You are currently browsing the monthly archive for Februari, 2008.
Kita harus bertumbuh, dan pertumbuhan kita tentunya harus ke arah yang lebih baik. Kita harus progresif, bergerak maju. Akan tetapi bukan berarti kita harus melupakan masa lalu. Sesekali kita harus melihat spion untuk melihat apa yang ada di belakang kita, bukan? Pernahkah sebuah perusahaan otomotif memproduksi sebuah mobil yang kaca spionnya lebih besar daripada kaca depan? Itu artinya apa yang ada di depan harus menjadi perhatian utama. Demikian pula halnya dengan hidup kita. Kita harus mengarahkan pandangan kita pada apa yang ada di depan kita, lebih dari apa yang ada di belakang di masa lalu.
Ketika kita berkendara, kita tentunya tidak melihat spion setiap waktu kan? Kita hanya melihat melalui spion di saat-saat tertentu saja, seperti ketika hendak berbelok, mundur, atau menyeberang. Ada kalanya dalam hidup, kita perlu melihat sekilas ke belakang agar kita bisa memilih langkah terbaik di depan. Ketika kita menghadapi pilihan-pilihan yang sulit, ketika ada peristiwa besar yang kita hadapi, kita memang perlu untuk berhenti sejenak dan melihat ke belakang. Masa lalu kita adalah referensi yang terbaik untuk menentukan masa depan kita. Tapi hati-hati, jangan sampai kita terjebak pada masa lalu saja.
Ada seorang teman yang hidup dengan masa lalunya, menuduh masa lalunya yang kelam sebagai biang kerok atas sifat dan sikapnya yang sekarang ini. Tapi ini bukanlah sikap yang tepat, bukan sikap hidup progresif. Saya pernah juga terjun aktif dalam sebuah organisasi yang hidup dalam masa lalu. Meski generasi berganti, kekerasan tetap dipertahankan. Ada yang bilang sebagai wujud “balas dendam.” Akan tetapi itu semua tidak mencerminkan progresivitas. Semua orang dalam organisasi terjebak dalam stagnasi masa lalu, tidak ada yang berani maju membuat perubahan yang lebih baik.
Guys, jangan hidup di masa lalu. Hiduplah di masa kini, dan persiapkanlah hidupmu untuk masa depan. Jangan sering-sering melihat spion, nanti bisa tabrakan!
Semua yang hidup pasti bertumbuh, dan semua yang bertumbuh harus bertumbuh ke arah yang lebih baik. Itu yang dinamakan hidup yang progresif. Kita tidak bisa hanya menjalani hidup secara positif, tapi juga harus progresif.
Dulu kita mungkin hanya bisa naik sepeda mini, itu hal yang positif bukan? Tapi apakah kita cukup puas hanya dengan keahlian mengendarai sepeda mini? Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, pastilah keahlian kita bertambah. Sekarang mungkin kebanyakan kita sudah bisa mengendarai sepeda motor atau mobil.
Saya percaya bahwa kita semua harus hidup progresif. Kita harus bertumbuh, dan kita harus bertumbuh ke arah yang lebih baik.
Bertumbuh tidak selalu mudah dan mulus, namun juga bukan suatu hal yang mustahil dilakukan. Akan selalu ada tantangan untuk memiliki hidup yang progresif. Tantangan bisa muncul dari diri sendiri, teman, keluarga, ataupun dari hal yang lain.
Akan tetapi tak peduli sebesar apapun tantangan pertumbuhan yang kita hadapi, kita harus bertumbuh. Bahkan, kita justru harus memanfaatkan tiap tantangan pertumbuhan yang kita hadapi sebagai batu-batu loncatan yang akan membantu kita mencapai posisi yang lebih tinggi. Selain itu, kita harus meyakini bahwa tidak ada gunung yang terlalu tinggi untuk didaki, atau samudera yang terlalu luas untuk diarungi, atau laut yang terlalu dalam untuk diselami.
Kita harus yakin bahwa Tuhan sudah memperlengkapi kita dengan sumber daya yang cukup untuk menghadapi tiap tantangan yang datang. Kita harus mengimani bahwa Tuhan tidak akan memberikan kepada kita tantangan yang melampaui kemampuan kita.
Guys, sebesar apapun tantangan yang kita hadapi, selama kita mau memiliki hidup yang progresif, kita tidak akan menyerah. Bahkan kita akan menjadikan tantangan itu sebagai dorongan untuk maju. Hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat untuk dijalani dalam stagnasi ataupun penyesalan akan masa lalu yang buruk.
Tetaplah bertumbuh, dan bertumbuhlah ke arah yang lebih baik!
