Mengusir yang Susah Diusir

artikel

Setelah peristiwa menakjubkan perubahan rupa Sang Guru di atas gunung, Sang Guru mengajak tiga murid itu turun gunung.

Sesampainya di kota dan bertemu dengan para murid lainnya, ada seorang ayah yang datang dan memohon Sang Guru untuk menyembuhkan anaknya yang terkena ayan. Rupanya beberapa waktu sebelumnya, entah ketika Sang Guru naik ke gunung dan berubah rupa atau ketika para murid ditugaskan Sang Guru untuk “praktek lapangan,” orang itu sudah pernah membawa anaknya kepada para murid, namun tidak sembuh juga.

Di jaman itu, penyakit ayan memang memiliki tanda-tanda yang sama dengan kerasukan setan. Penderita sewaktu-waktu bisa kejang-kejang, tidak sadarkan diri, terjatuh, dan buih-buih keluar dari mulutnya. Jika penyakit ini menyerang ketika sedang tidur atau di padang rumput, mungkin tidak jadi masalah. Namun, si anak seringkali tidak sadarkan diri dan terjatuh ke api atau air, dan itu tentu sangat berbahaya.

Mengapa para murid tak bisa menyembuhkan si anak? Apakah mereka kurang “sakti?” Apakah “ilmu” yang diberikan oleh Sang Guru ketika ia mengutus mereka untuk berkeliling, menyembuhkan semua penyakit, dan mengusir setan-setan tidak cukup ampuh? Tentu tidak demikian.

Bagi Sang Guru, anak itu tidak dapat disembuhkan karena mereka kurang percaya. Itulah sebabnya ia menegor mereka dengan keras. Ia menegor ketidakpercayaan mereka. Kemarahan Sang Guru sangat beralasan. Ia tidak mengadakan mujizat dengan sembunyi-sembunyi, melainkan di hadapan banyak orang. Oleh karenanya, seharusnya mereka tidak punya alasan untuk tidak mempercayai kehebatan “ilmu” Sang Guru.

Sang Guru menyuruhnya untuk membawa si anak. Dengan sekali bentakan, Sang Guru mengusir setan yang mengganggu si anak. Si anak itupun sembuh seketika itu juga. Para murid terheran-heran. Mereka bertanya-tanya, mengapa mereka tak bisa menyembuhkan si anak, padahal mereka bisa mengusir setan dari “pasien-pasien” yang lain. Rasa penasaran itu akhirnya mereka sampaikan kepada Sang Guru, tentu setelah mereka sendirian saja.

“Karena kalian kurang percaya,” demikian jawab Sang Guru. Lebih lanjut, Sang Guru menjelaskan betapa hebatnya kekuatan sebuah hal yang bernama iman (percaya). Iman sekecil apapun membuat segala sesuatu yang mustahil menjadi tidak mustahil lagi. Iman sekecil biji sesawi (mungkin sebesar biji cabai) saja bisa membuat gunung berpindah.

Tentang iman yang membuat gunung berpindah ini, pernah ada kesaksian dari gereja yang ingin meresmikan gedung baru, namun rencana itu belum bisa dilaksanakan karena lahan parkir sangat terbatas. Gereja masih punya sisa tanah, namun masih berupa gundukan tanah yang tinggi. Untuk meratakannya, dibutuhkan biaya yang sangat mahal, sewa alat, truk, pekerja, dan sebagainya. Jemaat pun berdoa agar Tuhan memindahkan “gunung” itu.

Tuhan menjawab doa mereka dengan cara yang luar biasa. Tiba-tiba mereka ditelepon oleh sebuah perusahaan konstruksi yang menginginkan “stok tanah” gereja yang berlebih itu. Tak hanya menawarkan untuk memindahkan “gunung” itu, mereka bahkan membelinya dan meratakan tanah itu secara gratis!

Kuasa Sang Guru tidak terbatas, hanya saja ia membutuhkan sedikit iman untuk bekerja. Iman seperti yang dimiliki sang perwira ketika ia memohonkan kesembuhan budaknya kepada Sang Guru. Iman seperti yang dimiliki sang perempuan yang sakit pendarahan, yang percaya bahwa ia cukup menyentuh jubah Sang Guru agar sembuh. Iman seperti jemaat gereja itu yang meminta Tuhan untuk memindahkan gunung itu bagi mereka.

Jika kita mendapati hal-hal yang menghalangi dimuliakannya Tuhan di dalam hidup kita, entah itu setan, gunung, kebiasaan buruk, atau apapun yang lain, yang perlu kita lakukan sangat sederhana: percayalah akan kuasa Sang Guru yang tidak terbatas itu dan usirlah semua pengganggu itu dalam nama Sang Guru. Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s