Yesus: Radikal Bagi Radikalis

Insights

Yesus adalah sosok yang radikal, bahkan bagi para radikalis. Suatu ketika setelah mengundang Matius si pemungut cukai–yang biasanya dianggap sebagai pengkhianat bangsa karena menjadi “antek” penjajah–Yesus makan di rumah murid barunya itu.

Banyak orang bergabung dalam jamuan makan kali itu, dan kebanyakan tamu yang datang adalah para pemungut cukai, pelacur, dan orang-orang yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Orang Farisi yang melihat hal itu merasa terusik, karena Yesus yang dianggap banyak orang sebagai guru agama (baca: orang suci) mau bergaul dengan para pendosa dan pengkhianat bangsa.

Orang Farisi adalah sebutan bagi gerakan umat Yahudi yang menginginkan kembalinya kejayaan Israel seperti masa Daud dan Salomo. Sebagaimana janji Tuhan yang mereka baca di kitab suci, Tuhan akan memulihkan keadaan Israel jika bangsa itu mau bertobat dan melakukan semua hukum Taurat dengan sungguh-sungguh. Banyak cara yang dilakukan kaum Farisi untuk melaksanakan hukum Tuhan, dan kebanyakan adalah penekanan yang kuat untuk menjalankan hukum Taurat sedetil-detilnya.

Kaum Farisi adalah para penganut agama Yahudi yang berjuang secara radikal, melalui ibadat-ibadat yang mereka jalankan. Nah, bagi mereka, apa yang dilakukan Yesus adalah sesuatu yang melenceng dari apa yang mereka percaya/pelajari. Bagi mereka, Yesus adalah “pemberontak” adat istiadat. Yesus, di mata kaum Farisi yang radikal itu, adalah radikal.

Apa yang membedakan sikap radikal yang ditunjukkan kaum Farisi dan yang ditunjukkan Yesus? Kaum Farisi mendasarkan radikalisme mereka pada aturan dan adat istiadat turun-temurun, tanpa (berusaha) mengerti mengapa aturan itu ada. Yesus, di sisi lain, tahu betul alasan-alasan di balik tiap hukum yang diturunkan kepada bangsa Israel lewat Musa itu.

Bagi kaum Farisi, menjaga kemurnian berarti termasuk tidak bergaul dengan orang-orang berdosa. Itulah sebabnya mereka memprotes keras ketika Yesus makan bersama-sama dengan Matius dan kawan-kawannya. Akan tetapi, Yesus punya pemikiran yang lain, pemikiran yang radikal bagi para radikalis itu. Kita tidak dipanggil untuk menjaga kesucian, melainkan untuk “menularkannya” pada orang-orang berdosa.

Kaum radikalis terlalu berkonsentrasi pada perintah-perintah Tuhan, sampai-sampai mereka melupakan isi hati-Nya. Tuhan menghendaki belas kasihan, demikianlah kata Yesus, dan bukan sekedar persembahan. Percuma beribadah jika tak menyelami hati Tuhan. Lagipula, jika kaum Farisi tak “mengobati” umat Tuhan yang sedang tersesat itu, bukankah keselamatan yang dari Tuhan itu takkan tercapai–karena belum semuanya bertobat?

Kaum Farisi gagal melihat Tuhan dalam perintah-perintah-Nya. Yesus membukakan hal yang baru pada mereka: belas kasihan lebih penting daripada ibadat-ibadat mereka yang tak sampai pada sasaran itu. Revolusi harus dimulai dari hati, bukan dari cara beribadah. Seseorang yang hanya tahu memasang chip pada motherboard akan bekerja nyaris tanpa gairah, karena pekerjaannya sekedar rutinitas. Hasil yang berbeda akan nampak pada pegawai yang tahu bahwa yang dia kerjakan adalah sebuah bagian dari pembuatan laptop yang mereknya terkenal di seluruh dunia.

Ibadat-ibadat yang sekedar rutinitas akan menjadi tak lebih dari kegiatan rohani yang kering, sama sekali tak menyentuh esensi dari ibadat itu sendiri. Inti dari semua hukum Taurat hanya tercakup pada dua hal: mengasihi Allah sepenuhnya dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Itulah yang dikatakan Yesus, itulah yang dikehendaki Tuhan. Oleh karenanya, sungguh ironis jika kita, setelah mengikuti ibadah yang berapi-api dan emosional, keluar dari gedung kebaktian, melihat orang yang kondisinya memprihatinkan namun berlalu begitu saja.

Yesus adalah radikal, bahkan bagi para radikalis, dan kita juga wajib hidup sama seperti Yesus, satu-satunya Teladan, Tuhan, dan Juruselamat kita!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s