You are currently browsing the daily archive for Januari 24, 2012.
Kafir. Kita tentu pernah (atau sering?) mendapati kata ini. Pada umumnya, kata ini berarti orang yang berada “di luar iman.” Artinya, orang-orang kafir adalah orang-orang yang tidak memiliki “iman” yang sama dengan penyebutnya. Akan tetapi, bagaimana sesungguhnya pandangan iman Kristen terhadap orang-orang yang masih berada “di luar iman?”
Pernyataan iman yang paling mendasar dalam Kekristenan adalah keselamatan oleh iman dan iman oleh anugerah. Artinya, setiap orang akan diselamatkan oleh karena iman yang benar, dan iman yang benar itu hanya didapat oleh karena anugerah, bukan usaha manusia.
“Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu,” demikianlah pernyataan tegas Tuhan Yesus yang dicatat rasul Yohanes di dalam Yohanes 15:16. Rasul Paulus juga menulis hal yang senada, “Dan kami tahu, hai saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu” (1 Tes. 1:4).
Sekaya dan sesaleh apapun seseorang, ia mustahil memiliki hidup yang kekal bersama Bapa di surga, kecuali dia dipilih Tuhan untuk diselamatkan. Inilah ajaran mendasar yang diajarkan oleh Alkitab tentang keselamatan. Rasul Paulus menulis kepada jemaat Efesus, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (Ef. 2:8-9).
Pada kenyataannya, ada orang-orang yang memang sejak mudanya sudah dianugerahi iman kepada Allah yang benar ini, namun ada juga yang menjelang ajalnya baru percaya, seperti yang tercatat dalam Injil tentang penjahat yang sama-sama disalibkan dengan Yesus. Alkitab mencatat, mereka semua diselamatkan. Orang Kristen tak boleh “menghakimi” orang lain yang belum percaya sebagai calon penghuni neraka, melainkan wajib mendoakan agar Tuhan juga berkenan memilihnya.
Ada banyak kisah tentang orang-orang yang pada mulanya sangat memusuhi Kekristenan, namun kemudian berbalik menjadi pengabar Injil yang militan. Rasul Paulus adalah salah satu contohnya. Oleh karena itulah, orang-orang yang berada di “luar iman” Kristen tidak disebut sebagai “kafir,” melainkan orang yang “belum percaya” atau “belum diselamatkan.” Yesus sendiri sangat menentang penggunaan sebutan “kafir” ini: “…siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama…” (Mat. 5:22).
Dengan paradigma ini, setiap orang Kristen tidak memandang orang-orang yang berada di “luar iman” sebagai musuh (meskipun sebagian di antaranya menunjukkan sikap bermusuhan), melainkan sebagai “sesama manusia” yang wajib dikasihi. Kasih adalah juga ajaran yang sangat menonjol di dalam Kekristenan. Tak hanya kepada Allah dan sesama manusia, kasih seorang Kristen bahkan diperintahkan agar “mengembang” sampai kepada pihak-pihak yang memusuhinya. Lagipula, bukankah “musuh” itupun adalah “sesama manusia?”
