. Tentu saja! Bagaimana bisa “memenuhi syarat” untuk menjadi yang paling hebat di surga, kalau tidak bisa memenuhi syarat untuk masuk ke surga? Yang paling penting adalah masuk terlebih dahulu, baru setelah itu bicara tentang siapa yang paling hebat disana.

 

Bertobat dan menjadi seperti seorang anak kecil, tentu saja bukan lantas menjadi cengeng atau tidak mandiri. Karena Sang Guru bicara tentang pertobatan yang berkaitan dengan hati, tentu yang dimaksud adalah memiliki hati seperti anak kecil. Seperti apakah hati anak kecil itu? Tentu ada banyak pendapat soal hal ini, tapi paling tidak ia adalah hati yang tulus, yang tidak gampang curiga, yang tidak membenci apalagi mendendam, dan hati yang percaya 100% pada orang tuanya.

 

Dan itu baru prasyarat untuk bisa masuk surga.

 

Berikutnya, barulah Sang Guru menanggapi pertanyaan awal yang mereka ajukan. Tapi, sebenarnya itu nampak seperti sebuah sindiran. Sang Guru berkata, bahwa kalau ingin menjadi yang terbesar di dalam surga, mereka harus mau merendahkan diri dan (lagi-lagi) menjadi seperti si anak kecil. Jadi setelah bertobat untuk masuk surga, seseorang harus merendahkan diri baru bisa dikatakan sebagai yang paling besar atau paling hebat di surga.

 

Apakah seseorang yang rendah hati masih berpikir tentang menjadi yang paling besar, paling hebat, atau paling berkuasa? Tentu tidakkan? Bahkan jika kita berusaha untuk merendahkan diri dengan tujuan untuk menjadi yang terbesar, itu berarti kita tidak sedang sungguh-sungguh merendahkan diri. Kerendahan hati kita tidak tulus, dan ketidaktulusan jelas bukan bagian dari hati seorang anak kecil.

 

Demikianlah Sang Guru menanggapi polemik yang selama ini beredar di antara para murid tentang siapakah yang paling besar di dalam surga. Banyak orang mengeraskan hatinya dan tidak mau bertobat dari jalannya yang sesat. Lebih banyak lagi orang yang mengejar kebesaran dan kemuliaan pribadi daripada merendahkan diri seperti seorang anak kecil. Semoga kita semua memiliki hati seperti seorang anak kecil, hati yang paling besar di surga!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s