Mahalnya Menjadi Seorang Murid

artikel
sarah lawrence college/edugree.com

sarah lawrence college/edugree.com

Murid yang pernah dalam sekali waktu disanjung Sang Guru namun di waktu yang lain disebut “Iblis” oleh pribadi yang sama itu pasti tahu betul apa makna judul tulisan ini. Sejarah mencatatnya sebagai murid yang “tidak berbakti” karena menyangkal hubungannya dengan Sang Guru ketika gurunya itu ditangkap. Namun, sejarah juga mencatatnya sebagai seorang murid yang kemudian begitu gigih di dalam imannya. Ia mati dengan cara yang sama seperti gurunya (disalibkan), namun ia meminta supaya disalibkan terbalik, alias kepala di bawah, karena merasa tak layak untuk mati seperti Sang Guru.

Setelah teguran yang keras itupun, Sang Guru memberikan persyaratan yang sangat ketat untuk menjadi seorang murid. Mengikuti Sang Guru adalah langkah terakhir setelah seseorang menyangkal diri dan memikul salibnya. Menyangkal diri itu berarti tidak mengakui ke-aku-an. Membuang ego jauh-jauh. Sedangkan memikul salib, di masa itu berarti kehinaan dan kematian. Seseorang takkan bisa menanggung kehinaan dan kematian jika ia belum meninggalkan ke-aku-annya, belum membuang egonya. Dan, seseorang tak bisa mengikut Sang Guru jika ia belum sanggup menanggung kehinaan dan kematian!

“Biaya pendaftaran” untuk menjadi murid Sang Guru itu jauh lebih mahal daripada biaya pendaftaran sekolah berskala internasional, bahkan jauh lebih mahal daripada biaya masuk ke Sarah Lawrence College di New York yang lebih dari setengah milyar Rupiah itu. Ya, untuk menjadi murid Sang Guru, kita harus menyerahkan hidup kita tanpa syarat. Orang akan rela membayar berapa saja untuk mempertahankan hidupnya, karena memang sesungguhnya hidup itu jauh lebih berharga dari semua yang ada di dunia.

“Untuk apa seseorang mendapatkan seluruh dunia kalau ia kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” Demikian kata Sang Guru. Nyawa itu sangat berharga. Bahkan toko termahal di dunia, Bijan, pun tak menjual nyawa. Tak ada yang dapat memproduksinya selain Dia yang menciptakan alam semesta. Lagipula, Tuhan tidak menjualnya. Hidup atau nyawa itu “not for sale.”

Namun demikian, meski biaya pendaftarannya sangat mahal, Sang Guru berjanji bahwa kelak semua biaya yang dikeluarkan untuk mendaftar menjadi murid Sang Guru akan dikembalikan. Dan, janji Sang Guru selalu bisa dipegang. “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya,” demikian janji Sang Guru. Siapakah sebenarnya Sang Guru ini, hingga dia “berani” menjamin bahwa murid yang kehilangan nyawa demi dia akan mendapatkannya kembali? Apakah Sang Guru sedang menghipnotis atau menipu para murid? Tentu saja tidak. Satu-satunya kemungkinan adalah bahwa Sang Guru, selain berkuasa atas setan, penyakit, dan alam, juga berkuasa atas nyawa manusia!

Hingga sekarang, masih banyak orang yang tidak sanggup membayar biaya pendaftaran untuk menjadi murid Sang Guru itu. Mereka merasa biayanya terlalu mahal, meski mereka tahu bahwa mereka akan menerima kembali biaya yang mereka keluarkan. Apakah itu berarti syarat Sang Guru mengada-ada? Tentu saja tidak, karena tak sedikit pula orang yang mau memberikan hidup mereka demi Sang Guru. Mereka bersedia menanggung tiap sindiran, ejekan, aniaya, bahkan kematian, demi menjadi murid Sang Guru. Tujuan utama mereka bukan lagi kesenangan pribadi, tapi kehendak Sang Guru.

Menjadi seorang murid, apalagi murid Sang Guru memang selalu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Akan tetapi, apa yang akan kita terima dan Sang Guru jauh melampaui semua biaya yang kita keluarkan. Sudahkah anda mendaftarkan diri?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s