Sang Guru Berubah Rupa!

artikel

The Teacher's Transfiguration/gerhardy

Setelah menyampaikan syarat-syarat yang sangat berat untuk menjadi muridnya, Sang Guru mengajak tiga muridnya naik ke sebuah gunung. Ketiga murid itu memang termasuk murid yang “vokal” dan seringkali dianggap sebagai pemimpin para murid. Akan tetapi, mengajak sebagian murid ke gunung atau tempat yang sunyi bukanlah kebiasaan Sang Guru. Selama ini, Sang Guru hanya punya dua kebiasaan menyendiri: bersama kedua belas murid sekaligus atau hanya seorang diri saja.

Murid yang diajak ataupun yang tidak diajak Sang Guru ke gunung itu mungkin bertanya-tanya, ada apa sebenarnya? Berbagai spekulasi mungkin muncul, tapi biasanya jika seorang guru mengajak sebagian murid untuk berbicara tersendiri, maka ada hal-hal yang sifatnya rahasia yang akan diberitahukan oleh guru kepada murid-murid itu. Salah satu murid itu, yang kita tahu pernah dikatakan Sang Guru sebagai “pemegang kunci surga,” mungkin mengira bahwa Sang Guru akan memberikan “kunci” itu kepadanya, dengan disaksikan oleh kedua temannya (di jaman itu, sebuah perjanjian atau kesaksian baru sah jika dibenarkan oleh minimal dua orang saksi).

Spekulasi itu tak sepenuhnya salah, hanya saja Sang Guru tidak memberi kunci atau jimat apapun kepada si murid. Yang jelas, mereka mendapatkan sebuah kesempatan istimewa ketika mereka melihat Sang Guru berubah rupa di hadapan mereka. Wajah Sang Guru tiba-tiba bercahaya seperti matahari dan pakaiannya pun bersinar terang. Tempat yang temaram itu tiba-tiba menjadi terang benderang oleh cahaya yang keluar dari Sang Guru. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan dan tentu sebuah kesempatan yang sangat istimewa!

Tak hanya itu, mereka juga berkesempatan untuk melihat sendiri seperti apa rupa dua orang nabi legendaris yang kisah dan kepahlawanannya selalu mereka dengar di rumah-rumah ibadah. Nabi yang pertama memimpin nenek moyang mereka keluar dari negeri perbudakan dengan mujizat-mujizat yang dahsyat. Salah satu mujizatnya, memimpin seluruh bangsa yang jumlahnya lebih kurang dua juta orang itu berjalan menyeberangi laut yang terbelah, kini bisa disaksikan jejaknya melalui pencitraan satelit. Nabi yang kedua tak kalah “hebat.” Ia juga mengadakan berbagai mujizat luar biasa dan bahkan langsung “dijemput” ke surga ketika ia masih hidup, dengan sebuah kereta berapi.

Sang Guru dan kedua nabi itu sepertinya sedang mengadakan semacam “briefing” karena pemandangan itu tak berlangsung lama. Penawaran si murid untuk membuatkan tiga tenda bagi mereka bahkan belum sempat dijawab ketika tiba-tiba ada suara dari langit yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan, dengarkanlah dia.” Spontan saja, para murid langsung tersungkur ke tanah dan menjadi sangat ketakutan. Setelah itu, keadaan berubah seperti semula. Sang Guru menenangkan mereka dan berpesan sembari mereka turun, agar mereka tidak menceritakan apa yang baru saja mereka alami sebelum waktu tertentu.

Di sini, kita juga lazim mendengar orang-orang tertentu yang bisa berubah rupa. Bedanya, mereka biasanya berubah menjadi binatang, entah itu babi, macan, kera, atau yang lainnya. Lagipula, perubahan rupa mereka tidak menimbulkan perasaan bahagia yang luar biasa sebagaimana dialami oleh ketiga murid Sang Guru, namun sebaliknya, menimbulkan ketakutan bagi orang yang melihatnya. Beberapa orang berpendapat bahwa apa yang dilihat para murid adalah rupa Sang Guru “edisi surga,” alias begitulah keadaan Sang Guru ketika di surga. Kelak kita akan mengetahuinya sendiri. Bahkan, tak menutup kemungkinan kita juga akan berubah rupa seperti Sang Guru ketika sudah berada di surga!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s