Bangkrutnya Seorang Kompromis

Insights


Siapa yang tidak kenal nama Sodom dan Gomora? Wilayah tersebut diceritakan begitu jahatnya, sampai-sampai Tuhan murka dan memusnahkannya dalam sekali peristiwa. Kejahatan utamanya adalah homoseksualitas agresif yang merata di semua penduduk laki-lakinya, dari anak-anak hingga orang tua!

 

Lot, saudara sepupu Abraham, memilih untuk mendiami wilayah Sodom dan Gomora; bukan karena kejahatannya, namun karena kesuburan tanahnya yang luar biasa. Karena merasa membutuhkan kesuburan tanah Sodom dan Gomora untuk kelangsungan hidup keluarga dan ternaknya, Lot pun menurunkan standar moralnya dan memilih untuk “berdamai” dengan kejahatan masyarakat Sodom dan Gomora itu. Demikianlah Lot datang dan menjadi salah satu penduduk Sodom dan Gomora, bahkan bisa dikatakan menjadi orang yang terkemuka di sana.

 

Abraham, bapa orang beriman itu, telah mengupayakan agar Sodom dan Gomora tidak dimusnahkan, terutama karena ia mengingat bahwa saudaranya (Lot) tinggal di sana. Abraham pun membuat “penawaran” dengan Tuhan, yakni dengan menggunakan keberadaan orang benar di Sodom dan Gomora sebagai “pelindung” mereka dari murka Tuhan.

 

Akhirnya, terjadilah “kesepakatan,” yakni bahwa jika Tuhan mendapati ada sepuluh orang benar saja di sana, maka Dia takkan menghukum wilayah itu. Abraham mungkin berpikir bahwa Lot pastilah sudah “menularkan” imannya kepada penduduk asli Sodom dan Gomora, sehingga ada pertambahan orang benar di sana dan Tuhan membatalkan penghukuman-Nya.

 

Namun ternyata harapan Abraham salah; doanya bisa dikatakan sia-sia, karena jangankan sepuluh, lima orang benar saja pun tidak ada di sana. Lot telah lama meninggalkan imannya kepada Tuhan yang memelihara, itulah sebabnya ia memilih untuk berkompromi dengan kejahatan. Dan, apakah yang bisa dikerjakan oleh seorang kompromis untuk pemberitaan kabar baik? Tidak ada. Tidak ada seorangpun yang mempercayai perkataan Lot, bahkan ketika ia menyebut nama Tuhan. Action talks louder than word. Perbuatan berbicara lebih keras daripada perkataan. Bahkan kedua bakal menantunya pun menganggap perkataannya sebagai omong kosong belaka!

 

Kita melihat kebangkrutan seorang kompromis dalam kisah Lot dan Sodom-Gomora ini. Harapan akan kekayaan yang dijanjikan oleh tanah subur Sodom dan Gomora telah menyilaukan mata Lot. Standar moral Lot telah dikacaukan oleh keinginannya akan kelimpahan hidup. Akhirnya, secara ironis ia harus meninggalkan semua hasil jerih payahnya agar ia bisa selamat dari penghukuman Tuhan atas Sodom dan Gomora. Tak hanya itu, isterinya pun harus ia relakan di belakang karena menjadi tiang garam. Nyonya Lot kemungkinan besar telah “tertular” kekacauan prinsip hidup suaminya yang terikat pada harta itu.

 

Seandainya saja Lot tidak mau berkompromi dengan kejahatan Sodom dan Gomora, seandainya saja ia lebih memilih Tuhan dalam menjalani kehidupannya, maka sejarah takkan merekam peristiwa penghancuran masif terhadap kota-kota Sodom dan Gomora. Memang, bisa jadi Lot dibunuh oleh penduduk Sodom-Gomora jika ia menolak berkompromi, dan kemudian Tuhan tetap menghukum wilayah itu.

 

Namun, bisa jadi pula (dan pastinya!) Lot menyelamatkan kotanya dari murka Tuhan. Lot seharusnya bisa memiliki wibawa rohani yang cukup untuk paling tidak mempertobatkan enam orang saja dari seluruh penduduk Sodom dan Gomora, untuk memenuhi “kuota anti-bencana” yang disetujui Tuhan. Parahnya, bahkan ada kemungkinan bahwa para bawahannya yang ia bawa ke Sodom dan Gomora, ikut tercemar oleh kejahatan penduduk aslinya.

 

Sebagaimana kekayaan dan kebahagiaan yang diperoleh dari hasil kejahatan itu semu, demikian pula kekayaan dan kebahagiaan yang diperoleh dari hasil kompromi terhadap para penjahat. Inilah pelajaran penting yang bisa kita petik dari kisah Lot. Sebagai umat Tuhan, kita diharapkan untuk tidak mau berkompromi dengan kejahatan. Terang tak bisa (dan tak boleh!) bersatu dengan gelap. Allah kita adalah Allah yang Pencemburu. Ia tak mau “dimadu” dengan apapun. Kita tak bisa bersepakat dengan firman Tuhan sekaligus berkompromi dengan kejahatan.

 

Mari kita bangkit menjadi orang-orang yang berdiri bagi kebenaran dan keadilan. Sudah terlalu lama kita berdiam diri dan berkompromi dengan kejahatan yang berlangsung di negeri ini. Mari kita perbaiki cara hidup kita seturut firman Tuhan, dan setelahnya, membuka mulut kita untuk memberitakan kebenaran dan keadilan, untuk memberitakan kabar baik dan menganjurkan pertobatan kepada semua orang. Jangan sampai kita mengalami kebangkrutan seorang kompromis seperti yang dialami Lot. Mari kita lakukan sesuatu bagi keselamatan “Sodom dan Gomora” yang kita diami ini. Mari kita selamatkan Indonesia!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s