Doa Adalah Sorga

Insights

“Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” (Rasul Petrus, 1 Pet. 4:7)

DOA. Tiap manusia dari kebudayaan manapun pasti mengenal konsep ini. Kata “doa” bisa dikatakan terdapat di perbendaharaan kosa kata tiap kebudayaan. Apakah yang dimaksud dengan “doa” itu? Kebanyakan orang ketika ditanya tentang arti doa akan menjawab bahwa doa adalah sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Namun sayangnya, dalam praktek doa itu sendiri, tidak sedikit yang masih salah kaprah dalam menjalankannya. Ada yang berdoa untuk memohon jodoh atau rejeki, ada pula yang berdoa untuk menjalankan perintah agama. Konsep-konsep doa yang seperti itu tidak sepenuhnya salah, namun juga tidak sepenuhnya benar. Bukankah doa adalah sebuah komunikasi? Jika demikian, sudah seharusnya dalam sebuah doa terjadi interaksi antara komunikator (orang pertama) dan komunikan (orang kedua).

Yang sering terjadi, doa hanya dipakai sebagai sarana untuk mendapatkan apa yang diinginkan, bukan untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang Maha Kuasa. Seringkali, sebelum Dia sempat menjawab doa, kita buru-buru menutup “gagang telepon” dengan kata “amin.”

Buru-buru. Tak dapat dipungkiri, kita hidup dalam masyarakat atau jaman yang serba terburu-buru. Semua serba instan sekarang, seperti ditampilkan dalam iklan sebuah sereal instan, bagaimana sebuah keluarga saking terburu-burunya berangkat ke kantor dan sekolah, tidak sempat lagi sarapan bersama. Sebagian kita pun mungkin terbawa budaya buru-buru ini ketika berdoa.

Berbeda dengan budaya dunia yang selalu terburu-buru tanpa tahu mau ke mana, Rasul Petrus memberikan nasehat yang sangat tepat untuk kita semua: “kuasai diri” dan “jadilah tenang” supaya kita bisa “berdoa”. Yang unik dari nasehat ini adalah, sementara kita seringkali menganggap doa sebagai sarana/media untuk mencapai tujuan kita, Rasul Petrus justru memandang doa sebagai tujuan itu sendiri.

Sorga, setiap orang ingin ke sana suatu hari nanti. Mengapa sorga begitu menarik? Karena di sana tidak ada lagi penderitaan, tidak ada lagi air mata selain air mata bahagia. Di sana, manusia akan bersatu kembali dengan Tuhannya. Nah, inti sari sorga adalah pada bertemunya manusia dengan Sang Pencipta. Sorga adalah hubungan yang intim dan berkesinambungan dan tak berkesudahan antara manusia dengan Tuhan.

Saya rasa itulah sebabnya Rasul Petrus menjadikan doa sebagai tujuan dalam kehidupan orang percaya. Bukankah doa adalah ajang bertemunya kita dengan Dia, yang telah menciptakan, mengasihi, dan menebus kita? Oleh sebab itulah, sudah semestinya kita mengejar waktu-waktu berdoa sebagaimana manusia mengejar sorga. Karena, jika di dalam doa kita bertemu dengannya, maka doa adalah sorga.

Selamat berdoa! ^_^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s