D A R A H

Insights

Hari Rabu (05/01) kemarin, kami sekantor dikejutkan dengan sebuah berita tentang salah seorang kolega yang sakit dan membutuhkan darah golongan A untuk pengobatannya.

Beberapa tahun yang lalu aku pernah hendak mendonorkan darahku untuk seorang teman, namun sayangnya waktu itu aku tidak lulus tes awal dan dinyatakan tidak boleh mendonorkan darah. Kalau tidak salah ingat, penyebabnya adalah tekanan darahku yang terlalu rendah.

Kembali ke kantor, ketika mendengar tentang berita itu, aku langsung berkata bahwa golongan darahku sama dengan yang dibutuhkan. Aku tidak tahu mengapa bisa dengan mudah terlontar kesediaanku untuk mendonorkan darah, padahal sekitar seminggu sebelumnya aku menolak ketika pak pendeta menawariku untuk mendonorkan darah di gereja. Lagipula, aku sama sekali tidak mengenal sang pasien. Satu-satunya hubungan kami mungkin hanyalah kesamaan lembaga tempat bernaung.

Hari itu, aku dan seorang teman kantor yang juga hendak mendonorkan darahnya menuju PMI DKI Jakarta di Jalan Kramat. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore ketika kami sampai di sana. Kupikir prosesnya tidak akan lama, akan tetapi perkiraanku salah, karena ternyata hari itu ramai sekali, sehingga hanya untuk proses pendaftaran dan pemeriksaan awal saja kami harus mengantri hingga lebih dari satu jam. Total waktu kami berada di situ sekitar tiga jam.

Sembari menunggu, kami berbincang-bincang. Ternyata temanku itu juga baru pertama kali mendonorkan darahnya dan pernah didiagnosa menderita darah rendah. Melihat antrean yang begitu banyak, aku sempat berharap gagal di pemeriksaan awal (periksa kekentalan darah). Akan tetapi, Tuhan berkehendak lain. Kami berdua dinyatakan lolos di tahap itu. Jadilah (dengan berat hati, karena perut mulai terasa lapar) aku menuju ruang tunggu berikutnya.

Proses berikutnya adalah pemeriksaan tekanan darah oleh dokter. Lagi-lagi aku berharap gagal di tahap ini, dan lagi-lagi Tuhan berkehendak sebaliknya. Padahal, kira-kira enam bulan berselang, aku pernah diperiksa oleh seorang teman yang menjadi dokter dan tekanan darahku tinggi sekali (maaf, aku lupa berapa tekanan darahku waktu itu).

Oh iya, di ruang tunggu itu aku mendapat kejutan yang indah, yakni bertemu dengan seorang teman lama! Ia ternyata pendonor tetap di situ, dan dari perbincangan kami yang hanya sekejap, ia bercerita bahwa karena di ruang pendaftaran ia bertemu dengan keluarga pasien yang membutuhkan darah yang ternyata sama dengan golongan darahnya, maka ia yang sedianya sekedar ingin mendonor rutin, mengalihkannya untuk orang yang ia temui tersebut, yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya! Tuhan sepertinya menyindirku waktu itu.

Setelah dinyatakan lolos di pemeriksaan tahap akhir, aku berpindah ke ruang tunggu yang berikutnya, sebelum dipanggil untuk pengambilan (bahasa PMI: penyadapan) darah. tiga perempat jam kemudian, barulah namaku dipanggil. Aku segera masuk ke dalam ruangan dan berbaring di tempat tidur yang disediakan. Seorang perawat mendatangiku dengan membawa kantong tempat darah. Rasanya agak sakit juga ketika jarum penghisap darah itu ditusukkan ke lengan kiriku. Sepertinya sang perawat kurang memberikan alkohol pada kapas yang dioleskan sebelum ditusuk jarum tadi.

Sambil menunggu darahku dipompa keluar, aku membalas beberapa pesan di telepon genggamku. Kebanyakan dari istriku, menanyakan jam berapa aku akan pulang. Pagi sebelum berangkat ke kantor, kami memang sudah punya kesepakatan untuk makan malam bersama. Setelah dirasa cukup, perawat mencabut jarum yang tertanam di lenganku. Lega rasanya, meski pegal dan nyeri masih sedikit tersisa (perhatian: ini hanyalah pengalaman pribadi dan mungkin tidak akan terjadi pada orang lain, jadi jangan takut untuk mendonorkan darah).

Setelah bangkit dari tempat tidur, aku menuju ruang pengambilan kartu donor. Aku menerima sebuah kartu donor, selembar kertas berwarna merah untuk keluarga pasien, kertas rangkap tiga untukku (dua diantaranya untuk mengambil minuman dan kudapan), dan lima butir multivitamin. Di ruang makan, aku mendapatkan sebuah susu kotak dan sepotong roti. Setelah berbincang sejenak sambil menghabiskannya, kamipun beranjak pulang.

Sepanjang perjalanan pulang, nyeri di lenganku itu tak mau hilang, bahkan makin terasa. Aku harus mengendarai motorku dengan ekstra hati-hati. Sesekali kutekuk tangan kiriku untuk mengurangi rasa nyeri itu. Namun, lagi-lagi Tuhan menyindirku. Ia langsung membuka ingatanku tentang kisah penderitaan-Nya untuk menanggung dosa-dosaku.

BagiNya, sebenarnya aku bukan siapa-siapa, bahkan cenderung seperti musuh oleh karena dosa-dosaku. Meski demikian, Ia rela menanggung penderitaan yang sedemikian hebat–jauh lebih hebat dari penderitaanku–demi seseorang yang bahkan seringkali menyakiti hati-Nya.

“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar–tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati–. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:6-8)

Ah, kiranya Tuhan mengampuni aku yang telah enggan dan berharap gagal tes darah dan kiranya darahku itu benar-benar bisa bermanfaat untuk kolega kantor kami yang sedang sakit itu! Amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s