Kompetisi Kain & Habel

Insights

Kain & Habel / examiner.com

Diceritakan bahwa Kain yang menjadi petani mempersembahkan sebagian hasil buminya kepada Tuhan. Kita tidak diberitahu, apakah persembahan itu wujud pengucapan syukur atau sekedar formalitas karena sudah sepantasnya Sang Pemberi Hidup beroleh “jatah” atas “jasa-jasa”-Nya dalam menyuburkan tanah, tentunya dengan harapan agar masa panen ke depan lebih diberkati lagi.

 

Tak lama, Habel sang adik yang mungkin melihat teladan Kain juga ikut memberikan persembahan berupa sebagian dari hasil ternaknya. Sebagaimana Kain, kita juga tidak diberikan informasi yang cukup mengenai motivasi Habel dalam memberikan persembahannya, apakah ia sekedar ikut-ikutan, formalitas, atau memang bersyukur atas pemberian Tuhan.

 

Meski sepintas kisah dua kakak beradik ini mirip, ada satu hal yang membedakan kualitas persembahan mereka. Penulis kisah ini memberikan penekanan bahwa Habel memberikan “yang sulung” dari hasil ternaknya. Frasa “yang sulung” ini tidak muncul dalam kisah persembahan Kain kepada Tuhan. Habel mungkin memang meneladani kakaknya dalam memberikan persembahan kepada Tuhan, namun sepertinya ia sedikit “memodifikasi” model persembahan Kain, yakni dengan memilah persembahannya.

 

Dikisahkan kemudian, bahwa Tuhan “menginspeksi” persembahan-persembahan yang dibawa Kain dan Habel. Hasilnya, sebagaimana diketahui dalam cerita itu, Tuhan hanya memperhatikan, alias menerima persembahan Habel daripada persembahan Kain. Kita juga tidak memiliki informasi yang jelas, apakah alasan Tuhan sehingga Ia hanya menerima persembahan Habel. Akan tetapi, frasa “yang sulung” sepertinya bisa menjadi alasan yang masuk akal mengapa Tuhan menerima persembahan Habel.

 

Sebenarnya, dalam kisah-kisah sebelumnya, Tuhan tidak mengisyaratkan kewajiban manusia untuk memberikan persembahan. Persembahan itu adalah murni inisiatif Kain, yang kemudian diteladani oleh Habel. Mungkin inilah bentuk ritual keagamaan yang pertama kali dilakukan manusia. Tak ada aturan, prinsip, atau batasan tentang persembahan kepada Tuhan. Kalau saya boleh katakan, “hanya” dengan mengerjakan dua mandat budaya yang diberikan Tuhan kepada mereka saja sudah merupakan wujud persembahan bagiNya.

 

Berhubung tidak/belum ada perintah atau aturan yang jelas dari Tuhan tentang persembahan itu, sudah barang tentu tidak ada konsekuensi logis yang mengikutinya (misal, jika persembahan diterima, maka akan mendapat berkat tambahan dari Tuhan, atau jika tidak diterima, maka tidak akan diberkati). Dengan demikian, pemberian persembahan (baca: ibadah) atau perbuatan-perbuatan baik lainnya yang ditujukan untuk menyenangkan hati Tuhan bukanlah sebuah perlombaan.

 

Meski demikian, Kain rupanya mencium, atau malahan, menciptakan aroma kompetisi. Dia merasa sebagai yang paling tua dan yang menjadi pionir dalam pemberian persembahan, namun justru “dikalahkan” oleh anak kemarin sore. Kain mendapat kompetitor baru: adiknya sendiri. Iri hati menyeruak masuk ke dalam hati Kain. Ia tak rela menjadi nomor dua. Ia ingin menjadi nomor satu, dan sebagai nomor dua, Kain–entah darimana–mendapat ide gila: menyingkirkan juara pertama.

 

Untuk mewujudkan idenya, Kain mengajak Habel, adiknya, pergi ke padang, ke tempat di mana hanya ada mereka berdua. Sesampainya di kesunyian itu, Kain yang sudah gelap mata melakukan kejahatan pertama sepanjang peradaban manusia: menyiksa dan membunuh sesamanya! Ada dua cara memenangkan kompetisi: berjuang lebih baik atau menyingkirkan kompetitor. Kain (sayangnya) memilih cara kedua.

 

Kain berpikir bahwa dengan menyingkirkan kompetitor, hanya persembahannyalah yang akan diperhatikan oleh Tuhan. Sepintas, logikanya memang demikian. Akan tetapi, tindakannya itu justru kontraproduktif dengan tujuannya. Tuhan justru murka dan mengusirnya dari hadapan-Nya. Seandainya ia memilih cara pertama, tentulah Tuhan takkan mengusirnya.

 

Dunia kita sepertinya mewarisi semangat kompetisi Kain. Kita tak rela jika orang lain lebih berhasil, meski memang dia layak mendapatkannya. Kita lebih memilih cara kedua, cara yang dipilih oleh Kain. Bukannya berusaha menjadi lebih baik, kita justru berusaha menyingkirkan pihak-pihak yang kita anggap kompetitor. Padahal, belum tentu mereka menginginkan kompetisi dengan kita. Dan, belum tentu juga kita akan berhasil tanpa kompetitor.

 

Sebenarnya, kompetisi itu tak pernah ada. Kompetisi itu ada di dalam hati dan pikiran kita. Kita semua ingin menjadi pemenang, tak seorangpun ingin menjadi pecundang. Sayangnya, kita terlanjur berparadigma bahwa kemenangan tak bisa dibagi. Sejak kecil kita diajarkan dikotomi menang-kalah. Kalau ada yang menang, maka sudah seharusnya ada juga yang kalah. Juara tiga kalah dengan juara satu dan dua, dan juara dua kalah dengan juara satu, meski ketiganya berpredikat “juara.”

 

Kain semestinya berbangga, karena bagaimanapun juga, “kesuksesan” Habel tak lepas dari mengikuti teladannya. Ia juga semestinya memandang kompetisi di dalam hatinya itu secara positif: berlomba menyenangkan hati Tuhan. Kain bisa saja bertanya kepada Tuhan, mengapa persembahannya tidak diperhatikan dan kriteria apa saja yang harus dipenuhi agar Tuhan menerima persembahannya. Saya percaya, Tuhan takkan enggan menjawabnya.

 

Suatu ketika, jika kita mendapati orang lain sukses dan hati kita menjadi sebal atau jengkel, berhati-hatilah, karena bisa jadi kita sedang tergoda untuk mengulang kompetisi Kain dan Habel!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s